
Dua hari kemudian.
Karina tampak bahagia tanpa kehadiran Farida di rumah milik Aditia itu. Ia fikir, Farida yang tidak pulang ke rumah karena sakit parah paska kejadian hari itu.
Ia ongkang-ongkang kaki di rumah, bahkan ia menyuruh mbok Yuyun ini dan itu. Namun bukan mbok Yuyun namanya jika tidak membantah.
"Mbok,," panggil Karina.
"Haiss, mau apa lagi?" tanya mbok Yuyun dengan wajah kesal.
"Bikinin saya jus mangga dong!" perintah Karina.
"Ya udah, tunggu sebentar," kata mbok Yuyun sambil berjalan meninggalkan Karina yang sedang duduk di kursi santai di pinggir kolam renang rumah itu.
"Hemm, mbok kerjain aja tu perempuan belok!" mbok Yuyun berniat ingin mengisengi Karina.
Ia masuk kedalam dapur, dan mengambil dua buat wortel. Lalu memotongnya kecil-kecil, setelah itu mbok Yuyun memblender wortel tersebut.
Beberapa menit kemudian, jus wortel buatan mbok Yuyun jadi. Wanita paruh baya itu segera menuangkan jus itu kedalam gelas panjang.
Dan ia segera memberikan jus itu pada Karina yang sedang bersantai.
"Ini jus nya, nyonya ratu!" Mbok Yuyun menyerahkan jus itu pada Karina.
"Kok warna nya kayak gini, mbok?" tanya Karina setelah menerima gelas itu.
"Memang nya mau seperti apa?" bukannya menjawab, mbok Yuyun malah balik bertanya.
Mendengar ucapan mbok Yuyun, Karina langsung saja meminum jus itu.
Matanya menyipit setelah meneguk isi dari gelas tersebut.
Setelah beberapa menit kemudian.
"Mbok, kok kasih saya jus wortel sih!" protes Karina.
"Wortel itu sehat untuk mata, mencegah rabun! Dan bagus untuk di konsumsi!" jelas mbok Yuyun.
"Maksud mbok?" tanya Karina "Mata saya rabun gitu!" sambung nya sambil melototi mbok Yuyun yang ada di hadapannya.
"Mbok gak bilang kalau mata non, rabun ya! Non sendiri loh yang bilang!" sahut mbok Yuyun cepat. "Mbok cuman bilang, WORTEL SEHAT UNTUK MATA, MENCEGAH RABUN! DAN BAGUS UNTUK DI KONSUMSI!" mbok Yuyun mengulangi ucapannya dan di perjelas.
__ADS_1
"Mbok,,! Berani ya sama saya!" geram Karina, ia ingin melayangkan tangannya pada mbok Yuyun. Namun aksinya di hentikan oleh suara bel rumah tersebut.
"Ehh, ada tamu!" kata mbok Yuyun lalu berlenggok pergi meninggalkan Karina yang sedang emosi dan kesal tingkat kuntilanak.
Ya,,! Mbok Yuyun memang selalu melawan pada Karina, apalagi semenjak ia mengetahui perselingkuhan Karina dan Bara. Ia tidak pernah menuruti perintah dari Karina lagi.
Ia tidak pernah takut dengan ancaman Karina, walaupun Karina berulang kali mengancam akan memecatnya, namun mbok tidak pernah takut sedikitpun. Karena ia bukan bekerja pada Karina, melainkan pada Aditia.
Dulu sebelum mama Aditia meninggal karena penyakit gagak ginjal yang di derita oleh mama Aditia.
Beliau sempat menitipkan Aditia kepada mbok Yuyun.
Mbok Yuyun pun mengiyakan permintaan dari mama Aditia. Karena memang sejak muda, mbok Yuyun memang sudah bekerja pada keluarga Amzari, bahkan untuk menyekolahkan anak-anak di kampung pun keluarga Amzari lah yang membiayai.
Mbok Yuyun berjalan ke pintu utama, dan segera membuka pintu itu.
Ia bersorak gembira saat melihat siapa yang ada du depan pintu rumah itu.
"Ya allah! Akhirnya non Ida sama den Adit pulang juga, mbok kangen sekali. Dua hari tanpa non Ida, serasa setahun mbok tunggu!" Mbok Yuyun memeluk tubuh Aditia dan Farida bersamaan.
Aditia dan Farida tersenyum dan menerima pelukan itu.
