Pengorbanan Terakhir Istri Kedua Sang CEO

Pengorbanan Terakhir Istri Kedua Sang CEO
KACAUNYA ADITIA


__ADS_3

Nek Ijah dan Farida sedang menikmati makan siang mereka.


"Nek, emang nya Agus gak pulang kalau siang hari?" tanya Farida setelah mengunyah suapan terakhirnya.


"Kadang pulang, kadang tidak." timbal nek Ijah.


"O, gitu! Oiya nek, nanti kita ke toko yang di maksud sama Agus tadi pagi ya," kata Farida.


"Kamu mau beli apa lagi?" tanya nek Ijah. Karena dati yang ia lihat, belanjaan yang di beli Farida sudah sangat banyak.


"Beli oven nek, sama alat-alat untuk membuat kue lainnya!" sahut Farida.


"Nanti uang mu habis, gimana?" tanya nek Ijah. "Gak lama lagi, kamu bakal memerlukan banyak uang untuk biaya lahiran," sambungnya.


"Wes, nenek tenang aja! Doain supaya usaha yang kita buat lancar," kata Farida.


Setelah istritahat sejenak, mereka berdua pergi lagi. Mereka menuju toko perabotan rumah tangga yang tidak jauh dari komplek tempat tinggal mereka.


"Nduk, gak usah beli ini!" Nek Ijah mencegah Farida yang hendak membeli magic com.


"Nek, ini gak terlalu berharga. Tapi penting untuk kita, Ida gak mau, nenek terus-terusan makan nasi yang sudah dingin," ucap Farida. "Lagian, tuhan bakal kasih kita rezeki yang lain," sambungnya.


"Yo wes lah, terserah mu, nduk!"


***


"Cepat cari! Jangan kembali jika tidak ketemu!" Aditia berteriak pada anak buah dan juga asistennya.


"Siap tuan!" timbal semua anak buah Aditia serempak.


Setelah itu, anak buah Aditia pun segera membubarkan diri.


"Tuan, sebaiknya anda makan dulu," kata Asisten Zee.


"Aku tidak lapar, Zee! Aku hanya ingin istri ku!" timbal Aditia.


Penampilannya acak-acakan, wajahnya kusut dan sikapnya kasar kepada semua orang.


"Jika Tuan sakit, bagaimana tuan bisa mencari nona Farida," jelas Zee.


Aditia nampak berfikir, beberapa detik kemudian. Ia mengambil alih piring makanan yang ada di tangan Asisten Zee.


"Biar ku makan sendiri," ucap Aditia.


Zee sangat iba dengan keadaan bos nya itu, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa.


Baru saja Zee menyunggingkan senyumannya. Namun beberapa menit kemudian, ia menjadi terkejut karena Aditia melemparkan piring yang di pegangnya itu.


"Farida,,!" teriak Aditia frustasi.


"Tuan, sabarlah! Berdoa kepada tuhan, semoga istri tuan cepat kembali," kata Zee sambil memegang bahu Aditia.

__ADS_1


"Zee, kemana istri dan anak ku," lirih Aditia.


"Hahaaha," Aditia tertawa nyaring. "Zee, aku harus pulang! Dia pasti ada di rumah," ucap Aditia.


Zee tersenyum kecut, keadaan tuannya sangat-sangat memprihatinkan. Kadang menangis, kadang tertawa dan kadang mengamuk tidak jelas.


Zee selalu mengikuti kemana arah Aditia. Ia takut, tuan nya itu akan berbuat gegabah yang bisa membahayakan nyawa tuan nya sendiri.


Zee ikut Aditia pulang ke kediaman Aditia.


Setengah jam menempuh perjalanan, mobil Aditia sampai di depan rumah mewah itu.


Aditai memasuki rumah itu, di ikuti oleh Asisten Zee.


"Ya allah, den! Kenapa seperti ini?" tanya mbok Yuyun.


"Apa Farida sudah kembali, mbok?" bukannya menjawab, Aditia malah balik bertanya.


"Belum, den!" sahut mbok Yuyun dengan wajah sedih.


"Mbok bercanda, Farida ada di kamar," kata Aditia, setelah itu, ia meninggalkan mbok Yuyun dan pergi ke lantai atas.


Ia memasuki kamar nya, dan memanggil-manggil nama Farida.


"Farida,,! Sayang,,!" namun tak ada sahutan.


Aditia kembali menangis dan mengamuk, fikiran nya benar-benar kacau. Otaknya tak bisa berfikir jernih, yang ada di fikirannya hanya Farida Farida dan Farida.


Mbok Yuyun dan asisten Zee segera berlari ke kamar Aditia.


