Pengorbanan Terakhir Istri Kedua Sang CEO

Pengorbanan Terakhir Istri Kedua Sang CEO
PENJELASAN ADITIA


__ADS_3

"Kalo gitu, Ida bakal mencoba bertahan mbok," kata Farida sambil mengusap sisa bulir air matanya.


Mbok Yuyun tersenyum hangat kepada Farida. Dan setelah itu, mbok Yuyun pamit pergi kebelakang dengan membawa keranjang sayuran yang memang saat melihat Farida berlari dari dalam rumah, keranjang sayuran itu memang di bawa mbok Yuyun dan ternyata mbok Yuyun baru pulang dari pasar.


"Mbok ke belakang dulu ya, mendingan nduk kembali dan masuk kedalam," ucap Mbok Yuyun.


Farida mengaguk, dan sebelum ia kembali ke dalam rumah itu. Ia termenung sejenak. "Tuhan, apakah ini adalah bagian dari takdir ku? Kenapa kau berikan aku jodoh pria yang sudah beristri seperti mas Adit?" Farida mendoangkan wajahnya pada langit mendung siang itu.


"Sayang," panggil orang dari arah belakang, dan ternyata orang itu adalah Aditia. "Boleh mas duduk di sini?" Aditia menujuk kursi di sisi kanan Farida yang kosong.


Farida tidak menjawab ucapan suaminya, jujur saja hatinya sangat sakit. Hampir dua tahun ia dan Aditia saling kenal bahkan saling berhubungan hingga akhirnya memutuskan untuk menikah.


Namun ia sama sekali tidak tahu tentang suaminya. Farida kah yang bodoh? Atau memang Aditia yang sangat pintar menutupi semuanya?


Yang jelas, selama Aditia menikah dengan Farida, Aditia tidak pernah sekalipun melakukan hal yang mencurigakan, seperti sering keluar malam bahkan pulang telat dari kantor. Hanya saja, mungkin setiap sebulan sekali, ia akan pamit untuk menemui mbok nya. Yang ternyata mbok yang di maksud Aditia adalah mbok Yuyun.


Aditia yang melihat raut kekecewaan di wajah istrinya, langsung bersimpuh dan menenggelamkan kepalanya di pangkuan Farida.


Tubuhnya bergetar hebat, menandakan ia sedang tidak baik-baik saja.


"Mas mas Farida, kamu boleh hukum mas apa saja! Asal jangan tinggalkan mas. Mas gak bisa hidup tanpa kamu dan anak kita," Aditia menangis di pangkuan istrinya.


"Ida kecewa sama mas Adit, mas udah bohongin Ida," kata Farida "Tapi Ida gak bisa nyalahin mas semata-semata. Karena ini juga salah Ida, dan mungkin juga tuhan sengaja kasih takdir seperti ini buat Ida," sambung Farida dengan isak tangisnya.


"Mas bener-bener minta maaf sayang, mas gak bermaksud kayak gini! Mas lakuin semua ini karena mas takut, kalo mas bilang punya istri sebelum kita menikah. Kamu bakal jauhin mas," ucap Aditia.


"Ida harus gimana sekarang mas? Ida adalah perempuan yang paling jahat, karena udah rebut suami orang," kata Farida. Tanpa di minta tangan Farida membelai rambut suami yang berada di pahanya itu dengan lembut.


Lama mereka berada di taman samping rumah itu, kini Aditia menuntun Farida kembali dan memasuki rumah megah itu.


"Sekarang kita masuk ya, mas gak mau kamu dan bayi kita kenapa-kenapa." Aditia merangkul istrinya yang nampak sangat lelah.


Farida hanya mengaguk lemah. Setelah itu ia dan Aditia memasuki rumah itu.

__ADS_1


Karina yang sedang duduk santai di sofa ruang ramu itu terkejut saat mendengar teriakan Aditia.


"Kang Jo," teriak Aditia memanggil kang Joko, salah seorang pembantu di sana.


Kang Joko dan mbok Yuyun pun ikut terkejut, pasalnya sudah belasan tahun mereka bekerja dengan Aditia. Apa lagi mbok Yun, ia bahkan sudah bekerja dengan keluarga Amzari sebelum Aditia di lahirkan.


