
Farida pun meyetujui ajakan Agus. Agus pun memutar balikan mobil taxi yang ia kendarai.
"Masih jauh gak?" tanya Farida.
"Bentar lagi mbak." timbal Agus sang supir muda itu.
"Apa nenek kamu bakal nerima saya?" tanya Farida.
"Nenek pasti suka dan senang mbak, karena dia bakal punya teman di rumah," kata Agus.
Berapa menit kemudian, mobil taxi yang di kendarai Agus berhenti di pinggirin jalan yang cukup sepi.
Farida nampak keheranan, ia menjadi takut dan cemas.
"Ayo, mbak. Turun!" ajak Agus.
"I-iya," dengan ragu Farida ikut turun dari taxi itu.
"Jangan takut, mbak. Aku bukan orang jahat," ucap Agus. Ia tahu apa yang di fikirkan wanita hamil yang sedang bersamanya itu.
"Rumah Agus ada di ujung gang ini," kata Agus kemudian.
Farida tersenyum, ia pun mengikuti langkah Agus yang berjalan memasuki gang sempit yang ada di tempat itu.
"Hati-hati, mbak! Sini kopernya biar aku yang bawa," kata Agus, lalu ia mengambil alih koper yang ada di tangan Farida.
Sekitar sepuluh menit berjalan kaki, Agus dan Farida sampai di depan rumah sederhana yang catnya sudah mulai pudar.
"Mari mbak, ini rumahnya," ucap Agus. "Nek, Gus pulang," teriaknya.
Tak lama, pintu rumah itu terbuka. Dan tampak lah seorang wanita tua berumur 58 tahunan.
"Kamu sudah pulang Gus, kok tumben?" tanya neneknya Agus yang bernama nek Ijah. "Loh! Wedok iki sopo? (Perempuan ini siapa?)" tanya nya sambil menujuk Farida yang berdiri di samping Agus sambil menundukan kepalanya.
"Ini mbak Farida, nek! Boleh tidak kalau dia tinggal di sini sementara waktu?" Agus memperkenalkan Farida kepada sang nenek, sekalian meminta izin.
"Boleh! Boleh sekali, tapi dia sedang menhadung. Memang suaminya kemana?" tanya nek Ijah.
Farida langsung menundukan kepalanya, ia kembali sedih saat nek Ijah menanyakan keberadaan suaminya.
Agus memcoba menghentikan pertanyaan neneknya.
"Nek, boleh tidak. Mbak Farida istirahat dulu?" tanya Agus.
"Ya sudah, sana bawa dia kedalam," kata nek Ijah.
Agus pun mengajak Farida memasuki rumah itu, rumah yang sederhana. Terdiri dari ruang tamu yang bercampur dengan ruang tengah. Dua kamar berukuran minimalis, dapur dan satu kamar mandi yang juga terletak di ujung dapur.
"Mbak tidur di kamar ku dulu ya," kata Agus sambil membuka pintu kamar nya.
"Kalau aku tidur disini, nanti kamu tidur dimana?" tanya Farida.
__ADS_1
"Aku gampang mbak, nanti aku bisa tidur di luar. Di depan Tv," kata Agus sambil tersenyum manis.
Setelah itu, Agus keluar dari kamar itu. Meninggalkan Farida seorang diri.
Selepas kepergian Agus, Farida mengeluarkan foto suaminya dari dalam ransel kecil yang ia gendong.
Di pandangnya foto itu, dan tanpa terasa air katanya kembali menetes.
"Maafkan Ida, mas! Mungkin ini yang terbaik, Ida harap, mas bisa lupain Ida dan anak kita," ucap Farida sambil mengelus wajah tampan suaminya yang ada di dalam foto itu.
Di pintu kamar itu, ternyata berdiri nek Ijah dan Agus. Mereka ikut bersedih melihat keadaan Farida.
Perlahan nek Ijah mendekati Farida, ia ikut mendudukan bokongnya di ranjang kecil milik Agus.
"Nduk, nenek gak tahu masalah apa yang sedang kamu hadapi. Jangan menangis nduk, kasian bayi mu," kata nek Ijah sambil mengelus pundak Farida.
***
"Cepat pulang, den!" mbok Yuyun menelpon Aditia yang masih berada di kantor.
"Ada apa mbok?" tanya Aditia.
"Nduk Farida pergi dari rumah," kata mbok Yuyun.
"Apa?" kejut Aditia.
Ia mematikan sambungan telpon itu sepihak. Dan Segera pulang.
Beberapa puluh menit kemudian, ia sampai di kediamannya.
