Pengorbanan Terakhir Istri Kedua Sang CEO

Pengorbanan Terakhir Istri Kedua Sang CEO
SIAPAKAH PRIA ITU!


__ADS_3

Farida berjualan dengan sangat bersemangat. Beberapa hari pertama, jualan kue dan lauk pauk yang ia buat hanya laku sedikit. Namun dengan bergantinya waktu, kini pembeli kue dan masakannya menjadi banyak.


"Farida, kue dan masakan kamu enak! Anak dan suami saya suka," ucap seorang wanita yang ber profesi sebagai guru. "Saya jadi tidak repot buat masak lagi, saat suami saya pulang dari kantor. Semua sudah tersedia di meja makan, itu semua berkat kamu," sambung wanita itu.


Bagaimana ia tidak senang, karena profesi nya sebagai guru dan juga guru les. Membuat ia tidak sempat memasak dan melayani kebutuhan anaknya. Namun setelah beberapa hari terakhir ini, hidup wanita itu menjadi gampang karena Farida yang menjual lauk pauk di daerah itu.


"Syukur alhamdulilah kalau anak dan suaminya ,mbak suka," kata Farida seraya tersenyum manis.


Orang-orang tidak tahu, bahwa di balik senyuman itu tersimpan sejuta luka.


"Besok sore, saya pesan lagi ya! Tapi menunya di ganti, saya pesen sambal balado tongkol dan sayur capcay, terus sama sambal kemangi," ucap wanita itu "Kamu bisa kan! Buat sambal kemangi?" tanya Wanita itu.


"Bisa, mbak! Bisa!" sahut Farida dengan cepat.


Setelah itu, Farida pamit pulang. Karena hari sudah semakin sore.


Sesampainya di halaman rumah nek Ijah, Farida melihat tiga orang bertubuh kekar dengan pakaian serba hitam dan kaca mata yang juga hitam, menutupi mata ke tiga pria itu.


Farida ingin mendekat, namun beruntung nek Ijah melihat nya. Nek Ijah pun memberikan kode kepada Farida untuk bersembunyi.


Farida mengerti, ia segera berjalan mundur dan bersembunyi.


"Sungguh, nenek tidak mengenal wanita ini!" nek Ijah menunjuk foto wanita yang du berikan ketiga pria bertubuh kekar itu.


"Tolong! Kalau nenek melihatnya, segera hubungi kami," ucap salah seorang dari pria itu. "Tuan kami sangat mengkhawatirkan istri dan calon anaknya," sambungnya.


Ada rasa kasihan di hati nek Ijah kepada suami dari wanita yang ada di foto, yang tak lain adalah Farida.


"Nek, kenapa nenek bengong?" pria yang lain mebepuk pelan pundak nek Ijah.


"Ehh, iya! Maaf, nenek ingat sama cucu nenek yang belum pulang dari batik taxi," kata nek Ijah sambil memegangi dadanya. Ia sedikit kaget dengan tepukan di pundak nya tadi.


"Ya sudah, kami pamit ya, Nek! Tolong kalau lihat, segera hubungi kami! Ini nomernya," ucap salah satu dari pria itu lagi, sambil memberikan secarik kertas yang berisikan nomer telpon.


Setelah ketiga pria berbadan kekar itu pergi, Farida keluar dari persembunyian nya.


"Mereka siapa, Nek?" tanya Farida setelah ketiga pria itu sudah tak nampak.


"Mereka orang-orang suruhan suami, Kamu!" jelas nek Ijah. "Kasian suami kamu, pasti dia sangat khawatir!" sambung nek Ijah.


"Hmm, biarlah nek! Seiring berjalannya waktu, dia pasti akan menerima mbak Karina lagi dan melupakan Farida," ucap Farida dengan lirih.


"Ya sudah lah, ayo kita masuk! Sudah sore, dan kamu belum mandi," kata nek Ijah. Ingin rasanya nek Ijah menasehati Farida, namun ia tidak ingin membuat Farida kembali menangis saat ini.

__ADS_1


***


"Kami sudah berkeliling kota ini, Bos! Bahkan desa-desa terpencil," kata anak buah Aditia.


"Istri ku tidak mungkin pergi jauh! Dia tidak pernah pergi kemana-mana dan tidak mengenal dunia luar," jelas Aditia.


"Tapi buktinya, sudah hampir dua minggu kami mencarinya, namun dia tidak juga ketemu, Bos!" sahut salah satu anak buah Aditia.


"Cari lagi! Cari dengan teliti!" perintah Aditia.


