Pengorbanan Terakhir Istri Kedua Sang CEO

Pengorbanan Terakhir Istri Kedua Sang CEO
PERDEBATAN ADITIA VS BARA


__ADS_3

Setelah selesai periksa, ternyata Farida positip hamil. Usia kandungan nya baru memasuki umur Empat minggu.


Aditia dan Farida nampak sangat bahagia.


"Sayang terimakasih ya, mas bahagia sekali," ucap Aditia sambil menciumi wajah istrinya bertubi-tubi.


"Ida juga bahagia sekali mas, semoga anak kita di sini sehat-sehat terus," kata Farida sambil mengusap-usap perutnya yang masih rata.


"Sekarang kita ke supermarket ya. Kita beli susu buay kamu dan calon bayi kita," ucap Aditia, dan di angguki oleh Farida.


Setelah itu, Aditia menancap gas mobilnya menuju supermarket terdekat.


Ia langsung menggandeng tangan istri kecilnya masuk kedalam supermarket itu.


Saat ia dan Farida sedang sibuk memilah-milih susu, tiba-tiba ada seseorang yang menarik tangan Aditia menjauh daru Farida.


"Mau apa kamu?" bentak Aditia saat sudah mrnjauh dari Farida.


"Siapa dia dit?" tanya Bara yang tangannya menujuk ke arah Farida yang sedang memilih merek susu yang ia rasa cocok.


"Istri ku! Kenapa?" ketus Aditia.


"Istri? Lantas Karina tahu?" tanya Bara.


"Kalian selingkuh di belakang ku saja, aku tidak kalian beri tahu! Jadi untuk apa dia mengetahui pernikahan ku!" lagi-lagi Aditia bicara ketus.


"Setidaknya beritahu dia, dia merasa kehilangan mu dit. Kalian sudah tidak seperti dulu, Aku tahu sebenarnya dia mencintai mu. Itu terbukti dengan alasannya setiap kali aku mengajaknya menikah," kata Bara.


"Maaf Bara, jika kau memang mencintai Karina. Berjuanglah! Aku tidak akan menjadi penggangu kebahagian kalian. Lagi pula rasa yang ada di hati ku untuk Karina sudah habis terkikis dan tak lagi bersisa. Dan itu semua karena kau, kau dan Karina lah penyebab terkikisnya rasa itu. Kini aku sudah mendapat kebahagian bersama Farida, istri ku yang benar-benar mencintai ku dan aku cintai!" Aditia menatap dalam wajah pria yang pernah menjadi sahabatnya itu.


"Jadi kau ingin bahagia di atas penderitaan Karina?" Bara berbicara dengan menatap tajam pada Aditia yang juga menatap nya.


"Jika aku bahagia di atas penderitaan Karina! Lalu bagaimana kalian yang berbahagia di atas penderitaan ku selama lima tahun terakhir!" Ucapan Aditia berhasil membungkam mulut Bara.


Bara terdiam sambil menundukkan kepalanya.


"Maaf," Hanya satu kata itu yang mampu terucap dari bibirnya.


"Sayang, ngapain di situ?" Farida memanggil Aditia dengan setengah berteriak.

__ADS_1


"Bahagian kan saja Karina, dan ingat! Jangan pernah ikut campur dengan urusan ku!" Setelah berkata demikian, Aditia pergi meninggalkan Bara.


"Kamu ngapain di sana? Dan siapa lawan kamu bicara mas? Kok kayaknya serius banget!" tanya Farida, karena ia sempat melihat suaminya adu mulut dengan seseorang.


"Oh, itu! Anu sayang, kemarin waktu aku pulang dari kantor gak sengaja mobil ku nyerempet dia. Terus dia marah-marah dan minta ganti rugi," kilah Aditia.


"Oo, tapi masalahnya udah selesai?" tanya Farida.


"Udah, mas udah kasih sisa ganti rugi yang kemarin." timbal Aditia.


Ia bernafas lega, karena istrinya tidak curiga. "Maafkan mas sayang, mas belum berani cerita semuanya sama kamu! Tapi mas janji setelah trimester pertama kehamilan kamu, mas akan bawa kamu pulang kerumah utama," ucap Aditia dalam hati.


"Ayo, kamu mau pilih apa lagi?" tanya Aditia pada istrinya.


"Kayaknya udah deh mas, aku udah beli banyak bahan makanan," ucap Farida sambil menujukan troli belanjaannya.


