Pengorbanan Terakhir Istri Kedua Sang CEO

Pengorbanan Terakhir Istri Kedua Sang CEO
KEBAHAGIAAN FARIDA


__ADS_3

Hari-hari berlalu, sudah sebulan sejak pernikahan Aditia dan Farida. Kedua nya tampak sangat bahagia.


Seperti pagi ini, Aditia mengajak Farida jalan-jalan. Mumpung hari libur katanya.


"Sayang, siap-siap. Aku akan mengajak mu ke pantai hari ini," kata Aditia pada Farida yang sedang asyik menyiram tanaman hijau yang sudah mulai besar dan sudah bisa di olah menjadi sayur.


Tak hanya itu, bahkan Farida si istri kecil Aditia itu nampak menanam kan daun bawang di dalam pot yang baru ia beli kemarin.


"Kita di rumah aja mas, lagian hari libur seperti ini adakah waktu mas untuk istrirahat. Ida gak mau mas kecapekan." Farida berucap tanpa menghentikan aktivitasnya.


"Mas gak akan capek, mas pengen kita main di pantai kayak orang-orang pacaran," ucap Aditia sambil memeluk Farida dari belakang.


"Mas," panggil Farida sambil memegang tangan Aditia yang melingkar di perut ratanya.


"Hmm, kenapa?" tanya Aditia yang menyandarkan kepalanya di bahu istri kecilnya.


"Beneran gak papa kalo kita jalan-jalan?" tanya Farida "Kan uangnya sayang, mending kita tabung. Siapa tahu Ida bakal cepat hamil, kan kalau Ida hamil kebutuhan kita akan bertambah banyak." sambungnya.


Aditia tersenyum mendengar ucapan Farida. Istri kecilnya berfikir terlalu jauh, bahkan harta yang di miliki Aditia tidak akan habis walaupun Farida melahirkan dua lusin anak pun.


"Kamu tenang aja, mas udah sisihkan uang mas untuk keperluan kamu dan juga anak kita nanti. Dan mas berdoa, semoga dia cepat tumbuh di dalam sini," kata Aditia sambil mengelus perut Farida.


Farida bahagia bukan main, ia membelai wajah suaminya dengan lembut. Aditia semakin membungkukan tubuhnya, agar Farida semakin leluasa membelai wajahnya.


Namun Aditia di buat terkejut dengan perlakuan Farida, yang tiba-tiba saja mengecup bibirnya.


"Sayang, kamu mau menggoda mas ya," ucap Aditia.


"Enggak mas, Ida kelepasan." kekeh Farida.


"Kamu nakal ya, sekarang kamu harus tanggung jawab," ucap Aditia lalu mengangkat tubuh Farida memasuki apartemen, ia membopong tubuh Farida kedalam kamar dan menurunkan tubuh mungil itu di atas ranjang.


"Mas, ampun. Ida gak sengaja loh!" protes Farida saat Aditia mulai menggerayangi tubuhnya.


"Gak ada ampun-ampunan. Nih! Kamu lihat, ularnya bangun," ucap Aditia sambil mengarahkan tangan Farida kepada ular kecilnya.


"Aahkk," pekik Farida karena terkejut.


Hingga membuat Aditia terkikik geli.

__ADS_1


Tanpa aba-aba, Aditia menanggalkan seluruh pakaiannya juga pakaian Farida.


"Ouh mas," lenguh Farida saat Aditia memainkan Put1n9 p4yud4r4ny4.


"Enak sayang," ucap Aditia sambil mendongak kan wajahnya.


Dengan lembut Aditia memilin dua bukit kembar yang kenyal itu. Sedangan bibir nya sibuh bermain di leher jenjang istrinya yang putih mulus.


"Emm, uhh, Mas," Farida memejamkan matanya saat bibir Aditia bermain di kulit tubuhnya.


Aditia mulai memasukan anak ularnya, kedalam sarang milik Farida.


Lenguahan dan desahan memenuhi kamar itu. Farida merasakan kenikmatan yang luar biasa di lagi hari itu.


Begitu juga dengan Aditia, ia mempercepat gerakan di atas tubuh istrinya.


Dan beberapa menit kemudian.


"Mas, udah mau," ucap Farida terengah-engah.


"Sabar sayang, tunggu mas. Bentar lagi," kata Aditia.


"Terimakasih sayang," lirih Aditia sambil menciumi wajah istrinya.


Setelah puas memeluk dan menciumi wajah istrinya, Aditia menggendong tubuh mungil itu menuju kamar mandi.


