Pengorbanan Terakhir Istri Kedua Sang CEO

Pengorbanan Terakhir Istri Kedua Sang CEO
PERNIKAHAN


__ADS_3

Setahun kemudian.


Panti asuhan sedang menggelar acara ijab qobul Aditia dan Farida.


Keduanya tampak sangat bahagia. Senyum tak luntur-luntur dari bibir mereka.


Setelah Aditia mengucapkan ikrar janji pernikahan dan di sahuti kata SAH dari semua orang yang ada di ruangan itu, kini Aditia dan Farida sudah sah menjadi sepasang suami istri yang halal.


Beberapa saat kemudian, para tamu yang menghadiri acara pernikahan sederhana itu mulai membubarkan diri.


Dan kini tinggallah pasangan pengantin, bu Ratna dan juga anak-anak panti.


"Kamu harus berbakti sama suami kamu ya nak! Jadilah istri yang shalelah," ucap bu Ratna sambil memeluk erat tubuh Farida.


"Ida janji bunda, Ida akan jadi istri yang baik untuk mas Adit." timbal Farida dengan menangis haru di pelukan wanita yang telah merawatnya sejak bayi itu.


"Nak Adit, bunda titip Farida. Jika dia bersalah maka tegurlah, dan jika dia, nak Adit anggap tidak berguna. Tolong jangan kau siksa dan kau terlantarkan, kembalikanlah kemari. Bunda di sini akan menerimanya kembali," tangis bu Ratna pecah. Jujur ia sangat kehilangan Farida yang menurutnya paling peduli dan paling dewasa di jika di bandingan dengan anak panti lainnya.


"Jangan bicara seperti itu bun, Aditia tidak akan menyakiti Farida. Adit sangat mencintai Farida bun," kata Aditia.


Setelah itu, mereka pamit meninggalkan panti itu. Aditia tidak langsung membawa Farida ke rumah utama, melainkan tinggal di apartemen yang baru ia beli tanpa sepengetahuan Karina.


Sesampainya di apartemen, Aditia segera mengajak Farida masuk.


"Ini tempat tinggal kita sayang," kata Aditia sambil menujukan seisi apartemen itu.


"Benarkah! Tempat ini bagus sekali, ada dua kamar, dapur ruang tengah dan ruang tamu. Bahkan kamar mandi ada di dalam kamar," kata Farida dengan girang sambil berkeliling di dalam apartemen itu.


"Kamu bahagia?" tanya Aditia.


"Aku sangat bahagia, semoga semua ini adalah awal jalan kita menuju bahagia." Farida memeluk tubuh Aditia yang kini telah resmi menjadi suaminya.


"Kamu gak mau lihat kebelakang?" tanya Aditia.


"Mau," kata Farida sambil melepaskan pelukannya.


Aditia mengajak Farida ke bagian belakang Apartemen itu.


Di sana banyak tanaman bunga yang indah.


"Boleh aku menanam sayuran hijau di pot bunga yang kosong itu," ucap Farida sambil menujuk pot bunga yang tersusun di pojok Apartemen.


Aditia mengaguk sembari tersenyum.


"Terimakasih," kata Farida.


"Apapun untuk mu istri kecilku!" Aditia mencubit hidung Farida.


Ya..!! Umur mereka terpaut cukup jauh. Kini umur Farida baru memasuki 20 tahun, sedangkan umur Aditia sudah 32 tahun. Namun usia tidak menjadi penghalang di antara mereka, orang lain juga tidak akan percaya bahwa Aditia adalah seorang pria yang sudah berumur.


Dengan tubuhnya yang tegap, rahang yang kokoh dan wajah yang tampan. Orang lain akan mengira bahwa usianya mungkin baru 25 tahun.

__ADS_1


Dengan semangat 45, Farida menanamkan benih-benih sayuran hijau. Seperti kangkung dan bayam di dalam pot itu, Padahal hari sudah sore. Tetapi Farida seakan tak memiliki rasa lelah.


"Sayang, apa kamu gak capek?" tanya Aditia yang setia menunggu Farida di belakang apartemen itu.


"Enggak, aku senang menanam sayuran. Apa mas gak pernah lihat, semua sayuran hijau yang ada di sekitar panti itu. Aku yang menanamnya," kata Farida.


"Masa sih?" tanya Aditia yang pura-pura tak percaya.


"Ih, gak percayaan sih!" sahut Farida sambil memonyongkan bibirnya.


Setelah selesai menanam kan bibit sayuran itu, Aditia mengajak Farida kembali ke dalam apartemen.


Saat sampai di dalam kamar, Farida segera bergegas menuju kamar mandi.


