
Beberapa hari kemudian.
Kondisi Farida sudah pulih dan mulai beraktivitas seperti biasa.
Dan yang di lihat Aditia, Karina tidak bersikap aneh lagi. Ia menjadi tenang meninggalkan Farida di rumah bersama mbok Yuyun.
Seperti pagi ini, Aditia sudah mulai berangkat ke kantor lagi.
"Sayang, jangan nakal di perut bunda! Ayah berangkat kerja, gak lama kok! Ayah janji bakal pulang cepet," kata Aditia sambil menundudukan kepalanya di perut Farida.
"Iya ayah, adek janji gak akan nakal," kata Farida menirukan suara khas anak kecil. Aditia yang mendengarnya pun terkekeh kecil.
Ia mencubit pipi Farida dengan gamas, setelah itu ia beralih memciumi wajah sang istri.
"Mas berangkat dulu ya! Kamu baik-biak di rumah, kalo perlu apa-apa panggil mbok Yuyun. Jangan di kerjain sendiri," kata Aditia sebelum berangkat ke kantor.
"Iya, mas gak usah khawatir! Aku bakal baik-baik aja kok." timbal Farida.
Setelah itu, Aditia segera berangkat ke kantor.
Farida kembali ke lantai atas setelah Aditia berangkat ke kantor.
Ia memulai ritual mandi pagi nya.
"Hmm, mandi dulu ah. Biar seger dan ngantuk nya hilang," ucap Farida.
Tak butuh waktu lama, ia keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang bugar. Tidak layu seperti sebelumnya.
"Hmm, segarnya," ucap Farida sambil berjalan menuju lemari pakaian.
Setelah berganti pakaian. Ia duduk di depan meja riasnya, ia mulia ber rias alakadarnya.
Karena ia hanya menggunakan bedak bayi dan lipblam yang menghiasi bibir mungilnya.
Setelah selesai ber rias, ia membuka handuk yang menutupi rambut basahnyq. Saat ia sedang asik menyisir rambutnya sambil bersenandung. Tiba-tiba Karina masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
"Farida, boleh aku masuk," kata Karina dengan selembut mungkin.
"Boleh mbak, sini!" panggil Farida.
"Beneran, aku gak ganggu kan," kata Karina dengan mengembangkan senyumnya.
Namun senyuman itu mendadak hilang, saat matanya menangkap pakaian Aditia yang berserakan di lantai. Setelah itu, pandangan matanya pun beralih pada sajah dan leher Aditia.
Tentu ia tahu pakaian apa itu! Pakaian Aditia yang di lempar asal dan juga leher Farida yang terdapat jejak kepemilikan pria yang juga bersetatus sebagai suaminya sudah cukup menjadi bukti bahwa semalam telah terjadi pertempuran dari keduanya.
"Mbak!" panggil Farida, matanya mengikuti arah pandangan kakak madunya itu.
"Aku keluar aja ya," kata Karina dengan wajah sendu.
"Maaf ya mbak, Ida belum berbenah," kata Farida tak enak hati. Ia tahu, bahwa kakak madunya itu sedang tidak baik-baik saja.
"Gak papa, Farida. Aku ngerti kok," kata Karina lalu berjalan meninggalkan Farida di dalam kamar itu.
Setelah kepergian Karina. "Ya tuhan! Aku harus apa?" tanya Farida pada dirinya sendiri. "Sungguh berdosa nya aku! Tolong tunjukan jalan yang harus ku pilih tuhan, pergi atau bertahan di atas luka mbak Karina," sambung Farida, air matanya perlahan menetes.
Setiap waktunya saat sendiri, ia selalu di hantui rasa bersalah. Sebagai wanita, ia bisa merasakan apa yang tengah di rasakan oleh Karina.
Sedangakan di dalam kamar Karina.
"Kenapa rasanya semakin sakit! Apa aku tidak boleh bahagia? Jika Aditia tidak bisa kembali pada ku, maka Farida juga tidak boleh memiliki nya," kata Karina.
Ia juga menangis, iri dengki semakin menumpuk di dalan hati dan fikiran nya. Rasa dan keinginan untuk menyingkirkan Farida menjadi semakin besar dan kuat.