Beberapa menit kemudian, mbok Yuyun melepaskan pelukan itu. Wanita paruh baya itu sibuk melihat Farida dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Farida terkekeh pelan. "Ida dan calon bayi nya baik-baik aja kok mbok!" sahut Farida dengan senyuman, walaupun wajahnya masih terlihat pucat namun senyuman tak luntur-luntur dari wajah manisnya.
"Mbok, harus jagain istri Adit habis ini! Dia gak boleh ngapa-ngapain lagi, kata dokter. Dia harus istirahat total," jelas Aditia pada mbok Yuyun.
"Siap bos,!" mbok Yuyun mengakat satu tangannya ke kepada. Ia pun memberi hormat pada Aditia seperti anak buah kepada komandannya.
Mereka bertiga pun memasuki rumah megah itu, dengan sabaran Aditia menuntun istrinya. Namun saat mereka sampai du ruang tengah. Karina datang menghampiri.
"Farida, kamu udah pulang?" tanya nya pada Farida dengan wajah bahagia.
Padahal di dalam hatinya mendongkol. "Ku kira dia mati! Ehh ternyata balik lagi kesini! Perutnya masih buncit lagi," omel Karina dalam hati.
"Iya mbak, alhamdulilah! Bayi Ida baik-baik aja," kata Farida dengan senyum tulus.
"Syukurlah, aku turut bahagia," kata Karina "Oiya, apa kata dokter?" tanya Karina berbasa-basi.
"Kata dokter, Ida harus istirahat yang cukup!" jelas Farida.
__ADS_1
"Udah ngomongnya, sekarang kita naik ke atas. Kamu harus banyak-banyak istirahat," kata Aditia pada Farida, sejujurnya ia malas melihat melihat wajah Karina yang memuakan.
"Aku bantu ya!" Karina berniat ingin membantu, dan mencari muka di hadapan Aditia.
"Gak usah! Aku bisa sendiri!" sergah Aditia cepat.
"Mas,,!" Farida menatap wajah kesal suaminya.
"Huhhh," Aditia menghela nafas dengan kasar. Ia pun membiarkan Karina membantu Farida.
Flashback on.
Saat masih berada du rumah sakit.
"Mas, Ida mau bicara serius sebelum kita pulang ke rumah," kata Farida sambil mengunyah nasi dengan kuah sup yang di suapan Aditia.
"Mau ngomong apa?" tanya Aditia.
"Ida mau mas bersikap baik sama mbak Karina," kata Farida "Ida gak mau, mas kasar sama perempuan!" imbuhnya.
"Mas gak bisa kalau untuk itu!" timbal Aditia sambil mengaduk-aduk makanan istrinya.
"Ida mohon mas, dia juga istri mas. Mas cuman perlu mencoba, Ida yakin mas bisa," ucap Farida sambil menyentuh pipi suaminya dengan lembut. "Kalau mas memang cinta sama Ida dan anak kita, Mas pasti mau ngelakuin itu semua," sambungnya.
"Mas akan coba, tapi mas gak janji!" Aditia berkata demikian, namun ia tidak ingin memandang wajah istrinya. Ia berucap dengan memandang ke sembarang arah.
"Ida cinta sama mas," kata Farida.
"Mas juga cinta sama kamu, apa pun akan mas lakukan untuk kamu dan anak kita," kata Aditia, ia pun meletakan mangkuk makanan istrinya. Setelah itu, ia memeluk tubuh istrinya lalu menciumi pucuk kepala istrinya bertubi-tubi.
Flashback off.
Karina pun membantu Aditia memapah Farida menuju kamar, setelah sampai di kamar. Aditia pun ikut berbaring du sisi kiri istrinya. Hingga membuat Karina tidak memiliki kesempatan untuk berbicara banyak pada Farida.
"Farida harus banyak istirahat," kata Aditia sambil melihat wajah Karina.
"Emm, apa aku gak boleh nemenin dia," kata Karina sambil menatap wajah Aditia dengan takut-takut.
"Udah ada aku disini!" sahut Aditia. "Lagian, aku juga mau tidur, Aku capek," kata Aditia mengusir Karina dengan halus.
"Ya udah deh!" Karina menekuk wajahnya. "Nanti kalo kamu butuh apa-apa, panggil aku atau mbok Yuyun ya," sambung Karina, kini ia berbicara pada Farida yang hanya menjadi pendengar ucapan suaminya dan juga kakak madunya itu.
__ADS_1
"Iya mbak, makasih ya!" timbal Farida dengan tersenyum.