
"Masuk sana Ki!" Ucap Kayra mempersilahkan Kiara untuk masuk terlebih dahulu.
"Enggak apa-apa, sana pulang!"
Kayra terkekeh kecil. Ia pun berbalik arah menuju rumah. Namun siapa di sangka, langkah Kayra terhenti seketika. Ia terkejut melihat orang yang ada di hadapannya.
"Hai Kiara! Kamu baru pulang?" Mata orang itu tertuju pada Kiara yang masih di belakang Kayra.
"Eh.. Itu... Hah?! Du-Dua Kiara, aku enggak salah lihat?"
...****************...
"Apa yang terjadi ini?"
"Lo bisa diam dulu enggak, gue juga lagi mikir gimana ngomong nya..." Ucap Kiara ketus. Kayra juga memikirkan hal yang sama. Belum lagi Winda terfokus pada perut Kiara yang besar.
"Lo beneran mau ngasih tau?" Bisik Kiara di dapur meninggalkan Winda di ruang tamu.
"Ya mau bagaimana lagi? Mau bohong pun enggak bisa juga..." Ucap Kayra.
"Huft... Kenapa sih anak itu lewat sini? Merepotkan!"
"Jangan gitu Kiara, Lo kan udah tau gue sama Winda sudah berteman. Lo juga harus minta maaf atas perlakuan Lo ke dia... Gue yakin Winda bakal maafin Lo dan bisa sembunyikan hal ini" Ucap Kayra.
"Iya deh.."
Setelah membicarakan berdua, mereka kembali menghampiri Winda.
"Win, sebelum ke inti pembicaraan, Gue mau minta maaf sama Lo atas perilaku gue yang buat Lo susah..." ucap Kiara.
"Eung... I-iya Kiara... Enggak apa-apa kok..." kata Winda.
"Apa yang Lo lihat sekarang ini benar, gue hamil dan di samping gue ini Kayra, saudara kembar gue" lanjut Kiara.
"Hai Winda!" Ucap Kayra.
"Jadi selama ini Kayra yang gantiin posisi Kiara?" Tanya Winda tak percaya.
Mereka berdua mengangguk mengiyakan.
"Teman-teman kalian udah tau juga?" Sambung Winda.
"Nah itu dia, gue minta tolong Lo rahasiakan soal ini..." Pinta Kayra.
"Ah... Iya aku mengerti, aku enggak bakal ngasih tau kok"
"Oh iya kok baju Lo kayak kotor gitu sih?" tanya Kayra yang melihat pakaian Winda sangat kotor bahkan di wajahnya juga terdapat sedikit lecet.
"Ini... Tadi habis jatuh, aku enggak liat ada batu di depan.." kata Winda cengengesan.
...****************...
Keesokan harinya di sekolah, Kayra mulai dekat dengan Winda. Hal itu ia lakukan untuk mengawasi Winda agar dia tetap merahasiakan masalah Kiara.
Namun ketiga temannya agak risih dengan sikap Kayra yang mulai berubah.
"Gue keluar sebentar ya" Ucap Kayra. Ia langsung bergegas pergi keluar kelas.
"Kiara akhir-akhir berubah banget..." ucap Bella.
__ADS_1
"Semenjak baikan sama Winda mereka jadi lebih dekat..." lanjut Ezra.
Sementara itu di kelas Winda, Kayra sudah menunggu dirinya di depan kelas.
"Kay-- eh maksud ku Kiara? Ngapain di sini?" Tanya Winda terkejut melihat Kayra tengah menunggu dirinya.
"Ini buat Lo, tadi gue habis ke kantin..." Kayra memberikan sebungkus roti dan minuman.
"Ya ampun enggak usah repot-repot..."
"Udah enggak apa-apa!" Alhasil Winda pun menerima pemberian dari Kayra.
Kebetulan Devan keluar dari kelas. Dan saat itu mereka saling bertatapan.
"Ah... De--" Kayra ingin menyapa namun Devan terlalu cepat berjalan dan sama sekali juga tidak menegurnya.
"Kenapa Ki?" tanya Winda melihat Kayra yang sempat melamun.
"Ah.. Enggak, gue kembali dulu ya..."
Di kelas Kayra, ia langsung duduk di bangkunya. Ketiga temannya langsung duduk mengarah Kayra.
"Loa habis dari mana?" tanya Bella curiga.
"Tadi ngasih makanan sama minuman ke Winda... Enggak apa-apa kan?"
"Huft... Enggak apa-apa sih, tapi Lo kayak makin dekat gitu sama dia" kata Irene.
"Ma-maaf... Kali ini aja kok..."
...****************...
BRUGHH!
"Kalau aja kak Kenzo enggak ngelarang, enggak kayak gini kan... Gue kayak anak kecil hindari Kiara terus... Dia pasti bingung banget..." Gumam Devan.
