Pengorbanan Terakhir Istri Kedua Sang CEO

Pengorbanan Terakhir Istri Kedua Sang CEO
BERSUA


__ADS_3

Tak terasa hari sudah menjelang sore, dan jenazah Bara sudah selesai di kebumikan.


"Den, ayo pulang. Biarkan den Bara pergi dengan tenang," kata mbok Yuyun sambil merengkuh tubuh Aditia yang masih memeluk nisan Bara.


"Kenapa Bara pergi secepat ini Mbok? Kenapa?" Tanya Aditia pada mbok Yuyun di tengah tangisnya.


"Takdir jodoh dan kematian sudah di gariskan oleh tuhan, dan hari ini janji den Bara sudah tiba," kata mbok Yuyun. "Ayo, sekarang kita pulang. Hari sudah hampir magrib." sambung mbok Yuyun.


Dengan berat hati Aditia meninggalkan pemakaman umum itu. Ia berjalan lunglai di belakang mbok Yuyun.


***


"Kenapa perasaan Ida gak tenang ya, nek?"


"Shalat nduk, shalat bisa membuat hati manusia yang gundah menjadi tenang," kata nek Ijah kepada Farida yang terlihat sangat gelisah.


"Iya, nek. Ida ambil air wudhu dulu ya," ucap Farida lalu berjalan perlahan menuju kamar mandi yang terletak di ujung dapur rumah itu.


Setelah mengambil air wudhu, Farida segera melaksanan kewajibannya sebagai umat muslim. Yaitu menjalankan ibadah shalat magrib.


Setelah melaksanan shalat magrib tersebut, ia menengadahkan kedua tangannya dan memanjakan do'a kepada sang pencipta.


"Ya allah ya tuhan ku, lindungi lah keluarga ku, orang-orang yang ada di sekelilingku. Sehatkan lah aku dan kandungan ku, dan juga suami ku di manapun ia berada. Ya allah, sesungguh nya semua yang telah terjadi adalah kehendak mu, hamba hanya manusia biasa yang tak luput dari dosa. Jika hamba boleh meminta, tolong persatukanlah keluarga ku, amin amin ya robal alamin,"


Keesokan hari nya. Farida memulai pekerjaannya seperti biasa, yaitu membuat kue untuk di jual keliling.


Pagi itu, saat ia dan nek Ijah sedang asik membuat kue di dapur. Tiba-tiba pintu rumah itu ada yang mengetuk.


Tok tok tok..


"Nduk, ada yang mengetuk pintu. Nenek kedepan sebentar ya," kata Nek Ijah saat mendengar pintu rumah iti terus di ketuk dan semakin keras terdengar di telinga.


"Biar Ida saja nek, nenek duduk saja di sini. Sambil menunggu kuenya matang," ucap Farida sambil berjalan menuju ruang tamu.


"Hati-hati, jangan terburu-buru!" Nek Ijah meneriaki Farida yang berjalan tergesa-gesa.


Sampai lah Farida di dekat pintu rumah itu, ia segera membuka pintu itu.


"Sia-" ucapan Farida terhenti kala melihat sosok pria yang berada di depan pintu rumah tua itu.

__ADS_1


"Sayang," lirih Aditia dan segera memeluk erat tubuh sang istri yang ia rindukan.


"Mas Adit, kenapa mas bisa sampai di sini?" tanya Farida dengan mata berkaca-kaca. Tangannya terasa kaku untuk membalas dekapan suaminya.


"Bara yang memberitahu ku sebelum dia meninggal," kata Aditia.


"Apa!?" pekik Farida. "Kak Bara gak mungkin meninggal mas, kemarin kak Bara habis dari sini jenguk aku," Farida tak percaya sama sekali dengan apa yang ia dengar.


Bahkan nek Ijah yang berada di dapur segera berlari tergesa-gesa karena mendengar suara tangisan Farida.


"Farida, kamu kenapa? Siapa yang datang?" tanya nek Ijah sambil keluar dari rumah itu.


Nek Ijah tak kalah terkejutnya dengan Farida. Pasalnya baru pertama kali ini ia melihat sosok Aditia dengan nyata.


"Dia suami kamu, nduk?" tanya nek Ijah.


