
Devan mendekati Eric dan dua orang tamunya. Ia melihat perempuan sebayanya di hadapannya. Wajah perempuan sangatlah sama persis dengan yang di foto tadi.
"Nama Lo... Sinta?" Ucap Devan. Perempuan itu gelagapan.
"I-iya.. Benar!" Sinta jadi malu-malu melihat ketampanan Devan dan dia mengetahui namanya.
"Bagaimana anda bisa mengetahuinya?" Tanya lelaki di samping Sinta.
"Ada pin di bajunya, aku hanya memastikan saja..." Ucap Devan pada lelaki yang berumur sudah tua itu yang ternyata ayah dari Sinta.
"Ah... Aku baru aja pulang sekolah, jadi belum berganti pakaian..." Kata Sinta. Ia cukup malu karena ia pikir Devan tertarik dengannya.
"Apa aku bisa berbicara dengan ayah ku dulu? Kalian bisa menunggu kami di ruang tamu.." pinta Devan pada kedua tamunya.
"Ah... Baik--"
"Begini saja, bagaimana kalau kita sambung besok? Lagipula anakmu baru saja pulang sekolah, aku tidak mengetahuinya... Maafkan aku" Ucap Eric.
"Hahah... Tidak apa-apa, kalau begitu kami pamit dulu..."
...****************...
Setelah mengantarkan kedua tamunya pergi, Eric kembali ke ruang kerjanya dan duduk berhadapan dengan Devan.
"Apa yang kamu lakukan di ruangan ku tadi?" Ucap Eric memulai pembicaraan.
Devan melempar sebuah foto dan berkas ke atas meja.
"Ini, foto ini adalah anak itu kan? Apa yang akan papa lakukan padanya?" ucap Devan dingin.
"Katakan saja apa yang kamu ketahui dari ruangan ku? Kamu pasti sudah menghamburkan meja papa kan..." ucap Eric yang melihat ke arah mejanya yang cukup berantakan.
"Baiklah, aku akan langsung saja mengatakan ini. Apa dia menjadi target papa selanjutnya?"
"Benar!"
"Kenapa Pa!? Itu adalah hal terkeji yang pernah papa lakukan setelah memutuskan hubungan dengan mama!" Bentak Devan.
"Kenapa kamu membahas mama mu, Devan? Dengar! Papa melakukan ini adalah untuk perusahaan kita. Kamu adalah pewaris utama dari keluarga Adhitama"
"Tapi enggak seperti itu, pa! Berapa banyak perempuan yang papa lakukan seperti itu? Bahkan Kiara juga..."
"Ohh... Ternyata kamu yang mengambil flashdisk itu? Aku pikir sudah hilang... Berikan pada papa seka--"
"Arghhh! Aku tidak akan memberikan itu pada papa!" Devan langsung pergi dari ruangan Eric dengan perasaan berkecamuk.
CEKELK...
BRAKK
Perasaan kesal dan jengkel menjadi satu. Ia benar-benar tidak menyangka orang terdekatnya lah yang merencanakan semua itu.
Gue benar-benar enggak bisa menampakkan wajah gue lagi di depan Kiara... Batin Devan.
...****************...
Devan benar-benar mulai menjauhi Kayra. Bahkan dia tidak sama sekali menyinggung perihal video itu. Kayra juga merasa bingung dengan tingkah Devan yang semakin hari semakin aneh.
__ADS_1
Kayra bahkan pernah menunggunya di kelas Devan, namun bukannya menghampiri Kayra ia justru Langsung pergi.
"Ki! Duluan ya!" Ucap Ezra.
"Iya Zra! Hati-hati ya!" Ucap Kayra. Hari ini adalah jadwal piket nya dengan teman yang lain.
Sedangkan ketiga temannya itu sudah pergi duluan.
"Ada lagi kah yang perlu di bersihkan, Kiara?" ucap Anggi, teman sekelas Kayra.
"Sepertinya sudah enggak ada, tinggal buang sampah. Nanti biar gue aja yang buang" Ucap Kayra.
"Oke deh, kalau gue cabut dulu enggak apa-apa? Mau jemput adik di rumah Tante gue..."
"Ohiya enggak apa-apa, Gi! Hati-hati ya!"
Kini tinggal Kayra yang tengah bersiap untuk pulang. Sebelum pulang ia membuang sampah terlebih dahulu di depan sekolah.
"Ah... Akhirnya beres juga.. Eum? Itu..." Pandangannya teralihkan melihat seseorang yang tengah menyendiri di rooftop.
...*...
...*...
...*...
"Huft..."
