
Tak terasa, ia telah sampai di depan rumah mewah.
Yaitu rumah mewah miliknya.
Masih dengan wajah berseri-seri ia memasuki rumah itu.
"Dari mana kamu?" tiba-tiba seorang wanita mengejutkannya.
"Tumben, jam segini kamu ada di rumah?" bukannya menjawab, Aditia malah balik bertanya.
"Aku capek, makanya aku pulang," kata wanita itu "Oiya, kamu bawa makanan gak?" sambung Wanita itu.
"Enggak, aku udah makan di luar tadi." timbal Aditia dingin.
"Tumben, gak biasa-biasanya kamu makan di luar," kata Wanita itu keheranan.
"Kalau kamu belum makan, mending kamu masak atau pesen kek," ucap Aditia "Aku mau ke atas dulu, mau mandi," sambung nya.
Aditia meninggalkan wanita yang berdiri tak jauh dari pintu utama rumah itu.
"Aneh, kenapa wajah nya sesenang itu. Apa mungkin dia udah dapet perempuan yang bisa mengisi hatinya," guman wanita itu yang bernama Karina dan bersetatus sebagai istri Aditia sejak 6 tahun terakhir.
"Syukurlah kalau begitu, jadi aku gak ngerasa bersalah lagi dengan hubungan ku dan Bara," kata Karina lalu pergi menuyusul Aditia di kamar.
Karina duduk di tepian Ranjang, menunggu Aditia keluar dari kamar mandi.
Sepuluh menit kemudian, pintu kamar mandi itu terbuka.
"Kayak nya kamu lagi seneng banget ya dit!" Karina mengejutkan Aditia yang keluar dari kamar mandi dengan tubuh bugar dan mulutnya yang bersiul-siul.
"Maksud kamu apa?" tanya Aditia sambil menatap lekat wajah Karina.
"Aku jarang lo liat kamu sesenang ini," kata Karina "Habis menang lotre ya?" tanya nya.
"Bukan urusan mu!" ketus Aditia, lalu berjalan menuju lemari pakaiannya.
"Dit, malam ini aku mau jalan sama Bara," kata Karina tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya.
"Terserah, kenapa izin? Biasa nya kamu datang dan pergi sesuka hati kamu," kata Aditia dengan wajah dinginnya.
"Kok sekarang kamu berani sih ngejawab aku?" teriak Karina.
__ADS_1
"Terus mau kamu gimana?" tanya Aditia dengan Santai nya, namun masih dengan expresi dingin.
"Kamu!" tunjuk Karina.
"Kamu apa Karina?" bentak Aditia. "Selama ini aku selalu sabar loh ngadepin kamu. Kamu selingkuh di belakang ku, bahkan sama sahabat ku sendiri terlebih lagi kamu ngelakuin hubungan intim sama dia di rumah ini, di kamar ini! Kamar kita!" Aditia mengeluarkan apa yang selama ini ia pendam.
Karina terkejut mendengar perkataan Aditia. "Aditia tahu! Sejak kapan?" batin Karina bertanya-tanya.
"Kenapa kamu diam! Apa kurangnya aku? Apa?" Aditia mendekati Karina yang diam mematung. "Aku tahu kamu gak pernah mencintai aku, kamu gak pernah mau di jodohkan sama aku. Asal kamu tahu Karina, dulu aku juga gak mau di jodohin sama kamu, tapi karena mama ku dan mama mu yang memintanya dan memohon, aku setuju dan aku terima. Lama kelamaan aku bisa nerima dan mencintai kamu, tapi kamu! Sedikitpun kamu gak pernah mikirin perasaan aku kayak apa? Dan akhirnya aku tahu, kamu dan Bara menjalin hubungan secara diam-diam di belakang ku, dan mulai saat itu lah rasa cinta ini terkikis perlahan dan lama kelamaan habis. Aku juga manusia Karina, manusia." Aditia tak dapat lagi menahan emosinya.
"Dan sekarang aku tanya ke kamu! Mau kamu apa? Cerai? Oke aku bakalan ceraiin kamu," kata Aditia, lalu berjalan keluar. Dengan kasar ia membanting pintu kamar itu.
Setelah kepergian Aditia.
