
Eps. sebelumnya...
"Setelah pulang sekolah kalian harus membersihkan seluruh toilet yang ada disini!" Kata pak Anton yang sedang menghukum para siswa yang terlambat.
Setelah mendengarkan pak Anton berbicara panjang lebar, akhirnya mereka memasuki kelas masing-masing.
"Huft... capek deh, gara-gara hujan semalam gue jadi kesiangan!" gerutu Bella.
"Ki! Lo pasti juga kayak gitu kan! gimana kalo kita suruh aja si Cupu itu!" sambungnya. Tapi orang yang di ajak bicara itu tak kunjung menyahut.
"Ya ampun Ki? Lo sakit atau gimana? Dari tadi gue ngomong enggak di respon!" kata Bella kesal.
"Ah... iya sorry bel, Lo ngomong apa tadi?" kata Kiara yang tersadar dari lamunannya.
"Ihh... Kia enggak seru!" kata Bella.
...****************...
"Nih! Lo beresin semua toilet ini ya! Gue sama Kiara ada urusan!" Kata Bella sinis pada siswi berkacamata dengan rambut di ikat satu.
"Ta.. tapi setelah aku harus bantuin adik--"
"Winda, Gue bilang beresin! Enggak ada tapi-tapi!" Kata Kiara lalu meninggalkan siswi yang bernama Winda itu.
"Tumben amat sih anak itu keras kepala banget! Kita jadi di tinggal deh sama mereka!" Kata Bella yang tak henti-hentinya mengomel.
"Sekarang Lo mau ke mana Ki? Kalau enggak sibuk, yuk kita jal--"
"Gue ada urusan nih Bell! sorry yah, gue duluan" kata Kiara memotong ucapan Bella yang belum selesai itu.
"Ihh... Kalian semua kok jadi ninggalin aku sih!" kesal Bella.
...****************...
Kiara terus berjalan entah kemana, sambil memperhatikan jalanan dan smartphone nya bergantian.
Sampailah ia di sebuah taman yang sepi. Ia duduk di bangku yang telah di siapkan di sana. Smartphone itu terus berdering menelpon seseorang.
"..."
"Halo?" kata Kiara.
"Halo kenapa Ki?" tanya orang di dalam smartphone nya.
Kiara sempat terdiam lama.
"Ki? kalau enggak jadi, aku mati--"
"Kayaknya aku... hamil..." Kata Kiara terbata-bata.
"Hah?! Apa kamu bilang?"
"Aku hamil Dion!" ulang Kiara.
__ADS_1
"Tunggu... Kamu tau darimana kalau kamu.... Hamil?" tanya Dion.
"Aku udah uji lewat test pack yang, kamu tau enggak sih perjuangan aku beli itu. Kalau sampai ada yang lihat bisa salah paham"
"Mending kamu tes lagi, siapa tau itu sala--"
"Dion! Kamu... Hiks.. Kita... Enggak beneran ngelakuin itu kan... Hiks...!" Tangis Kiara kini pecah.
"CK! Dengerin aku Ki, Coba kamu tes lagi"
"JUJUR DION!" Bentak Kiara. Dion sempat terdiam.
"Memangnya kalau iya, kenapa?" kata Dion, sontak Kiara terkejut mendengar hal itu.
"Kamu kok tega sih! Hiks... Sekarang aku... Hiks... harus gimana!!"
"Lagian Lo juga yang mancing- mancing gue! Gimana enggak keterus--"
"DION! HIKS...HIKS...!" Sakit hati Kiara kian membara apalagi kekasihnya itu juga tidak ingin di salahkan atas kesalahan yang mereka perbuat. Belum lagi Dion memanggil Kiara dengan Lo- gue yang membuat Kiara semakin sakit.
"Udah ah, sekarang itu urusan lo! Lo cek aja lagi!" Dion mematikan telepon nya. Kiara masih menangis. Dadanya semakin sesak menahan ini semua.
"Hiks... Hiks..."
...****************...
"Kenzo! Aku ada kabar terbaru!" Kata seseorang yang langsung mendobrak pintu kerja Kenzo.
Kenzo yang saat itu sibuk dengan laptop dan berkas di hadapannya langsung terhenti dan melihat ke arah orang tersebut.
"Ada orang... yang melihat 'dia' di daerah X, ini! lihat ini, dekat banget sama daerah kita" pekik orang itu.
"Kamu serius kan Lan!" Kenzo langsung mengambil kertas yang ada di tangan Alan, teman kerja Kenzo.
Kenzo melihat dengan seksama. Senyum kecil terbesit di wajahnya.
"Syukurlah kalau gitu, berarti dia masih hidup sekarang, sepertinya kamu harus melanjutkan pekerjaan ku, aku mau pergi dulu" kata Kenzo sambil berlalu pergi.