Entah berapa kali dia menghela nafas panjangnya dan entah berapa lama ia duduk di sana. Rasanya waktu terus berjalan sangat cepat sekali, seakan-akan tidak ada waktu untuknya beristirahat.
Seseorang melangkah mendekatnya, ia langsung menoleh ke arah orang tersebut.
"Ki--Kiara?! Lo ngapain di sini?" Devan terkejut melihat Kayra dan buru-buru bergegas pergi dari tempat itu.
"Tunggu!" Kayra menahan Devan agar tidak pergi.
"Lo kenapa sih akhir-akhir ini menghindar terus sama gue?" Tanya Kayra.
"Ya... Enggak apa-apa, lagian urusan kita sudah selesai Ki! Lo enggak usah peduli lagi sama gue" Kata Devan.
"Gimana gue enggak peduli! Walaupun urusan kita sudah selesai tapi kan kita masih teman, Van?" Ucapan Kayra membuat Devan terhenyak.
"Lo... Ada masalah ya?" Tanya Kayra ragu.
"Enggak, Ki!" Devan menundukkan kepalanya ia berusaha mengalihkan pandangannya. Ia masih tak sanggup menatap wajah Kayra.
Kayra yang melihat wajah Devan merasa sedih itu langsung memegang tangannya dengan erat.
"Gue bisa kok jadi teman curhatan Lo, atau kalau Lo masih belum bisa ungkapinnya jadi teman sandaran Lo pun enggak masalah..." Ucap Kayra menenangkan Devan.
Devan merasa tersentuh dengan ucapan Kayra. Ia tidak bisa lagi menyembunyikan semuanya. Ia pun menenggelamkan wajahnya di pindah Kayra.
"Makasih Kia!"
...****************...
Deg... Deg... Deg...
__ADS_1
Ada apa ini? Kenapa jantung gue jadi berdegup kencang gini? Ah... Masa karena Kiara megang tangan gue, kan enggak lucu! Batin Devan.
Di dalam mobil, ia tak henti-henti melihat tangan kanannya yang tadi telah di genggam oleh Kayra.
Tapi gue emang ngerasa... Gue lebih baik setelah dekat dengan Kiara.... Apa gue suk-- Arghh! Enggak mungkin... Jangan! Batin Devan.
Saat ini ia merasa nyaman dengan Kayra. Tapi karena ia tidak mengetahui Kiara yang memiliki kembaran itu masih menyangkal oleh perasaannya.
"... Tuan? Apa anda mendengar saya berbicara tadi?" Ucap sopir pribadi Devan.
"Hah? Kamu ada ngomong sesuatu?" Tanya Devan.
"Benar tuan"
"Ah... Aku tidak dengar... Kamu bilang apa tadi?"
Sepertinya hati tuan Devan sedang baik.... Bahkan dari tadi senyum-senyum sendiri... Tapi aku jadi di abaikan... Batin sopir itu.
"Huft... Jadi--"
...****************...
TING... TONG.... (suara bel rumah)
CEKLEK...
"Akhirnya Lo datang juga! Ayo masuk, Win!"
"Maaf ya agak terlambat"
"Ya ampun enggak apa-apa Winda, malah gue jadi enggak enak sama Lo!" Ucap Kayra.
Malam ini Winda pergi ke rumah Kayra. Waktu di sekolah Kayra meminta tolong pada Winda untuk mengajarkannya beberapa mata pelajaran yang sulit. Karena sebentar lagi akan ada ujian tengah semester, mereka ingin mempersiapkan sebelum ujian di mulai.
"Hari ini aku juga bawa laptop nih, karena materinya aku taruh di situ" ucap Winda.
"Wah... Kayaknya banyak banget ya materinya..."
"Enggak juga kok, Ohiya kalau kamu punya flashdisk, bisa aku simpankan!"
"Oke deh! Flashdisk ada gue taruh di atas meja, gue ke dapur dulu ya!" Kayra pun bergegas ke dapur menyiapkan beberapa camilan dan minuman yang tadi ia beli sebelum Winda datang.
"Ada siapa Kay?" Tanya Ayu.
"Ohh, kak Ayu! Ada teman ku kami mau belajar bersama untuk persiapan ujian"
"Oh gitu, Untung aja dia enggak dengar aku manggil kamu Kayra..." ucap Ayu.
"Ah itu... Sebenarnya dia sudah tau kalau kami itu kembar..." Kata Kayra.
"Hah? Kok bisa?!"
Kayra pun menceritakan secara singkat pertemuan mereka pada waktu lalu.
...****************...
Terima kasih sudah membaca dan mendukung novel ini 😊
__ADS_1
Tetap semangat dan sampai jumpa lagi 👋