
Karina memasuki ruangan kerja Aditia yang pintunya terbuka. Ia memeluk Aditia yang berdiri di pinggir kaca daru belakang.
"Aditia, aku mencintaimu," ucap Karina sambil menempelkan kepalanya di punggung Aditia.
"Karina,,!" Aditia terkejut dengan aksi Karina yang tidak biasa. "Lepas, Karina!" Aditia segera melepaskan pelukan Karina.
"Kenapa? Aku juga istri mu, kan? Apa kamu lupa?" Karina semakin mempererat pelukannya. "Apa aku salah kalau aku meminta hak ku?" Sambung Karina.
"Dasar perempuan gila!" umpat Aditia dengan kesal. "Apakah kau kurang puas dengan pelayanan Bara?" tanya Aditia dengan penuh ejekan.
"Aku hanya ingin merasakan belaian mu seperti dulu," ucap Karina.
Aditia semakin kesal dan geram, akhirnya Aditia melepas paksa tangan Karina yang memeluk pinggangnya. Dan setelah pelukan itu terlepas, ia segera pergi dari ruangan itu, dan menyusul istrinya yang masih berada di dapur.
Karina kesal dengan Aditia yang terus saja menolaknya. "Sialan,! Apa coba kurangnya aku?" Gerutu Karina sambil memcak-mencak di dalam ruangan kerja Aditia.
"Sayang,,!" Aditia memeluk istrinya dengan erat dan nafas berat. "Kita ke atas yuk," ajak Aditia.
"Kenapa mas? Kue nya belum mateng loh!" Farida memutar tubuhnya yang berada di dalam Kungkungan suaminya. Dan kini wajahnya sudah menghadap pada Aditia.
"Yuk, kita keatas! Bentar aja," bisik Aditia.
Mbok Yuyun yang melihat hal itu, hanya tersenyum kecil. Ia tahu apa yang di inginkan majikannya itu kepada sang istri.
"Sudah nduk, sana keatas!' kata mbok Yuyun "Biar mbok yang nungguin kue nya," sambung mbok Yuyun.
"Ya udah mbok, Ida keatas dulu ya," kata Farida.
Ia terkejut, karena Aditia tiba-tiba membopong tubuhnya.
"Mas, nanti jatuh!" teriak Farida di dalam dekapan suaminya.
"Gak akan jatuh kalau kamu diam!" Aditia terus berjalan menaiki anak tangga dengan perlahan. "Pegangan yang kuat," sambungnya.
"Emang nya mas mau apa sih?" tanya Farida sambil mengalungkan tangannya di leher suaminya.
"Mas mau anu!" timbal Aditia.
Sesampainya di dalam kamar mereka.
Aditia mendorong pintu kamar itu menggunakan kakinya.
__ADS_1
Karina yang melihat hal itu menjadi semakin kesal. Dengan perasaan sakit, ia masuk kedalam kamarnya. Lama-lama ia menjadi tidak tahan dengan kemesraan Aditia dan Farida.
"Kenapa rasanya sakit? Apakah rasa sakit ini di rasakan juga oleh Aditia saat mengetahui aku berhubungan dengan Bara?" tanya Karina pada dirinya sendiri.
Ia menangis dalam diam di kamarnya yang dulu ia tempati bersama Aditia bahkan dengan Bara, tentu saat Aditia tidak ada di rumah.
"Jika aku tidak bisa menyingkirkan Farida dengan cara kasar, berarti aku harus menggunakan cara halus. Karena Farida memiliki hati yang lemah pasti akan mudah untuk membuatnya pergi dari rumah ini tanpa harus mengeluarkan tenaga extra." Karina menyeka air matanya, kini ia tahu cara yang ampuh untuk membuat Farida pergi dari rumah itu.
Sedangkan di dalam kamar yang di tempati Aditia dan Farida.
"Boleh ya!" pinta Aditia.
Farida mengaguk, setelah merasa mendapat lampu hijau. Aditia pun melanjutkan aksinya, ia segera melakukan kegiatan panas kepada istrinya dengan lembut. Ia takut kehamilan Farida yang sudah memasuki bulan kelima itu mengalami gangguan akibat kunjungan yang ia lakukan.
Pagi menjelang siang itu, terjadi lah pertempuran panas.