"Gue tau, Lo pasti enggak bakal ngelakuin itu kan... Kalau pun Lo mau sebarin ya terserah Lo aja deh... Karena yang penting gue harus cari dalang semua itu" ucap Kayra.
Perkataan Kayra terus terngiang di benaknya.
"Kiara percaya sama gue?"
Dringgg.... Dringgg... (bunyi nada dering hp)
"Siapa sih ini?"
"Kakak! Cepat ke kamar ku! Aku butuh bantuan kakak!" Ucap adik Devan bernama Dina.
"Ya ampun ngapain telpon sih, padahal kamar kita bersebelahan loh..." Kesal Devan.
"Aaa... Aku sangat mager kak! Tolong kak, aku pusing banget...."
"Iya iya bentar aku ke sana!" Devan pun pergi ke kamar adiknya yang berada di sebelah kamarnya.
Namun tiba-tiba suara Eric yang sangat nyaring membuat Devan mengehentikan langkahnya.
"Eh itu papa kenapa teriak?" Gumam Devan. Ia pun bergegas melihat keadaan papa nya.
"Huft... Bagaimana bisa dia langsung meminta mu putus?" Tanya Eric pada seorang lelaki di hadapannya.
__ADS_1
"Saya juga enggak tau pak, mungkin karena orang tuanya enggak bolehin dia pacaran..."
Devan melihat Eric bersama lelaki yang tidak asing baginya.
Ohh... Ternyata ngomong sama orang... Kirain ada apa... Batin Devan.
"Baiklah, tidak apa-apa! Toh perusahaan mereka tidak terlalu bagus. Hari ini kebetulan aku ada tamu dari kota X dan dia memiliki perusahaan yang cukup menarik. Akan aku kirim foto putrinya... Kamu harus lebih cerdik mendekati perempuan itu..." Ucap Eric.
"Baik pak..."
Hah? Apa yang mereka bicarakan sih? Kok agak aneh ya? Batin Devan.
Dringgg.... Dringgg...
Devan terkejut smartphonenya berbunyi cukup nyaring. Ia khawatir ia ketahuan menguping pembicaraan mereka. Devan pun buru-buru bersembunyi.
"Eh, sepertinya ada orang di luar?" Gumam Eric. Ia pun pergi ke luar. Namun tidak ada siapa-siapa.
"Mungkin ada yang lewat pak, kalau begitu saya pulang dulu"
"Baiklah"
Hah?! Tidak mungkin... Ternyata benar dia adalah orang itu! Bagaimana papa bisa mengenalnya? Batin Devan.
Malam harinya Devan pergi ke ruangan Eric tanpa sepengetahuannya. Devan mencoba mencari tau sesuatu yang papa nya rencanakan.
Ruangan tersebut cukup luas. Devan berjalan mendekati meja kerjanya. Tepat di atas meja, terdapat foto perempuan dan di bawah foto itu bertuliskan nama perempuan tersebut.
"Sinta?" Gumam Devan.
Ia menggeledah satu persatu lacinya. Ada sesuatu yang aneh di laci pertama. Terdapat amplop coklat yang tersusun rapi. Di masing-masing amplop terdapat nama orang.
Ia membuka salah satu amplop. Terdapat banyak foto dan betapa terkejutnya ia melihat gambar harusnya tidak ia lihat.
"Apa-apaan ini?!" Devan buru-buru memasukkan kembali amplop itu. Pandangannya teralihkan dengan salah satu amplop bertuliskan 'Kiara Kusuma Wardani'.
Buru-buru ia mengambil dan membukanya. Benar saja, di amplop itu terdapat foto-foto Kiara bersama kekasihnya, Dion. Foto-foto itu memperlihatkan kedekatan mereka berdua. Ada yang mereka berboncengan bersama, ada yang sedang makan bersama dan lainnya.
"Ternyata benar, laki-laki itu adalah orang ini!"
Devan mencoba membuka laci berikutnya. Sama halnya amplop coklat yang terdapat nama-nama orang, di laci berikutnya ada banyak flashdisk yang juga bertuliskan nama-nama orang.
Devan mencoba melihat salah satu flashdisk tersebut dan melihat sesuatu di dalamnya.
Dan benar saja, terdapat video yang sama seperti video Kiara. Lelaki itu pun sama, sepertinya memang ada keganjalan di sini.
CEKELK....
"Hahah... Pasti kalian sangat lelah, tapi aku malah membawa kalian ke sini..." Ujar Eric.
"Tidak apa-apa, kami senang berkunjung ke tempat anda..."
Devan melihat papa nya bersama laki-laki dan seorang anak perempuan seumuran dirinya.
Eric terkejut melihat Devan yang berada di meja kerjanya.
"Devan, apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya Eric.
...****************...
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca dan mendukung novel ini 😊
Tetap semangat dan sampai jumpa lagi 👋