"Ya udah, mas selesaian ini dulu setelah itu kita pulang," kata Aditia sambil mendorong troli belanjaan menuju kasir.


Setelah membayar belanjaan istrinya, mereka berdua pun segera pulang.


"Sayang, setelah trimester pertama, mas akan bawa kamu pulang ke rumah utama. Mas harap kamu akan menerima dan memaafkan mas setelah mengetahui semuanya," ucap Aditia tiba-tiba.


"Semuanya apa mas? Apa ada yang mas sembunyiin dari Ida?" tanya Farida heran, ia merasa janggal mendengar semua perkataan suaminya.


"Mas, Ida percaya semua yang terjadi adalah takdir tuhan. Ida akan mencoba menerima semua yag terjadi," kata Farida sambil tersenyum lembut kepada suaminya.


Dengan gemas Aditia mengelus pipi Farida dengan sebelah tangannya.


"Mas harap, kamu bakal benar-benar terima sayang, maaf kan yang sudah membohongimu," bukan Aditia dalam hati.


***


Di kediaman utama Aditia.


Karina menatap kosong dari jendela kamarnya.


Ia memikirkan kenapa beberapa bulan terakhir ini Aditia tidak pernah pulang, bahkan mengirim uang saja hanya dikirimkan melalui rekening.


"Kenapa sebenarnya aku? Dab di mana kamu Aditia?" tanya Karina pada dirinya sendiri.

__ADS_1


POV Karina.


Dulu saat-saat kami baru menikah, Aditia bersikap manis terhadap ku. Tapi tidak dengan ku, aku selalu berbuat semau ku, pergi sore dan pulang subuh. Itu yang selalu aku lakukan setiap malam. Menghabiskan waktu ku bersama Bara, sahabat Aditia sendiri. Bahkan, mahkota berharga ku pun aku serahkan pada Bara lebih dulu, hingga kini aku pun masih mejalin hubungan terlarang itu dengan Bara.


"*Ayo dong, di makan. Nanti kamu sakit," ucap Aditia pada ku, saat aku tidak mau makan.


"Aku gak lapar, kamu bisa enggak sih! Gak usah gangguin aku terus, aku capek setiap hari selalu kamu ganggu! Kamu ingat ya Aditia, kita menikah karena terpaksa. Jadi jangan harap aku bakal nerima kamu jadi suami aku," ketus ku.


Aku selalu bersikap kasar padanya, walaupun seperti itu. Ia selalu sabar menghadapi sikap ku yang sangat keterlaluan.


Saat aku berkata, "Pernikahan kita karena terpaksa"


Ia selalu menjawab, "Tidak ada yang instan di dunia ini, cinta pun tidak datang begitu saja. Semua butuh proses, aku akan berjuang untuk mencintaimu dan juga membuatmu jatuh cinta kepada ku. Dab saat aku menjauh dari mu nanti, itu pertanda bahwa aku sudah lelah memperjuangkan mu*,"


Itu lah yang selalu ia ucapkan, dan benar adanya. Setahun ini ia mulai menjauh, menjauh dari ku. Dan aku tahu, bahwa dia sudah sangat lelah. Tapi mengapa? Mengapa tuhan menghadirkan rasa ini! Rasa cinta ku untuknya disaat dia sudah menjauh dari ku.


Aku akan memperjuangkan cinta ku, tidak peduli dengan apa pun yang akan menghalangi ku. Aku akan menyingkirkan segala sesuatu yang merintangi jalan ku untuk mendapatkan Aditia.


Tak terasa, jatuh sudah air mata ku kala mengingat masa-masa di mana Aditia begitu perduli dan perhatian terhadap ku.


POV END.


Kring kring..!


Karina tersadar dari lamunannya. Dengan segera ia meraih ponselnya yang berdering, dan melihat nama yang tertera di layar ponselnya.


"Bara, huhh,,! Aku pikir Aditai yang menghubungi ku," gumannya sambil mengangkat sambungan telpon itu.


"Hallo Bara," ucap Karina saat panggilan itu terhubung.


".. ,, .. ,, .."


"Benarkah?" Tanya nya tidak percaya.


".. ,, .. ,,"


"Tidak, tidak mungkin," ucap Karina sambil menangis.


***Bersambung..!!

__ADS_1


Happy reading😘😘😘


Minta jejak nya ya, like coment dan kasih othor dukungan seihkalsnya🤗***


__ADS_2