Farida menganguk lemah, ia tak kuasa menahan tangis. Bibirnya pun menjadi kelu untuk berbicara.


"Nek, tolong ambilkan istri ku segelas air dingin," pinta Aditia.


Dengan segera nek Ijah menuju dapur dan mengambilkan air dingin untuk Farida.


"Sayang, kita duduk ya," kata Aditia sambil menuntun dang istri menuju kursi yang ada di teras rumah itu.


Setelah meminum air tersebut, akhirnya Farida pun mulai berbicara.


"Mas, kak Bara gak mungkin meninggal," lirih Farida.


"Tidak ada yang tidak mungkin bagi tuhan, sayang. Mas juga tadinya gak percaya dan gk rela," ucap Aditia sambil mengelus rambut sang istri. "Apalagi setelah mas tahu, dia kecelakaan karena mencoba melindungi kamu dari kejahatan Karina," jelas Aditia.


Mata Farida terbelalak saat mendengar penyebab kematian Bara.


"Maksud mas?" tanya Farida.


"Ya, sehabis Bara menemui kamu. Bara langsung pulang ke rumahnya, tapi saat dia sampai ternyata ada Karina yang menunggunya." Aditia pun menceritakan semua yang ia tahu kepada Farida.


Farida menjadi semakin terisak setelah mengetahui semuanya.


"Lalu di mana mbak Karina sekarang?" tanya Farida.

__ADS_1


"Dia di rumah sakit, tapi untuk keadaannya bagaimana? Mas gak tahu, mas suruh Zee yang mengurusnya." jelas Aditia.


"Nduk, suami mu sudah datang. Dan sekarang, ikutlah suami mu pulang," kata nek Ijah yang tiba-tiba angkat bicara.


Farida mengangguk, dan di balas senyuman oleh nek Ijah.


Aditia segera membantu nek Ijah mengemasi barang-barang istrinya.


"Bagaimana dengan semua peralatan ini, nduk?" tanya nek Ijah sambil menunjukan peralatan dan perabotan yang sudah di beli oleh Farida.


"Semua kan buat nenek, sekarang nenek sudah bisa membuat kue. Jadi nenek bisa melanjutkan usaha kita," kata Farida.


"Tapi Nduk," kata nek Ijah dan langsung di potong oleh Farida.


"Gak ada tapi-tapian nek, semua untuk nenek. Agar nenek tidak kesulitan lagi," ucap Farida.


Tak terasa, hari semakin siang. Farida pun segera berpamitan kepada nek Ijah, sebelum ia dan Aditia pergi. Farida menitipkan sebuah kotak kecil yang di bungkus seperti kado, Farida pun meminta nek Ijah memberikan kotak itu kepada Agus, saat pulang bekerja nanti.


"Ida pamit ya, nek. Lain kali Ida pasti akan kemari lagi," kata Farida sambil memeluk erat tubuh renta nek Ijah.


"Nenek menyayangi mu, nduk. Terimakasih sudah membuat hidup nenek dan Agus menjadi lebih baik," balas nek Ijah.


"Terimakasih sudah mau menjaga istri Adit ya, nek. Adit dan Farida pamit," ucap Aditia setelah istrinya melepaskan pelukan nya pada nek Ijah.


Setelah berpamitan, Aditia menuntun istrinya berjalan dengan perlahan menelusuri gang sempit komplek itu.


Saat sampai di depan mobil, Farida menghentikan langkahnya.


"Kenapa sayang?" tanya Aditia.


"Kita ke makam kak Bara dulu ya mas." pinta Farida.


"Iya," Aditia segera membuka pintu mobilnya.


Saat di perjalanan. "Kamu sehat kan selama ini?" tanya Aditia "Gimana bayi kita? Apa dia rewel?"


"Ida dan bayi kita sehat kok mas, alhamdulilah tuhan masih menyayangi dan selalu melindungi." timbal Farida. "Maafin Ida yang pergi tanpa pamit, Ida fikir dengan kepergian Ida, keadaan akan membaik," sambung Farida.


"Baik menurut kamu, belum tentu baik buat orang lain," kata Aditia. Tangan kirinya mengelus perut sang istri.

__ADS_1


***BERSAMBUNG..!


AWAS BANYAK TYPO🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️***


__ADS_2