"Apakah aku keterlaluan? Apakah semua ini salah ku? Dan apakah salah jika aku ingin bahagia?" tanya Karina pada dirinya sendiri.
Tiba-tiba, ponsel yang ia genggam bergetar.
"Hallo sayang, ayo! Katanya mau keluar," ucap pria di sebrang telpon yang tak lain adalah Bara kekasih gelap Karina dan sekaligus sahabat Aditia.
"Kayak nya gak jadi deh yang, Aditia udah tahu semuanya," jelas Karina.
"Apa?" pekik Bara.
"Dari mana dia tahu?" tanya Bara.
"Dia bukan orang bodoh, Bara. Mungkin dia diam selama ini karena dia gak mau ribut," kata Karina.
"Iya juga ya, ya udah kamu istirahat aja. Besok kita jalan-jalan buat nebus malam ini," kata Bara lalu mematikan sambungan telpon.
Di kamar yang lain di dalam rumah itu.
Aditia menyandarkan kepalanya di sandaran ranjang, berulang kali ia mengusap wajahnya dengan gusar.
Menghadapi Karina sangat lah menyulitkan dan menguras emosi.
Fikiran nya melayang kepada sosok Farida.
"Gadis manis, kenapa bisa menarik perhatian ku," gumannya.
Sejenak ia melupakan kelu kesahnya.
__ADS_1
"Ponsel, besok aku akan membelikan mu ponsel. Agar aku bisa melihat wajah mu walaupun hanya melalui sambungan video," kata Aditia, lalu ia segera memejamkan matanya.
***
"Ida, kamu belum tidur?" tanya Lasmi, saudara panti Farida yang terbangun dari tidurnya.
"Ehh, Las," kata Farida sambil menolehkan kepalanya ke arah Lasmi. "Aku gak ngantuk, kenapa ya Las. Mukanya om-om tadi siang gak mau hilang dari otak ku," sambungnya.
"Hmm, jadi itu yang gak bisa bikin kamu tidur!" ledek Lasmi "Kayak nya kamu suka sama dia pandangan pertama," kata Lasmi lagi.
"Huss! Kamu ini, mana mungkin aku suka sama dia. Dia itu kayaknya orang kaya dan gak selevel sama kita, hidup aja di tampung ama panti," ucap Farida sambil menopang dagu.
"Jodoh kan siapa tahu Da," kata Lasmi.
"Iya juga sih! Lagian aku baru kenal dia kemarin, itu pun secara gak sengaja," ucap Farida.
"Udah, gak usah di pikirin. Mending kita tidur sekarang, besok kita kan harus kerja," kata Lasmi mengajak Farida untuk segera tidur.
Farida mengaguk, dan ikut merebahkan tubuhnya di atas kasur yang di bentangkan di lantai.
Dan Ia terlelap hingga pagi.
Pagi itu, Aditia bangun dari tidurnya. Ia segera menuju kamar lalu pergi ke kamar mandi.
Ia segera memulai ritual mandi paginya.
Sepuluh menit kemudian, ia keluar dari kamar mandi dan segera menuju lemari pakaian.
Sedangkan Karina, jangan di tanya. Ia masih bergelung selimut di ranjang kamar itu, karena itulah kebiasannya setiap pagi.
Ia akan bangun setelah Aditia pergi kekantor.
Dengan cepat, Aditia menuruni anak tangga. Ia sudah tidak sabar untuk mengerjakan pekerjaan kantornya, setelah itu ia akan pergi ke panti untuk menemui Farida.
Karina sebenarnya sudah bangun, hanya saja ia enggan untuk berbicara pada Aditia, ia takut Aditia akan berbicara kasar seperti semalam.
Saat Aditia menuruni anak tangga, ia beranjak dari ranjang dan memperhatikan wajah Aditia yang nampak sangat ceria pagi itu.
"Mau kemana dia? Ke kantor, tapi kenapa se bahagia itu," Karina bertanya-tanya dalam hati. "Ah, masa bodo! Kenapa aku harus perduli! Kan seharusnya aku senang karena sebentar lagi aku akan bebas kemanapun bersama dengan Bara." sambungnya.
***Bersambung..!!
__ADS_1
Jangan lupa like dan coment ya, serta tambah ke daftar fav kalian, agar othor jadi semangat dan bisa up tipa hariπππ***