"Den, sadar! Jangan seperti ini," mbok Yuyun mendekat dan memeluk tubuh Aditia yang terkulai lemas.


"Semua ini salah Aditia, mbok. Aditia sudah membohongi dia," ucap Aditia.


"Tuan, saya berjanji akan mencari dan menemukan nona Farida," kata Asisten Zee.


Beberapa hari kemudian.


Karina yang baru pulang dari berbelanja, tertawa riang saat melihat mobil Aditia terparkir di depan rumah megah itu. Jika mobil nya ada, berarti Aditia ada di rumah.


Dengan perlahan, Karina melangkah masuk kedalam rumah. Ia mengedarkan pandangan nya ke seluruh ruangan, namun ia tak melihat sosok yang ingin ia lihat.


"Ah, mungkin dia di lantai atas," guman Karina.


Ia pun segera menuju lantai atas, sebelum menemui Aditia. Ia lebih dulu masuk kedalam kamarnya untuk meletakan semua barang belanjaannya.


Setelah itu, ia keluar kamar dan menuju kamar sebelah. Tepatnya kamar milik Aditia dan Farida.


"Sayang," Karina memeluk tubuh Aditia yang sedang berdiri di depan lemari pakaian Farida.


"Mau apa kamu!" bentak Aditia, ia tidak menghiraukan Karina yang tengah memeluk tubuhnya.

__ADS_1


"Emm, aku turut prihatin ya. Atas pergi nya Farida," ucap Karina "Aku yakin, suatu saat dia pasti kembali dan akan menyesal udah ninggalin kamu," sambungnya.


"Kamu gak usah pura-pura baik dan perduli, Aku yakin! Farida pergi karena ancaman kamu," kata Aditia. Tubuhnya masih tegap seperti semula, ia sama sekali tidak perduli dengan Karina.


"Kamu kenapa sih? Gak bisa perduli sama aku sedikit aja," ucap Karina, ia meyandarkan kepalanya di punggung Aditia.


Aditia tidak menggubris semua ucapan Karina. Hingga akhirnya, Aditia merasa semakin risih akibat ulah Karina yang tangannya menggerayangi tubuhnya.


Ia segera membalikan tubuh Karina, dan kini Karina berada di hadapannya.


Aditia menyunggingkan senyumannya, hal itu membuat Karina senang bukan kepalang.


"Aditia, emm! Aa-ku," ucap Karina salah tingkah.


"Kamu mau apa? Mau ini kan?" Aditia membelai wajah Karina dengan lembut.


Karina menganguk, dan memejamkan matanya saat jari telunjuk Aditia menyentuh bibirnya.


Lama Karina terpejam, merasakan lembutnya belaian jemari Aditia di bagian wajahnya.


"Akkhhhh, Aditia!" pekik Karina.


"Ini kan yang kamu mau!" geram Aditia.


"Kamu gila, kamu gila! Aditia!" Pekik Karina dengan suara tertahan.


"Ya,,! Aku memang gila! Aku gila! Dan sekarang, kamu harus mati," kata Aditia, tangannya seakan terkunci di leher Karina.


"Lepas, lepas! Aditia," ucap Karina. "To-tolong," sambungnya.


"Astaufiraullah hal'adzim, den! Jangan den, ini dosa. Den Adit bisa di penjara!"


Mbok Yuyun yang hendak mengantarkan makanan untuk Aditia, menjadi sangat terkejut.


"To-tolong, mbok," ucap Karina dengan suara tertahan.


"Biar dia mati, mbok! Kalau dia mati, Farida dan anak ku pasti akan kembali," kata Aditia yang terbakar emosi.


"Jangan, den. Kalau dia mati, Nduk Farida pasti akan takut dan juga membenci Aden," kata mbok Yuyun.


Mbok Yuyun sungguh takut dengan kenekatan Tuan nya itu.


Beberapa hari selepas kepergian Farida, Aditia berubah drastis. Sikapnya berubah-ubah seperti bunglon, kadang baik dan lembut, kadang menjadi pendiam, dan kadang juga marah-marah tidak jelas bahkan tidak segan-segan melakukan kekerasan seperti yang di lakukan nya kepada Karina saat ini.


Mendengar perkataan mbok Yuyun, Aditia melepaskan tangannya dari leher Karina.


Karina terbatuk-batuk setelah tangan Aditia terlepas.


"Pergi! Pergi kalian semua!" teriak Aditia pada mbok Yuyun dan juga Karina. "Aku muak melihat kalian!" sambungnya.


Karina dan mbok Yuyun segera pergi dari kamar itu.

__ADS_1


__ADS_2