"Aduh, ada apa ya mbok? Kok den Adit berteriak seperti itu," kata kang Joko dengan wajah takut.


"Gak tahu! Sana cepet kamu kedepan, nanti dia marah," Mbok Yuyun menyuruh kang Joko untuk cepat mendekati Aditia.


"Kang Joko,,!" teriak Aditia sekali lagi.


Kang Joko berlari terpogoh-pogoh dari arah dapur.


"Ada apa den?" tanya kang Joko saat sampai di ruang tamu.


"Tolong bawakan koper ini ke kamar urutan pertama dari lantai atas," ucap Aditia memerintah kang Joko.


"Iya den," sebelum kang Joko membawa koper itu, ia mengelus dadanya dan bernafas lega.


"Ini semua gak bisa aku biarin," Karina mengepalkan tangannya.


Setelah itu, Karina memilih pergi keluar rumah.


Di dalam kamar Aditia dan Farida.


"Ini kamar kita, mungkin gak se nyaman saat kamu di apartemen, karena di sini banyak terdengar keramaian. Kalo di apartemen kan. Kita mau ngapain juga gak ada yang ganggu." Aditia menuntun istrinya ke ranjang dan menyuruh Farida beristirahat.


"Mas," panggil Farida.


"Kenapa sayang?" tanya Aditia sambil menggenggam jemari istrinya itu.


"Apa selama ini hubungan mas dan mbak Karina gak pernah baik?" tanya Farida sambil menatap wajah suaminya.

__ADS_1


"Gak pernah, dulu mas selalu bersikap manis dan selalu mencoba untuk mencintai dia. Tapi dia selalu bersikap buruk dan semaunya, perlahan cinta mas untuk dia mulai tumbuh namun di saat rasa itu mulai menguat kenyataan pahit mas terima. Ternyata sering bermain di belakang mas, bahkan selingkuhan nya adalah sahabat mas sendiri. Bahkan mereka sering bermain kuda-kudaan di ranjang tidur mas." jelas Aditia sejujur-jujurnya. Farida menatap dalam manik mata suaminya, mencoba mencari setitik kebohongan. Dalam waktu yang cukup lama ia menatap manik mata itu, namun ia hanya menemukan bongkahan kejujuran di sana.


"Apa Ida mengenal sahabat yang mas maksud? Apa temen mas yang ketemu saat mas beli siomay buat Ida?" tanya Farida.


"Bukan sayang, kalo dia orang baik. Dia teman lama mas, namanya Rakanda Wiryawan dia juga sudah hampir dua tahun menikah tapi belum di kasih tuhan momongan," kata Aditia. "Besok mas undang dia sama istrinya ke sini, biar kenalan sama kamu!" sambung Aditia.


"Lalu orang yang mas maksud siapa?" tanya Farida.


"Kamu ingat sama orang yang di supermarket! Yang mas bilang minta ganti rugi," kata Aditia. Farida nampak memutar otaknya dan berfikir.


"Oo, Ida ingat! Laki-laki tinggi dan tampan itu kan!" kata Farida sambil mengacungkan jari telunjuknya.


"Tampan tampan!" sungut Aditia.


"Tapi masih tampan mas kok," kata Farida.


Aditia tersenyum, "Ya udah! Kamu istirahat, mas mau ke kamar sebelah. Mau ambil laptop, banyak kerjaan yang harus mas kerjakan," kata Aditia.


Farida mengaguk, dan setelah Aditia pergi. Ia kembali menangis, ia masih tidak habis fikir dengan keadaan seperti ini.


***


Di jalanan yang cukup sepi, sebuah mobil avanza berhenti di pinggiran jalan itu. Pengemudi mobil nampak berdiam diri di dalamnya.


Dan ternyata pemilik mobil itu adalah Karina.


"Sialan!" Karina memukul-mukul setir mobilnya untuk meluapkan emosi yang sudah berada di ubun-ubun.


"Aku harus nemuin Bara, iya Bara! Cuman dia yang ngertiin aku," ucapnya, lalu ia menancap gas mobilnya menuju kantor Bara.


***Bersambung..!!


Happy reading😘😘

__ADS_1


Kasih jejak ya, dan kasih othor dukungan seikhlasnya🤗🤗🤗***


__ADS_2