Pengorbanan Terakhir Istri Kedua Sang CEO

Pengorbanan Terakhir Istri Kedua Sang CEO
CINTA JADI BENCI (Karina vs Bara)


__ADS_3

"Berani kamu menyentuh istri ku! Maka akan ku pastikan hidup kamu hancur sehancur hancurnya," geram Aditia.


"Terserah, aku gak perduli! Kalau aku hancur dia harus hancur juga," ucap Karina setelah itu, Karina berlari ke kamarnya.


Di dalam kamar, ia langsung menghubungi Bara. Ia bermaksud ingin membuang kesedihannya pada Bara.


Berkali-kali ia menghubungi nomer Bara, namun tidak ada jawaban.


Karina menjadi semakin kesal. "Kurang ajar! Semua lelaki sama!" teriak nya sambil melempar ponselnya ke tembok kamar itu.


"Aku harus membunuh wanita itu! Iya, aku harus membunuhnya," ucap Karina pada dirinya sendiri.


"Besok aku akan mencari," Iblis telah menguasai hati Karina, entah apa yang bisa menyadarkannya.


Sedangkan di lantai bawah, Aditia sedang bersiap untuk pergi ke apartemen yang dulu ia tempati bersama Farida. Padahal niatnya pulang ke rumah utama untuk beristirahat, namun niat itu di urungkan oleh pertikaian nya dengan Karina.


"Jam 11 malam, jalanan sudah sepi. Jadi aku bisa cepat sampai," ucap nya sambil membuka pintu mobilnya.


Ia memasuki mobilnya, dan segera berangkat menuju apartemen.


Dua puluh menit kemudian, ia sampai di depan apartemen itu. Dengan cepat ia masuk, karena lelah ia pun segera menuju kamar dan beristirahat.


***


Keesokan harinya.


Bara sudah bersiap, rencananya hari ini. Ia ingin mengunjungi Farida. Ia sudah tahu tempat tinggal Farida, setelah mengetahui Farida yang tinggal di perkampungan salak, ia sering mengawasi Farida diam-diam tanpa di ketahui.


"Hm, aku harus membelikan Farida buah-buahan," ucap Bara "Jadi aku harus ke supermarket terlebih dahulu," sambungnya.


Sebelum ia berangkat, ia mengecek ponselnya terlebih dahulu. "Karina! Mau apa dia menghubungi ku semalam," ucapnya saat melihat berpuluh-puluh panggilan dari Karina.


Tidak ada niat untuk menghubungi atau mengirim pesan kepada Karina, langsung saja Bara memasukan ponsel itu kesaku celana nya.


Setelah itu, ia segera berangkat ke supermarket. Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, jadi agak lama sampai di supermarket.


Sampai di supermarket, ia segera membeli berbagai macam buahan dan juga biskuit untuk buah tangannya mengunjungi Farida.


.. .. ..


"Farida, kamu dan bayi mu sehat kan?" tanya Bara.


"Ida sehat!" timbal Farida "Untuk apa kak Bara kemari?" tanya Farida kemudian.


"Hanya untuk memastikan keadaan mu dan bayi yang kau kandung," kata Bara.


"Ida dan juga bayi yang Ida kandung, baik-baik saja. Jadi kak Bara tidak usah khawatir." timbal Farida sambil mengelus perut buncitnya, kini kandungannya sudah delapan bulan dan memasuki usia kesembilan.


"Farida!" panggil Bara.

__ADS_1


"Iya, kenapa?"


"Sebaiknya kau pulang, kasian Aditia," ucap Bara.


"Kakak kasian pada mas Adit, atau karena ingin mbak Karina kembali pada kakak?" tanya Farida sambil menatap serius.


"Haha," Bara tertawa kecil. "Aku kasian pada suami mu! Bukan ingin Karina kembali pada ku, aku sadar bahwa Karina tidak pernah mencintai aku, aku hanyalah pria yang menjadi teman sepi nya," ucap Bara.


Farida menatap lekat mata Bara, Di lihat nya, mata itu menggambarkan perasaan Bara saat ini.


"Kak Bara yang sabar, jika mbak Karina jodoh kakak. Suatu saat ia akan kakak miliki," kata Farida sambil menggenggam tangan Bara.


"Terimakasih, Farida! Kamu memang wanita terhebat, jarang sekali ada wanita sepertimu di dunia ini," ucap Bara.


Ia merasa tenang dan damai bersama Farida, wajah teduh wanita muda itu mampu menyejukan hatinya yang telah patah.


"Farida, mungkin ini adalah hati terakhir kita bertemu," ucap Bara tiba-tiba.


"Kenapa seperti itu? Kita baru saja dekat?" tanya Farida, ia merasa ada yang aneh dengan ucapan Bara.