"Baik, Bos! Kami akan berusaha lebih keras lagi, dan semoga saja, Nona muda cepat kami temukan,"


Setekah itu, Seluruh anak buah Aditia segera pergi meninggakkan Aditia seorang diri di dalam ruangan kerja Aditia itu.


Aditia memijat pelipis nya dengan jarinya, Dua minggu terpisah dengan sang istri. Membuat emosi nya naik turun. Tubunya nampak kurus, penampilannya pun terlihat acak-acakan.


***


Keesokan harinya.


Farida berjalan kaki, membawa keranjang kuenya. Ia hendak menitipkan kuenya ke toko yang berada agak jauh dari perkomplekan tempat tinggalnya saat ini.


Dengan santai, ia berjalan di atas trotoar. Namun tiba-tiba, sebuah tangan kekar menariknya menjauh dari trotoar itu.


Namun pria itu tak menghiraukan ucapan Farida.


Dengan paksa, Pria itu membawa Farida masuk ke dalam mobilnya.


Setelah membawa Farida masuk, ia mengunci pintu mobil itu.


"Mau apa kamu?" tanya Farida.


"Kenapa kamu pergi? Kenapa kamu ninggalin Aditia?" tanya pria itu dengan sorot mata penuh amarah. Pria itu adalah Bara.


Farida menunduk, ia tidak berani menatap pria yang sedang berbicara kepadanya.


"Jawab!" bentak Bara "Apa Karina yang nyuruh kamu pergi?" tanya nya kemudian.


"Enggak, mbak Karina gak nyuruh aku pergi! Semua ini gak ada sangkut pautnya sama mbak Karina," kata Farida berbohong.


"Hahahaha," tawa Bara menggema, terdengar mengerikan di telinga Farida.


"Kamu gak pandai berbohong," kata Bara kemudian.

__ADS_1


"Aaa-aku gak bohong," timbal Farida dengan cepat namun tergagap.


"Benarkah?" tanya Bara sambil mengejek.


"Iya!" timbalnya.


"Hmm, Farida, Farida! Kamu cantik, baik namun lemah! Hati mu lemah!" Bara merubah posisi duduknya, kini ia menghadap pada Farida yang duduk di sampingnya.


"Keputusan yang kamu anggap baik dan benar! Belum tentu baik dan benar untuk orang lain," ucap Bara. Kini suara Bara pelan dan lembut.


Tubuh Farida bergetar! Ia sudah tidak sanggup lagi berpura-pura kuat dan tegar.


"Lalu! Ida bisa apa selain pergi?" tanya Farida, lolos sudah air mata yang sudah menganak sungai sejak tadi.


"Kamu fikir! Dengan kamu pergi, Aditia akan menerima Karina?" tanya Bara dan langsung di angguki oleh Farida. "Kamu salah! Aditia tidak akan kembali lagi pada Karina, kini Aditia hancur! Hancur sehancur hancurnya setelah kepergian kamu," jelas Bara.


"Ida gak punya maksud kayak gitu! Ida ngelakuin ini semua untuk kebaikan mas Adit dan mbak Karina," kata Farida.


"Untuk kebagian mereka, untuk Karina! Lalu kamu sendiri bagaimana?" tanya Bara. Sungguh ia tidak habis fikir dengan wanita kecil yang ada di hadapannya.


"Ida bahagia kalau mereka bahagia!" timbal Farida.


"Hahaha, kamu lucu!" Bara tertawa renyah. "Ayo, sekarang ku antar pulang ke kediaman Adit! Di mana tempat kamu yang sesungguhnya," ucap Bara sambil memakaikan sabuk pengaman pada tubuh Farida.


"Jangan, Ida belum bisa pulang! Ida gak bisa," kata Farida menolak.


"Anak yang kamu kandung, butuh bapaknya!" tegas Bara.


Farida menajamkan matanya, ia bingung harus bagaimana saat ini. Ia tidak ingin pulang ke kediaman suaminya, bukan tidak ingin! Namun ia pasti akan mendapat pertanyaan-pertanyaan dari suaminya.


Dan jika ia menjawab dengan jujur, suaminya pasti akan semakin membenci Karina.


"Tolong Ida, kak! Ida gak mau pulang kesana!" Farida memelas dengan deraian air mata.


Bara terus melakukan mobilnya, sesekali ia melirik pada Farida yang memohon-mohon padanya.


Dua puluh menit kemudian, Mobil Bara berhenti di depan bangunan gedung yang nenjulang tinggi.


"Turun!" perintah Bara.


Dengan takut, Farida turun dari mobil itu.


"Kenapa kita kesini?" tanya Farida kebingungan.

__ADS_1


Awas!! Banyak typo🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️


__ADS_2