"Sayang, sayang, kamu dimana?" teriaknya. "Farida? Kamu becanda kan? Kamu cuman ngeprank mas, pasti kamu mau kasih mas kejutan," sambungnya.
"Mbok, mbok Yuyun!" teriak Aditia.
Mbok Yuyun pun berlari terpogoh-pogoh kearah Aditia.
"Mana Farida, mbok?" tanya Aditia dengan wajah yang di buat setenang mungkin.
"Nduk Farida, tidak ada lagi, Den! Dia sudah pergi," kata mbok Yuyun sambil menangis.
"Pergi gimana mbok? Mbok ikutan ngeprank Adit kan?" tanya Aditia tak percaya.
"Mbok serius, tadi mbok kepasar. Dan mbok ajak dia, tapi dia gak mau, mbok pun pergi sendiri, tapi saat mbok pulang. Nduk udah gak ada, pakaiannya pun di bawa sebagian." jelas mbok Yuyun. "Tadi juga mbok lihat dia naik taxi, tapi mbok fikir itu gak mungkin dia," sambung mbok Yuyun yang tangisnya semakin menjadi.
Aditia segera berlari menuju kamarnya dan Farida. Ia segera melihat barang-barang sang istri.
Ia menangis saat membuka lemari pakaian, separuh pakaian istrinya hilang. Surah nikah milik istrinya pun sudah tidak ada.
"Ya tuhan! Apa yang terjadi? Kenapa kamu pergi, sayang?" Aditia memukul lemari pakaiannya dan Farida dengan sangat keras.
"Kemana kamu, sayang? Kenapa kamu ninggalin aku," ucapnya sambil menangis.
__ADS_1
Ia segera keluar dari kamar itu, dan menuruni anak tangga.
Aditia segera mencari istrinya, ia menelusuri ibukota. Pertama, ia mencari Farida ke apartemen yang mereka tempati saat pertama menikah.
Namun Farida tidak berada di sana, setelah tidak ada disana. Aditia menuju panti tempat Farida di besarkan.
Saat sampai panti, ternyata istrinya pun tidak ada.
"Asalamualaikum, bunda," ucap Aditia saat memasuki panti itu.
"Waalaikum salam," timbal bu Ratna. "Loh! Nak Adit, kok sendirian? Farida mana?" tanya bu Ratna.
Aditia nampak gugup dan takut, ia tidak mungkin menceritakan semuanya kepada bu Ratna.
"Emm, Farida di rumah, bun," kata Aditia dengan gugup.
"Apa dia sehat?" tanya bu Ratna lagi.
"Dia sehat, dia titip salam buat bunda dan semua anak panti," kata Aditia berbohong.
Namun bu Ratna mengetahui kebohongan Aditia. Ia bisa membaca raut wajah Aditia yang takut dan terlihat gugup.
"Benarkah? Nak Adit gak lagi bohong kan?" tanya bu Ratna.
"Benar bun!" timbal Aditia dengan tubuh berkeringat.
Bu Ratna mendekati Aditia yang berkeringat panas dingin.
"Kamu kenapa, nak Adit?" tanya bu Ratna sambil menyentuh pundak Aditia.
"Maafkan Adit, bun!" tubuh Aditia melemas dan merosot kelantai ruangan tengah panti itu.
"Kamu kenapa seperti ini, nak Adit? Ada apa? Aoa ada sesuatu yang terjadi pada Farida?" tanya bu Ratna dengan cemas.
"Maakan Adit, maafkan Adit yang tidak jujur sejak semula, bun! Adit salah," kata Aditia sambil menangis pilu.
"Maaf untuk apa? Ada apa?" tanya bu Ratna, ia tidak mengerti dengan semua yang terjadi.
"Farida pergi dari rumah," ucap Aditia dengan lirih.
"Apa?" pekik bu Ratna.
"Semua salah Adit, bun! Seharusnya Adit jujur bahwa Adit adalah pria beristri saat menikahi Farida," kata Aditia.
Terkejutlah bu Ratna saat mendengar ucapan yang keluar dari mulut Aditia.
Bu Ratna pun ikut menitikan air matanya.
"Jadi kamu sudah melukai hati Farida dab juga istri pertamamu?" tanya bu Ratna, terlihat jelas kekecewaan di wajahnya terhadap Aditia.
Aditia menganguk, "Maafkan Adit, bun," kata Aditia.
__ADS_1
Hanya kata maafkan yang mampu ia ucapkan saat ini.
AWAS BANYAK TYPO🏃♀️🏃♀️