Setengah jam kemudian, Aditia selesai dengan kegiatannya. Ia segera berbaring dan mengsejajarkan kepalanya di perut Farida yang sudah mulai membuncit.
"Hey, anak ayah jangan nakal ya!" Aditia berbicara pada bayinya yang masih di dalam perut.
Farida merasakan denyut-denyut kecil di perutnya. "Mas, bayi kita ngerespon ucapan kamu," kata Farida dengan wajah berbinar.
"Beneran deh! Ida gak bohong!" Farida beranjak dari baringnya, dan kini ia duduk sambil mengelus perutnya.
"Iya sayang, perut kamu bergerak kecil," kekeh Aditia sambil meletakan telapak tangannya di perut sang istri.
"Sayang! Nanti kalau kamu perempuan, bunda gak akan kesusahan lagi bikin kue, dan kalo kamu laki-laki, ayah bisa punya teman lembur nonton siaran bola," kata Aditia, ia terus mengajak bayi nya berbicara.
"Mending mas baca sholawat dari pada ngomong ngawur kayak gitu!" Farida memberi tahu pada Aditia, hal-hak yang baik untuk anak yang masih berada di kandungan.
"Ya udah deh, kita mandi dulu! Habis itu mas mau baca sholawat untuk anak kita." Aditia mengajak istrinya untuk mandi besar alias mandi wajib.
Mereka berdua pun segera mandi, dan lima belas menit kemudian. Mereka sudah seleau dengan acara mandinya.
Kini Aditia dan Farida sedang duduk di taman yang ada di samping rumah megah itu, mereka duduk bersantai, dan di temani dengan sepiring kue dan satu gelas jus.
Aditia mulai menyanyikan sholawat untuk bayinya.
Sholatullah sholamullah, ala toha rosulallah.
Sholatullah sholamullah, ala yasin habibillah.
__ADS_1
Next..!!
Setelah puas bernyanyi sholawat, Aditia memakan kue buatan istrinya.
"Udah dulu ya sayang, mulut ayah udah pegel," ucap Aditia, lalu tangannya meraih piring kue yang ada di sebelahnya.
Keesokan harinya.
"Mas berangkat ke kantor dulu ya! Kamu hati-hati di rumah, jangan percaya sama siapapun kecuali mbok Yuyun," ucap Aditia saat hendak berangkat ke kantor.
"Iya, mas gak usah khawatir berlebihan." timbal Farida.
Aditia mencium kening istrinya. Sedangkan Farida, ia mencium punggung tangan suaminya.
"Hati-hati mas, Ida sayang mas," ucap Farida sambil melambaikan tangannya kepada mobil Aditia yang mulai menjauh dari rumah megah itu.
Setelah mobil suaminya sudah tidak terlihat, Farida pun kembali masuk kedalam rumah.
"Farida,,!" panggil seseorang.
"Iya mbak, ada apa?" tanya Farida pada seseorang yang memanggilnya. Orang itu tidak lain adalah Karina.
"Farida, aku mohon! Aku ingin mas Adit bersikap adil sama aku," ucap Karina dengan mata berkaca-kaca.
"Maksud mbak?" tanya Farida yanf tidak mengerti maksud Karina, yang tiba-tiba menangis di hadapannya.
"Aku pengen, mas Adit bagi waktunya untuk kita berdua," kata Karina. "Aku mau, dia bersikap sama aku kayak dia bersikap sama kamu," sambung Karina.
"Ida akan berusaha buat bujuk mas Adit mbak," kata Farida dengan senyumannya.
"Bener Farida? Kamu beneran mau bujuk Aditia buat nerima aku," kata Karina sambil menyeka air matanya.
"Iya mbak, lagian mbak lah yang lebih berhak atas mas Adit dari pada Ida. Mbak kan istri pertama mas Adit," sambungnya.
"Makasih ya Farida, kalo gitu! Aku mau beres-beres kamar aku dulu. Nanti sore kalo mas Adit pulang, langsung suruh naik kelantai atas ya, aku bakal nungguin dia." Karina segera naik kelantai atas, dengan wajah ceria.
Farida menghela nafas dengan pelan.
**Bersambung..!!
AWAS BANYAK TYPO**
__ADS_1