"Ya... ya ampun! Gila amat berkasnya, Ken! Woy!" Alhasil Alan mengerjakan tugas Kenzo yang ia tinggalkan.
...****************...
Akhir-akhir ini hujan melanda di daerah ini. Sore menjelang malam itu Kiara terjebak di tengah hujan yang deras. Sebenarnya jarak dari rumah cukup dekat. Ia hanya perlu berlari dan sampai. Tapi niat itu ia urungkan.
Seperti yang dikatakan kekasihnya itu, Kiara mencoba untuk melihat lagi apakah benar atau hanya halusinasinya saja. Tapi mau berapa kali pun hasilnya tetap lah sama.
Ia sudah lama menangis. Sekarang ia menangis lagi di bangku yang telah di sediakan oleh minimarket itu.
Tak banyak orang lewat di sana. Kiara menutup wajahnya dengan tangan. Sambil memegang dua benda kecil. Tanpa disadari salah satu dari benda itu terjatuh.
Kepala Kiara mulai sakit. Pandangannya juga cukup buram akibat mata yang bengkak. Ia menyadari kedatangan seseorang.
"Permisi, eum... Apa ini punyamu?" Kata orang itu. Suara itu cukup mengalihkan Kiara. Melihat benda kecil yang sangat ingin ia sembunyikan, dengan cepat ia mengambilnya.
__ADS_1
"Ah... Iya, terima kasih..." Kiara melihat wajahnya. Seorang gadis manis yang usianya hampir sepantaran dengan Kiara.
Wajahnya tidak terlalu jelas. Akibat cahaya sore mulai meredup. Lampu jalanan mulai menampakkan cahayanya. Sekilas wajahnya gadis itu mulai terlihat jelas.
"AHH!" pekik Kiara. Ia langsung berdiri melihat gadis itu dan terjatuh akibat terkejut. Ya! Kiara terkejut melihat gadis itu. Sama halnya ketika melihat hantu mungkin? Tapi ini bukan hantu. Dia memang manusia.
"Ah... Hosh... Hosh..." Nafas Kiara kini tak beraturan. Ia berlari menjauhi gadis itu. Sampai tak sadar air hujan telah mengguyur tubuhnya.
Kiara telah sampai di rumah. Ia langsung menggedor pintu rumahnya.
DUGH... DUGH... DUGH...
"Cepat buka pintunya!" Teriak Kiara.
Pintu langsung terbuka dan Kiara langsung masuk. Ayu bingung melihat tingkah laku adik iparnya itu.
"kia! hey... ada apa?" Tanya Ayu.
"Hosh...Hosh... Kak!" Kiara bingung harus bicara mulai dari mana. Tidak mungkin ia bercerita soal yang ingin dia sembunyikan.
Kenzo yang baru saja pulang itu menghampiri Kiara dan Ayu.
"Ya ampun Ki! kamu habis dari mana aja? Jangan bilang kamu masih sama di--"
"kak! Aku... Aku baru saja melihat orang yang mirip banget sama aku...!" kata Kiara. Sontak perkataan itu mengejutkan Kenzo dan Ayu.
"Hah? serius kamu? Di mana dia sekarang?" Tanya Kenzo yang sama terkejut dengan Kiara.
Kenapa kak Kenzo malah nanyain dia? Batin Kiara.
"Aku lihat dia di minimarket" Kata Kiara. Kenzo langsung mengambil jaketnya dan keluar. Kiara yang saat itu baru tersadar 'benda' itu tergeletak ketika ia tersungkur. Buru-buru ia berlari mengikuti Kenzo.
"Kia! Mau ke mana? Ganti baju dulu!" Kata Ayu tapi justru Kiara tidak mendengar itu.
Kiara berusaha berlari sekencang-kencangnya. Walaupun perutnya itu sedikit sakit tapi ia harus berhasil mendapatkannya.
"Loh? kia! ngapain kamu!" Kata Kenzo yang masih berlari. Sekarang mereka berdua seperti bermain kejar-kejaran.
Cepat banget larinya tu anak! Batin Kenzo.
Mereka telah sampai di minimarket. Kiara buru-buru mencarinya. Tapi tak kunjung ketemu.
"Kia! Kamu ngapain sih di sini?" Tanya Kenzo.
"Aku mau... Eum... Nunjukin di mana aku liat dia kak!" Kata Kiara bohong. Kiara terus melihat-lihat area tersebut. Tapi dua 'benda' itu sudah hilang.
"Tapi kamu kok kayak nyari sesua--"
"Kak! Kenapa kakak... seperti ingin sekali bertemu dengan orang itu..." Potong Kiara. Ia memang merasa ada yang mengganjal dengan kakaknya.
Kenzo hanya terdiam. Mereka pun akhirnya kembali pulang.
...****************...
__ADS_1
Terimakasih sudah membaca dan mendukung novel ini 😊
tetap semangat dan sampai jumpa lagi 👋