"Kita mandi ya, setelah itu kita bersiap," ucapnya sambil membopong Farida.


Farida mengaguk, dan mengalungkan tangannya di leher Aditia.


Setengah jam kemudian, mereka berdua keluar dari kamar dengan tubuh bugar. Dan sudah siap untuk pergi ke pantai.


"Mas, kita bawa bekal dari rumah ya. Kan sayang uangnya kalau beli," lagi-lagi istri kecil Aditia membuatnya tertawa sambil menggelengkan kepala.


"Sayang, tidak usah terus-terusan memikirkan uang. Perlu kau tahu, mas ini bos di kantor. Dan Pradipta grup itu punya mas, milik suami kamu," jelas Aditia sambil mengusap kepala Farida.


"Maksud mas, itu kantor punya mas," ucap Farida sambil manggut-mangut.


"Jadi sekarang, tidak usah berfikir kita akan kekurangan. Kamu hanya perlu diam, dan menikmati semua yang mas berikan sama kamu," kata Aditia.

__ADS_1


Kini Farida mulai mengerti, namun dengan begitu. tidak membuat ia menjadi boros, Ia tetap hemat seperti sebelumnya. Dan hal itu membuat Aditia semakin mencintainya.


Setelah menjelaskan panjang lebar, kini Aditia langsung mengajak Farida menuju mobil dan mereka segera berangkat.


***


Di sebuah rumah mewah, tepatnya di kediaman utama milik Aditia.


Seorang wanita cantik nampak murung. Yaa,,! Wanita cantik itu adalah Karina.


"Kenapa, kenapa seperti ini? Benarkah kata Bara, bahwa perasaan ku pada Aditia mulai tumbuh. Tapi kenapa baru sekarang, setelah dia mulai menjauhi ku. Bahkan bulan ini, Aditia hanya pulang dua kali. Itu juga hanya mengantarkan uang bulanan untuk ku." Karina merenung sambil menatap langit-langit kamarnya.


"Mungkin kah ia sudah menemui wanita yang di cintainya? Siapa dia? Apakah aku salah bila aku ingin memilik Aditia saat ini. Tidak! Aku tidak salah. Dia kan suami ku. Jujur saja, aku merindukan belaiannya yang lembut dan penuh kasih sayang. Walaupun kehebatannya dan kegagahan nya di atas ranjang jauh di bawah Bara." Karina bergelut dengan fikiran nya.


"Jika aku mulai kehilangan Aditia, lalu bagaimana dengan Bara. Aku juga kan mencintai Bara, tidak mungkin aku mencintai dua orang lelaki. Tidak! Karina, kau tidak boleh kehilangan Aditia. Dia adalah suami mu, dan Bara! Bara adalah kekasihku. Pertahankan kedua nya. Mereka adalah milikmu." Keserakahan mulai menguasai hati Karina saat ini.


Dari pada memikirkan hal ini, lebih baik aku menghubungi Bara.


Tut tut tut.


"Hallo sayang," ucap Pria di sebrang telpon yang tak lain adakah Bara.


"Hallo, kamu di mana?" tanya Karina.


"Ini aku dijalan, mau kesana." timbal Bara.


"Beneran kamu mau kesini! Aku tunggu ya, dah sayang," ucap Karina lalu mematikan sambungan telpon itu.


Mendengar Bara akan menemuinya, ia segera membersihkan dirinya.


Bara, Bara sebenarnya adalah Pria yang baik. Yang mencintai Karina apa adanya, sudah sering ia mengajak Karina berkomitmen, bahkan meminta Karina agar segera bercerai dengan Aditia.


Bukan maksudnya untuk berniat buruk kepada Aditia sahabatnya sendiri. Namun dengan adanya perceraian di antara keduanya, mungkin Aditia bisa hidup bahagia dengan orang pilihannya. Begitu juga dengan Karina, bisa menjadi istrinya dan hidup bahagia dengan adanya cinta.


Namun setiap kali ia meminta dan memberi saran kepada Karina, perempuan itu selalu menolak dan berkata. Tidak ingin bercerai dengan Aditia. Dengan mengalaskan wasiat mendiang Ibu dan Ayahnya, agar tetap hidup bersama dengan Aditia apa pun yang terjadi.


***Bersambung..!!


Alhamdulilah selesai juga Bab IniπŸ˜“πŸ˜“πŸ˜“***

__ADS_1


__ADS_2