
Hari-hari di lalui begitu cepat.
Masa trimester pertama kehamilan Farida sudah berakhir, kini Farida tidak rewel seperti tiga bulan terakhir.
Hari ini Aditia membawa Farida ke rumah utama, Aditia menyeret koper besar yang berisi pakaiannya dan pakaian sang istri.
Di ikuti oleh Farida di Belakangnya.
Saat mereka sudah memasuki mobil itu.
"Sayang, mas mohon ya! Apapun yang kamu ketahui dan terjadi nanti. Mas harap kamu gak akan pergi dari hidup mas membawa anak kita," ucap Aditia sambil menggenggam tangan istrinya.
"Sebenernya ada apa sih mas? Kok mas ngomong kayak gitu terus! Dari semalem sampe detik ini, mungkin udah ada seratus kali mas ngomong kayak gitu!" Farida menatap jengah pada suaminya. Pasalnya Aditia selalu mengucapkan kata itu berulang-ulang, apalagi dengan tempo yang singkat. Hanya berjarak sepuluh menit saja setiap ia mengulanginya.
"Gak ada apa-apa kok, mas cuman takut kamu akan sangat kecewa sama mas. Kalo kamu tahu semuanya," kata Aditia dengan wajah yang penuh khawatiran.
Farida menjadi bingung dengan ketakutan yang sedang melanda hati suaminya. Otak nya terus berfikir keras, ada apa sebenarnya dan apa yang di sembunyikan oleh suaminya.
Aditia segera menancap gas mobilnya. Tidak ada pembicaraan di sepanjang perjalanan itu, hening hanya terdengar deruan mobil yang menembus jalanan.
Setengah jam kemudian, mobil Aditia berhenti di depan rumah megah yang seperti istana.
"Mas, rumah siapa ini?" tanya Farida dengan takjub.
"Ini rumah utama sayang, dan kamu akan melahirkan disini. Kita akan membesarkan anak kit di rumah ini," ucap Aditia, namun wajahnya nampak semakin ketakutan dan tidak tenang.
"Ada siapa aja di rumah ini mas?" tanya Farida lagi.
"Ada Empat orang yang tinggal di rumah ini sayang, di tambah kita berdua dan calon anak kita. Jadi semuanya menjadi tujuh orang," kata Aditia. "Aku mau, kamu jangan ninggalin aku ya," sambung Aditia.
Lagi-lagi Farida semakin di buat bingung. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Aditia segera menarik koper pakaian itu, dan sebelah tangannya memegang tangan Farida.
"Ayo kita masuk," ajak Aditia.
Mereka berdua memasuki rumah itu bersamaan. Setibanya di dalam rumah itu.
__ADS_1
"Kamu pulang," seseorang berlari kearah Aditia lalu memeluk tubuh Aditia dengan erat.
Farida yang melihat hal itu diam saja, fikirnya mungkin saudara Aditia.
"Lepas Karina!" Aditia mendorong tubuh Karina dengan kasar.
Ya,,! Orang yang memeluk Aditia adalah Karina.
Karina nampak kesal dengan penolakan Aditia.
Lalu ia beralih pada wanita muda yang berwajah lebih cantik dari nya.
"Siapa dia Dit?" Karina menunjuk wajah Farida. "Atau jangan-jangan, dia istri baru kamu?" tanya Karina.
Degg, Farida terkejut mendengar kata istri baru. "Istri baru! Apa maksud semuanya," ucap Farida dalam hati.
"Diam Karina!" bentak Aditia.
"Kenapa aku harus diam! Wajar dong kalau aku ngomong gitu sama suami aku sendiri, aku berhak tahu sebagai istri sah kamu, bukan pelakor kayak dia!" Lagi-lagi Karina berbicara kasar sambil menunjuk-nunjuk wajah Farida.
Jduarr, bagai di sambar petir di siang bolong. Farida memegangi dadanya, ia merasakan sesak. Sangat sesak saat mendengar sebutan pelakor.
"Apa maksudnya mas? Benarkah mbak ini istri mas? Kenapa mas gak pernah bilang? Kenapa mas bohongin aku dan menyembunyikan hal sebesar ini dari aku?" pertanyaan bertubi-tubi keluar dari mulut Farida.
