Pengorbanan Terakhir Istri Kedua Sang CEO

Pengorbanan Terakhir Istri Kedua Sang CEO
EMOSI DAN PENYESALAN ADITIA


__ADS_3

"Aditia, kenapa?" tanya Karina dengan selembut mungkin.


Aditia mendekati Karina yang berada di ambang pintu kamar mandi dengan wajah memerah.


"Ku bunuh kamu! Dasar wanita sial!" Aditia menjambak rambut Karina seperti orang kesetanan.


Karina hanya bisa meringis menahan sakit.


"Aditia, lepas! Apa salah ku? Kenapa kamu kayak gini?" tanya Karina sambil menahan rambutnya yang serasa mau copot.


"Apa yang kamu bilang sama Farida?" tanya Aditia yang tangan nya masih menjambak rambut Karina.


"Aku gak bilang apa-apa! Aku cuman bilang, kalau aku pengen juga di perhatiin sama kamu, kayak dia," kata Karina berdusta, padahal jelas-jelas dia yang sudah mengancam Farida.


Aditia semakin kesal mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Karina. Ia melepaskan rambut Karina, namun beralih pada leher.


"Ku bunuh kamu! Wanita iblis, tidak tahu berterimakasih! Aku sudah muak dengan semua ini!" Geram Aditia, ia mencekik leher Karina. (Mencekik ni hobi nya author deh🤭)


"Mas, hentikan!" Farida tiba-tiba masuk dan mendekati suami, mencoba untuk meredam emosi suaminya yang sudah hampir meledak.


"Mas, hentikan! Mbak Karina bisa meninggal, mas bisa di penjara dan jika mas di penjara siapa yang akan membantu Ida mengurus bayi kita," kata Farida.


Namun percuma, Aditia tidak mendengarkan ucapan istrinya. Ia masih terus mencoba membunuh Karina.


Farida yang melihat suaminya semakin gila, mencoba melerai dan melepaskan cekikan suaminya dari leher Karina.


"Mas, lepas! Ida mohon, kasian mbak Karina," kata Farida, air mata terus saja mengalir di pipinya.


"Diam!" bentak Aditia, sebelah tangannya mengibaskan Farida.


Karena kesetanan, Farida yang terkena gibasan tangan Aditia pun terdorong jauh dan terjatuh.


"Mas,,!" pekik Farida sambil memegangi perutnya.


"Farida,,!" teriak Aditia dengan panik. Ia tersadar, dan langsung melepaskan cekikkannya. Ia berlari ke arah Farida yang meringis menahan sakit di perutnya.


"Maafkan mas, sayang! Mas tidak sengaja!" Aditia memegangi perut istrinya.


"Sakit, mas! Ida gak kuat!" Farida memegangi perutnya yang mulas dan juga sakit.


"Farida," ucap Karina sambil mendekati Farida. "Maafkan aku, gara-gara aku kamu jadi kayak gini!" Karina pura-pura iba dengan keadaan Farida.


Padahal du dalam hatinya, senang bukan kepalang. "Syukur deh! Mudah-mudahan dia beneran keguguran. Ternyata ada untungnya juga nih sakit leher, untung Farida datang tepat waktu," ucap Karina dalam hati, ia bahagia melihat penderitaan Farida.


"Sayang! Kita kerumah sakit sekarang!" Aditia segera membopong tubuh Farida, ia menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa.

__ADS_1


"Aditia! Aku ikut," kata Karina, ia ingin melihat keadaan Farida. Tapi bukan keadaan baik namun hanya ingin memastikan keadaan Farida. Ia selalu berdoa agar Farida dan anaknya tewas karena insiden itu.


"Gak usah! Aku bisa ngurus Farida sendirian!" bentak Aditia.


Tanpa memperdulikan Karina, Aditia segera pergi.


Setengah jam kemudian, kendaran Aditia sampai di depan rumah sakit Ibu dan anak.


"Suster,,! Suster,,! Tolong istri saya," Aditia berteriak sambil membopong istrinya memasuki rumah sakit itu.


Dua orang perawat datang membawa brankar, Aditia pun segera membaringkan tubuh istrinya.


Setelah itu, perawat segera memabwa Farida ke dalam UGD.


"Suster, saya ingin menemani istri saya!" Aditia memegangi tangan salah seorang suster itu.


"Maaf, bapak tunggu di sini saja! Biarkan kami menangani istri bapak," ucap Suster itu.


"Tapi suster, istri saya membutuhkan saya di sisi nya," kata Aditia.


"Tidak bisa, pak! Maaf," kata suster itu sambil berjalan meninggalkan Aditia kedalam UGD.