Ia segera menanggalkan pakaiannya. Namun saat hendak mandi, ia bingung bagaimana caranya.


"Mas, ini mana airnya? Aku gak bisa," ucap Farida dengan wajah imutnya.


Aditia terkekeh melihat kepolosan Farida. Lalu ia ikut masuk kedalam kamar mandi itu.


Namun saat ia masuk, ia menelan ludah dengan kasar.


Glek..!


"Sayang," ucapnya sambil mendekati tubuh Farida yang hanya berbalut handuk.


"Hemm, apa?" tanya Farida "Gimana cara ngambil airnya mas?" tanya nya lagi.


"Tapi mas, Ida kan belum mandi. Masih bauk," kata Farida dengan gugup. Jantungnya berdegup kencang saat tangan kekar Aditia menyentuh kulit lehernya.


"Mas," lirih Farida sambil memegangi tangan Aditia yang mulai meraba-raba.


"Mas gak tahan," kata Aditia dengan mata sayu.


Akhirnya Farida mengaguk. Setelah mendapat persetujuan dari Farida, ia segera menggendong tubuh mungil Farida kembali kekamar dan membaringkan tubuh itu ke ranjang king size milik mereka.


"Mas," panggil Farida.


"Mas janji bakal pelan-pelan," bisik Aditia di telinga Farida, setelah itu Aditia menciumi seluruh wajah Istrinya. Lalu di lum4tny4 bibir mungil Farida dengan lembut.


Farida nampak kaku, ia tidak mengerti cara berciuman. Karena ciuman Aditia adalah ciuman yang pertama baginya.


Aditia melepaskan ciuman itu. "Ayo sayang," kata Aditia.


"Aku gak bisa mas." jawab Farida.


Aditia tersenyum, dalam hatinya sangat bahagia karena ia lah yang mengambil ciuman pertama Farida.


Lalu Aditia kembali menciumi wajah Farida, lama kelamaan ciuman itu turun ke leher dan dada Farida. Aditia meninggalkan banyak jejak kepemilikannya disana.


Farida tidak kuasa menahan kenikmatan yang baru pertama ini ia rasakan, hingga ia mengeluarkan desahan dan lenguhan yang membuat gairah Aditia semakin melonjak naik.

__ADS_1


"Mas," Farida berucap sambil menjambak rambut Aditia.


"Mas, Ida pengen pipis," kata Farida.


"Pipis aja sayang, gak usah di tahan," ucap Aditia yang tangannya sibuk memainkan dua buah benda keny4l milik istrinya.


Tak lama, tubuh Farida menegang saat merasakan bawah pusatnya berkedut-kedut. Dan keluarlah c41r4n milik Farida.


Melihat Farida yang sudah melalui ereksi pertamanya, Aditia segera menanggalkan semua pakaian yang ia kenakan.


Farida menutup matanya saat melihat Rud4l besar milik suaminya. Ia malu sekaligus takut.


"Mas, pake selimut ya. Ida takut," kata Farida.


Aditia segera menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan Farida.


Setelah itu ia menatap wajah Farida. "Mas mulai ya!"


Farida pun mengangguk.


Dengan perlahan Aditia mulai mengg3s3k4n rud4l besarnya pada d4erah int!m istrinya.


Suara erangan dan desahan Farida semakin tak karuan.


Sudah beberapa kali Aditia mencoba memasukan rud4l itu, namun selalu gagal.


Ia mencoba lebih bersabar lagi memasukan benda itu, dan akhirnya.


Bless..!!


"Akkhh," pekik Farida, air matanya menetes ke pipi mulusnya.


Aditia mencium kedua mata Farida "Tahan ya sayang! Mas mainnya pelan-pelan kok," kata Aditia.


Farida hanya mengaguk, ia mencengkram kuat punggung suaminya.


Aditia mempercepat aktivitasnya di atas tubuh sang istri.


Lima belas menit kemudian, Aditia mencapai puncak kl1m4ksnya. Tubuhnya menegang, cairan miliknya ia tumpahkan di dalam sarang milik sang istri.


Setelah itu, ia menjatuhkan tubuhnya di samping tubuh Farida.


"Terimakasih sayang, sudah menjadikan aku yang pertama," ucap Aditia dengan senyum bahagianya setelah melihat bercak merah yang ada di sprai ranjang mereka.


Setelah itu, ia kembali berbaring di sisi kanan istrinya lalu menciumi wajah lelah itu dengan bertubi-tubi.


Farida memeluk tubuh Aditia, lalu menduselkan wajahnya di dada bidang sang suami.


***Bersambung..!!


Happy reading***..!!

__ADS_1


__ADS_2