Air mata Farida mulai berjatuhan, ia tidak pernah menyangka bahwa suaminya yang ia anggap baik selama ini telah tega membohonginya.
"Maaf Ida, maaf kan mas. Mas gak bermaksud bohongin kamu sayang," kata Aditia dengan wajah memelas.
Sedangkan Karina, ia tetap berdiri di tempatnya sambil memainkan kukunya.
"Kenapa Ida baru tahu sekarang, kenapa? Harusnya Ida tahu sebelum bayi ini hadir di rahim Ida, mas," ucap Farida dengan tangis yang begitu pilu.
"Maaf kan mas, sayang. Mas gak bermaksud bohongin kamu," kata Aditia yang mendekati Farida yang perlahan mundur dari tempat itu.
"Apa salah Ida, mas? Kenapa mas tega sama Ida! Mas tahu! Mas bukan aha nyakitin Ida tapi juga istri pertama mas," Farida berucap sambil menunjuk Karina yang terlihat tenang-tenang saja.
"Kalo aku sih! No problem kamu jadi madu aku, asal kamu betah aja," Karina mendongakkan wajahnya lalu berucap santai.
__ADS_1
"Maksud mbak?" Farida tidak mengerti maksud dari Karina.
"Aku gak masalah kalo Adit punya istri, lagian aku gak cinta sama dia," kata Karina.
"Kamu gila mbak, dan kamu juga gila mas," Farida menunjuk wajah Karina dan Aditia bergantian.
Setelah itu, Farida berlari keluar dari rumah itu sambil memegangi perutnya.
Saat ia sampai di depan gerbang yang menjulang tinggi rumah megah itu, tiba-tiba seorang wanita oaruh baya mencekal tangannya.
"Kenapa nduk menangis? Apa nduk istrinya den Adit?" tanya wanita paruh baya itu.
Farida hanya mengaguk lemah.
"Ikut mbok sebentar yuk, setelah itu terserah nduk mau menilai semuanya bagaimana," kata perempuan paru baya itu, yang ternyata pembantu di rumah Aditia sekaligus orang yang merawat Aditia sejak kecil.
Farida yang menunduk langsung mendongak kan wajahnya.
Sedangkan dari kejauhan, Aditia mengamati istri dan wanita paruh baya yang sudah di anggapnya sebagai mbok itu sedang berbicara serius.
Mbok Yuyun segera menuntun Farida kearah belakang rumah megah itu.
"Kita duduk di sana ya," kata mbok Yuyun menujuk kursi panjang yang berada di taman belakang rumah itu.
"Mbok mau bercerita, boleh!" kata mbok Yuyun dan di angguki oleh Farida.
"Begini nduk, Aditia dan non Karina memang tidak pernah akur, bahkan non Karina tidak pernah memperlakukan den Adit seperti suami," kata mbok Yuyun, lalu ia menceritakan semua tentang masa lalu Aditia dan juga perbuatan Karina selama ini.
"Den Adit juga sering sekali menceritakan tentang nduk Farida sama mbok. Dan mbok sangat bahagia melihat den Adit bisa bahagia seperti itu," kata mbok Yuyun di akhir ceritanya.
"Jadi sekarang Ida harus bagaimana mbok?" tanya Farida sambil mengusap Air matanya.
"Bertahan lah nduk, demi den Adit, nduk sendiri dan juga bayi kalian," ucap mbok Yuyun sambil memegang perut Farida.
"Mbok tahu Ida sedang hamil!" Farida menatap heran pada wanita paruh baya di hadapannya.
"Hehee," kekeh mbok Yuyun. "Mbok tahu semuanya nduk, den Adit selalu menceritakan semua tentang hal yang ia lewatkan. Dia tidak pernah menutup nutupi apapun dari mbok," sambung mbok Yuyun.
__ADS_1
Aditia yang memantau istri dan mboknya itu menjadi lega, karena Farida tidak akan pergi dari hidupnya.
"Syukurlah, Farida tidak pergi meninggalkan aku," ucap Aditia dalam hati sambil mengusap dadanya berulang kali.