
Farida memeluk tubuh Aditia, lalu menduselkan wajahnya di dada bidang sang suami.
Aditia nembelai pucuk kepala Farida "Maafkan aku sayang, aku tidak memberitahu mu bahwa aku adalah pria beristri, akan ada saatnya aku membawa mu pulang ke rumah utama. Aku harap, benih ku akan segera tumbuh di rahim mu. Agar kau tidak pergi meninggalkan aku, aku takut jika kau tahu saat ini. Kau akan menjauh dan membenci ku," ucap Aditia dalam hati.
Egois, ya Aditia memang egois. Ia tidak memikirkan bagaimana perasaan Farida jika tahu yang sebenarnya, Rahasia besar yang di sembunyikan Aditia.
Tapi Aditia tidak sepenuhnya bersalah. Ia hanya mencari ketenangan hatinya yang selama ini tidak ia dapatkan dari Karina, istri pertamanya.
Perjalanan Farida baru saja akan di mulai.
Ini adalah Awal, awal kisah hidup nya. Ehh bukan, bukan hanya awal h
kisah Farida tapi juga Aditia dan KarinaðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤
Aditia dan Farida tertidur di sore hari itu, tan hampir menjelang magrib. Farida terbangun dari tidurnya.
Ia mengerjap-ngerjapkan matanya, ia merasakan ada tangan kekar yang menimpa perutnya.
Ia tersenyum melihat ketampanan suaminya, pesona itu terpancar walaupun dalam keadaan terlelap.
Puas memandangi wajah tampan suaminya, Farida pun beranjak dari ranjang hendak meraih handuk yang ia kenakan sebelum bertempur tadi.
Namun tiba-tiba, ia memekik.
"Ahhkkk, sakit!" Farida memegangi sel4ngk4ngnya.
Ia mendudukan lagi bokongnya di ranjang itu.
"Sayang, kamu sudah bangun! Mana yang sakit?" tanya Aditia yang bangun dari tidurnya karena mendengar pekikan Farida.
"Sakit mas," lirih Farida "Ida jalannya susah," sambungnya.
"Emang mau kemana?" tanya Aditia sambil melihat sel4ngk4ng Farida.
"Mau mandi, nanti gak keburu, bentar lagi magrib. Kita shalat berjamaah ya," kata Farida.
Mendengar shalat, Aditia segera membopong tubuh mungil itu kedalam kamar mandi. Dengan perlahan Aditia mendudukan bokong Farida pada Buthup.
"Kita mandi air hangat ya," ucap Aditia.
"Emang mas rebus air hangat?" tanya Farida dengan ke polosannya.
"Kan kita punya ini, jadi gak perlu ngerebus. Kamu lihat mas ya, biar nanti kalo mas gak ada kamu bisa mandi sendiri," kata Aditia sambil terkekeh.
"Mas,!" panggil Farida.
"Hmm, ada apa sayang?" tanya Aditia.
__ADS_1
"Mas gak malu nikahin perempuan bodoh dan kampungan kayak Ida?" tanya Farida sambil menatap serius wajah suaminya.
"Kenapa harus malu, apakah kita harus malu mencintai?" tanya balik Aditia.
Farida menunduk, ia merasa sangat beruntung memiliki suami seperti Aditia. Pria kaya namun baik hati dan tidak sombong.
Setengah jam kemudian, Aditia dan Farida sudah selesai dengan acara mandi mereka, yaitu mandi wajib alias mandi besar.
Aditia kembali membopong tubuh istrinya. Di dudukannya Farida di atas ranjang. Setelah itu, ia membuka lemari pakaian yang sudah berisi pakaian-pakaian baru untuk Farida.
Pilihan Aditia jatuh pada Piyama couple berwarna Abu-abu.
"Loh, bajunya baru mas?" tanya Farida saat Aditia hendak memakaikannya piyama itu.
"Iya, itu semua baju-baju kamu," kata Aditia sambil membuka kancing piyama itu.
"Ida bisa pakek sendiri mas," ucap Farida mengambil alih piyama yang ada di tangan suaminya. "Kapan? Kapan mas beli baju-baju itu?" tanya Farida.
"Seminggu sebelum kita menikah, saat apartemen ini selesai di bersihkan oleh tukang bersih-bersih yang aku sewa," jelas Aditia.
"Oo, pasti baju-baju ini sangat mahal," kata Farida.
"Tidak usah memikirkan harganya, lebih baik sekarang cepat pakai pakaian mu. Dan kita akan melaksanakan shalat magrib," ucap Aditia.