"Aku akan pergi jauh, dan tidak akan kembali," ucap Bara sambil menatap lurus. "Aku memiliki dua permintaan dengan mu, ku harap kau mau mengabulkannya." sambung Bara.


"Permintaan apa?" tanya Farida dengan serius.


"Pertama, mau kah kau menjadi adik ku?" tanya Bara.


"Hmm, yang kedua! Kembalilah bersama Aditia," Bara mengucapkan permintaan keduanya.


"Kalau yang kedua, Ida belum siap untuk kembali," lirih Farida.


"Terimakasih sudah mau menjadi adik, ku," ucap Bara. "Tolong kabulkan juga permintaan kedua ku, jangan lama-lama," sambung Bara.


"Ida akan fikirkan,kak." timbal Farida.


"Udah siang, kakak pamit dulu ya," pamit Bara, kini ia menyebut dirinya kakak pada Farida.


Farida mengangguk.


"Jaga diri mu baik-baik, kakak menyayangi mu, adik kecil ku," ucap Bara sambil tersenyum sangat manis menurut autor.


Farida membalas senyuman itu, "Hati-hati," kata Farida.


Setelah itu, Bara berjalan pergi meninggalkan kediaman nek Ijah.


Bara langsung kembali kerumahnya, saat sampai di depan rumahnya. Ternyata ada Karina yang sedang berdiri sambil bersandar di depan pintu.


"Dari mana?" tanya Karina pada Bara yang baru turun dari mobilnya.


"Dari menemui Farida," ucap Bara keceplosan.

__ADS_1


"Apa?" pekik Karina.


"Ah, tidak! Aku dari supermarket, berbelanja," ucap Bara kemudian. Ia langsung memainkan ponselnya untuk mengalihkan perhatian Karina soal Farida.


"Jangan bohong, aku tahu kamu bohong!" Karina menunjuk wajah Bara. "Dimana wanita itu tinggal?" tanya Karina kemudian.


"Aku gak tahu! Aku tadi salah bicara," kilah Bara.


"Cepet jawab yang jujur! Aku paham sama kamu, dan aku tahu kalau sekarang kamu lagi bohong!" sentak Karina.


"Kalau aku habis ketemu sama Farida, emang nya kenapa?" bentak Bara "Farida sekarang ada di kampung salak, aku akan pastikan kamu gak bisa nyentuh atau ngelukain dia sedikitpun!" sambung Bara dengan suara yang semakin meninggi.


Karina cukup terkejut, lantaran Bara berbicara kasar dan lebih membela Farida dari pada dirinya. "Kamu bentak aku?!" pekik Karina.


"Iya." timbal Bara. "Kamu siapa? Siapa! seenaknya ngatur hidup ku, ini lah itu lah!" teriak Bara. Ia kesal, sangat kesal dengan Karina yang semakin seenaknya.


"Kamu itu hanya seorang gi**lo pemuas nafsu nya Karina! Gak lebih, dan selain itu, kamu gak berguna sama sekali, gak berguna!" teriak Karina tak kalah keras dan nyaring dari suara Bara.


Plak,,! Bara menampar wajah Karina dengan sangat keras.


"Ma ma-af," ucap Bara.


"Kamu keterlaluan!" bentak Karina. Karina berlari ke arah mobilnya dan memasuki mobil itu.


Dengan cepat Bara mengejar langkah Karina dan ikut memasuki mobil milik Karina.


"Keluar!" teriak Karina mengusir Bara.


"Gak akan! Aku akan ikut kemana pun kamu pergi! Aku takut kamu akan pergi mencari dan melukai Farida!" Bara sudah bulat dengan tekatnya, ia akan melindungi Farida dari Karina.


"Lelaki sialan!" umpat Karina.


"Wanita iblis!" timbal Bara.


"Lelaki tidak berguna!" maki Karina lagi.


"Wanita jalang!" balas Bara.


Kini pertengkaran antara Bara dan Karina semakin panas, cinta yang ada di hati Bara untuk Karina seakan hilang tertutup emosi dan kebencian.


Sudah cukup! Selama ini Bara berbuat kesalahan yang menimbulkan luka dan kebencian di hati orang lain.


Kini ia ingin menebus satu kesalahan nya dengan membela dan melindungi Farida dari kejahatan Karina.


Karena kesal, Karina melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Membelah jalan Raya yang cukup padat pengendara. Tujuan hanya satu, yaitu menuju kampung Salak.


"Aku tidak akan membiarkan kamu menemui, Farida," ucap Bara.


"Hm, kita lihat saja nanti! Aku akan membunuh wanita itu," kata Karina.

__ADS_1


__ADS_2