"Ya tuhan! Tolong selamatkan istri dan bayi kami!" Aditia berjalan mondar-mandir di depan ruangan rawat itu.


Penyesalan tersirat jelas pada diri Aditia. Ia merasa sangat bersalah karena menyebabkan istri dan anaknya dalam bahaya. Ia tidak menyangka, bahwa perbuatannya malah mengakibatkan istrinya terluka.


Lima belas menit kemudian, Dokter wanita yang menangani Farida keluar daru ruangan UGD tersebut.


"Dokter! Bagaimana keadaan istri dan anak saya?" Aditia segera menghampiri dokter itu dan menanyakan keadaan istri dan anaknya.


"Istri dan bayi anda baik-baik saja. Istri anda sempat mengalami pendarahan. Dan untungnya tidak berpengaruh pada kandungannya." jelas Dokter wanita itu.


"Syukurlah," ucap Aditia. "Apakah dia sudah sadar dokter?" tanya Aditia kemudian.


"Belum, istri anda masih belum sadar karena dalam pengaruh obat bius. Mungkin sebentar lagi," kata dokter itu.


"Dan untuk beberapa hari kedepan. Istri anda belum boleh melakukan aktivitas apa pun dulu, ia harus istirahat total," tambah dokter.


"Iya dokter, lalu apakah saya boleh menemui istri saya sekarang?" tanya Aditia.


"Silahkan, Sebentar lagi istri anda akan sadar. Tapi anda tidak boleh mengajaknya banyak berbicara," kata Dokter itu lagi.


"Baik lah dokter," kata Aditia mengangguk paham.


"Kalau begitu saya permisi dulu!" Dokter itu pun pergi dari harapan Aditia.

__ADS_1


"Terimakasih banyak," kata Aditia lagi.


Dokter wanita itu mengangguki ucapan terimakasih Aditia.


Setelah dokter itu pergi, Aditia segera memasuki riang rawat istrinya.


Ia menatap iba, pada istri kecilnya.


"Maafkan mas, sayang. Gara-gara mas, kamu harus merasakan sakit seperti ini," kata Aditia sambil mengecupi kepala istrinya bertubi-tubi.


"Mas takut, maa takut kamu dan bayi kita kenapa-kenapa! Mas bakalan bunuh Karina kalo sampai terjadi sesuatu sama kamu dan anak kita lagi," kata Aditia, ia menggenggam tangan istrinya dengan erat.


Karena kelelahan, akhirnya Aditia yang duduk di kursi samping ranjang pasien itu pun tertidur. Ia tertidur dengan kepala bersandar di tepian ranjang tepat di tangan kiri istrinya.


Malam ini ia tertidur dengan perut kosong, karena saat ia pulang dari kantor. Ia langsung di hadapkan dengan Karina yang sangat memuakan. Jadi ia dan juga Farida belum makan apa pun.


Jam menunjukan pukul 11 malam, perlahan tangan Farida bergerak. Ia mencoba untuk membuka matanya, perlahan tangannya bergerak dan menyentuh rambut suaminya.


"Mas," panggilnya dengan suara lirih.


"Mas,,!" panggilnya lagi.


Aditia yang merasakan sesuatu yang menyentuh rambutnya pun terbangun.


"Sayang, kamu sudah bangun. Mana yang sakit? Mas panggilan dokter ya," kata Aditia.


"Ida laper," kata Farida.


"Laper? Kamu mau makan apa? Mas pesenin bubur ya," kata Aditia.


Farida mengangguk lemah. "Mas keluar sebentar ya, kamu tunggu sini!" Aditia segera pergi meninggalkan istrinya menuju kantin.


Tak lama kemudian, Aditia kembali dengan samangkuk bubur di tangannya.


"Sayang, yuk makan!" Aditia mendudukan bokongnya di samping istrinya.


Ia meletakan mangkuk bubur itu terlebih dahulu di atas meja yang ada di samping ranjang pasien. Ia membenahkan posisi kepala istrinya, agar lebih mudah untuk bergerak dan memakan bubur yang di beli Aditia sebelumnya.


Aditia menyuapi istrinya dengan sangat telaten.


"Mas gak makan?" tanya Farida pada suaminya.


"Mas gampang." timbal Aditia.


"Mas makan juga," kata Farida.

__ADS_1


"Mas minta maaf ya sayang," kata Aditia. "Gara-gara mas, kamu dan anak kita jadi sakit," sambung Aditia.


"Gak papa kok mas, lagian Ida sama anak kita baik-baik aja kok!" Farida menyentuh wajah suaminya dengan lembut.


__ADS_2