Dengan cepat Farida memakai piyamanya.
"Ayo," Aditia mengambil posisinya di depan Farida.
Mulai hari ini, Aditia menjadi imam Farida. Dan semoga akan selalu seperti itu hingga maut memisahkan.
***
Sedangkan di rumah utama Aditia.
Kini Karina sedang bertempur di atas ranjang bersama dengan Bara.
"Kau begitu hebat sayang, selalu membuat ku kewalahan di atas ranjang," bisik Karina di telinga Bara.
Bara tersenyum, "Kau bahagia?" tanya Bara masih dengan menggoyangkan pinggulnya di atas tubuh Karina.
"Iya, aku bahagia. Karena Adit tidak bisa memuaskan aku di atas ranjang seperti mu, dia tidak cukup gagah untuk bermain," kata Karina dengan nafas tersengal-sengal.
"Tinggalkan dia, dan menikahlah dengan ku. Agar kita menjadi pasangan yang sah dan tidak menambah serta menumpuk banyak dosa," ucap Bara sambil menyemprotkan c4ir4n miliknya diatas perut Karina.
Setelah itu tubuhnya ambruk di samping Karina.
"Tidak semudah itu sayang, aku sudah berjanji kepada mendingan ayah dan ibu ku untuk tetap bersama dengan Aditia," kata Karina sambil mengelus pipi Bara setela itu Karina meng3cup bibir Bara sekilas.
__ADS_1
"Aku selalu menunggu mu Karina! Tapi kenapa kau tidak pernah mengerti dengan perasaan ku, aku mencintai mu bahkan aku berani mengkhianati Aditia, sahabat ku sendiri," ucap Bara "Apakah sebenarnya di dalam hati mu menyimpan perasaan untuk Aditia?" imbuh Bara.
Mata Karina melotot mendengar perkataan Bara.
"Jangan bercanda, mana mungkin aku mencintai Aditia," kata Karina sambil terkekeh. "Aku bertahan menjadi istri Adit hanya karena pesan terakhir kedua mendiang orang tua ku, tidak lebih. Lagi pula kan, kau yang mendapatkan mahkota ku ini bukan dia! Apakah kau masih meragukan cinta dan perkataan ku?" sambung Karina.
"Tidak, aku tidak meragukan mu Karina. Hanya saja aku takut jika perasaan mu akan tumbuh untuknya, lima tahun, lima tahun bukanlah waktu yang sebentar Karina. Jika suatu saat nanti perasaan kamu tumbuh untuk Aditia, lalu aku harus bagaimana?" kataBara panjang lebar.
Karina pusing, pusing memikirkan perkataan Bara.
"Sudahlah ayo kita tidur!" ajak Karina dan langsung menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos.
"Apakah Aditia tidak pulang?" tanya Bara.
"Dia jarang pulang sekarang, tenanglah! Tidak usah khawatir lagian di juga sudah tahu hubungan kita," kata Karina.
"Bagaimana expresi nya setelah ia melupakan emosinya malam itu?" tanya Bara sambil memainkan rambut Karina.
"Seperti biasanya, tidak ada yang berubah! Tapi setahun belakangan ini ku lihat dia selalu terlihat bersemangat bahkan tubuhnya yang dulu kurus kini menjadi berisi," jelas Karina.
"Apakah dia pernah memukul mu selama ini?" tanya Bara lagi.
"Tidak, sekalipun tidak pernah. Bahkan aku lah yang sering memukulnya di kala aku sedang kesal." timbal Karina.
"Sebenarnya dia adalah pria yang sempurna ya, tapi kenapa nasip nya seperti itu," kata Bara.
"Ntah lah," ucap Karina.
Setelah itu, Bara dan Karina memutuskan untuk tidur.
Sedangkan di apartemen Aditia dan Farida. Mereka sedang makan malam.
"Besok gak usah beli mas, biar Ida masak saja," kata Farida pada Suaminya.
"Hmm, tapi kan kamu lagi sakit itu nya sayang. Mas gak mau kamu kesusahan berjalan." kata Aditia.
"Tapi kita gak boleh boros-boros mas," ucap Farida.
Aditia tertawa mendengar ucapan Farida yang terkesan sangat hemat.
Farida tidak mengerti apa itu CEO, bahkan Aditia sudah menjelaskan apa pekerjaan nya. Namun Farida masih juga tidak NGEH.
***Bersambung..!!
See you next up..!!
Happy reading..!!
__ADS_1
Jangan lupa, beri othor banyak dukungan,🤗🤗🤗***