Lama ia bergelut dengan sisi kiri hatinya, dan tiba-tiba Farida datang dari arah luar. Ia duduk di samping Karina dan menghapus sisa air mata kakak madunya itu.
"Jangan menangis mbak, Ida minta maaf karena tanpa sengaja telah merebut suami mbak Karina," kata Farida. Sakit, sakit dan perih yang dirasakan Farida. Namun ia tahan sekuat mungkin agar air mata itu tidak kembali menetes.
"Aku tidak sanggup berbagi suami, Farida! Bertahan sakit, namun untuk mundur pun sulit," kata Karina semakin tersedu.
Namun di dalam hati nya, ia berharap Farida akan mundur dari peperangan hati ini. Ia tahu betul, bahwa Farida adalah wanita yang lemah jika sudah bicara soal hati.
__ADS_1
"Farida harus bagaimana mbak? Apakah Farida harus mundur?" tanya Farida dengan suara berat.
"Aku tidak meminta mu mundur, Farida! Aku hanya ingin suami kita adil. Tapi seperti nya, dengan masih adanya kehadiran mu di sisi nya. Hatinya tidak akan kembali menjadi milikku," kata Karina dengan suara serak.
"Izinkan Farida melahirkan anak Farida terlebih dulu mbak, setelah itu Farida akan pergi!" Dengan berat hati Farida mengatakan hal itu pada Karina.
Lebih baik ia mundur, dari pada terus-terusan menjadi benalu seperti ini. Itu fikir Farida, namun ia tidak memikirkan Aditia dan orang di sekitarnya.
"Aku akan mencoba untuk kuat, Farida. Aku akan menunggu saat itu tiba," kata Karina.
Dalam hatinya, ia tersenyum bahagia. "Ternyata tidak sulit untuk menyingkirkan mu, Farida. Aku hanya perlu drama seperti ini, dan setelah ini! Akan ku pastikan diri mu pergi jauh dari hidup Aditia.
Setelah itu, Karina memeluk tubuh Farida. Farida pun membalas pelukan itu.
Siang harinya.
"Loh! Nduk, kamu habis menagia ya?" tanya mbok Yuyun pada Farida yang hendak makan siang.
"Enggak mbok, Ida gak habis nangis." kilah Farida, ia tidak mungkin menceritakan semuanya pada Mbok Yuyun. Jika mbok Yuyun tahu, maka ia akan menceritakan semuanya pada Aditia. Jika itu terjadi, maka Aditia akan semakin tidak suka dan membenci Karina.
"Nduk bohong sama mbok, mbok tahu kalau nduk habis menangis! Ayo cerita ada apa?" tanya mbok Yuyun. Ia mendesak Farida agar bercerita.
"Tapi mbok jangan ketawain Ida ya," kata Farida.
"Iya, mbok gak akan ketawa!" timbal mbok Yuyun.
"Tadi tu, Ida lihat film. Film nya sedih banget, satu keluarga menangis karena si Lusi yang menggemaskann meninggal akibat keracunan jamu kuat tuannya. Tuannya yang mengetahui pun langsung membawa Lusi ke dokter, tapi belum sampai tempat, si Lusi sudah keburu menghembuskan nafas terakhirnya," ucap Farida dengan wajah seruis.
"Mengetahui Lusi sudah meninggal, tuannya pun memasukan lusi kedalam kantong kresek." sambung Farida berkelakar.
"Kok di masukin kresek nduk? Kok tuannya jahat banget?" tanya mbok Yuyun. Wajah mbok Yuyun terlihat sangat sedih, fikirnya tuan Lusi sangat jahat dan keterlaluan.
"Lusi itu adalah marmut, mbok!" celetuk Farida.
Mata mbok Yuyun membulat sempurna, Ia fikir Lusi adalah seorang manusia. Nyatanya adalah hewan kecil yaitu adik dari si tikus.
__ADS_1
"Dasar! Nduk ada-ada saja, mbok kira tadi Lusi itu manusia seperti kita. Ternyata masih keluarga pencuri kecil di tikus!" mbok Yuyun meninggalkan Farida yang ada di meja makan itu.
Setelah kepergian mbok Yuyun, Farida menghela nafas. Ia lega karena mbok Yuyun tidak banyak bertanya lagi dan sepertinya mbok Yuyun percaya dengan kelakar yang ia buat.