Pergi Dan Kembali

Pergi Dan Kembali
Eps. 49 The Last Story


__ADS_3

"Selamat kepada seluruh siswa dan siswi kelas 12! Dengan ini kami menyatakan kalian semua LULUS!"


"YEAYY!"


"HUAA! MAMAAA! AKU SUDAH LULUSSS!"


"KENAPA CEPAT BANGET!"


"AKHIRNYA GUE KELUAR DARI SEKOLAH INI! HUUU!"


Sorak-sorai suka dan duka dari siswa dan siswi kelas 12. Hari ini adalah hari yang mereka tunggu-tunggu. Ya ini adalah kelulusan mereka.


Acaranya terbilang cukup meriah yang di laksanakan di lapangan SMA 1 itu sendiri. Para orang tua atau wali mereka datang untuk memeriahkan acara tersebut.


"Baik saat nya memberikan penghargaan kepada siswa yang berprestasi di tiap kelasnya. Nanti saya akan menyebutkan nama siswanya dan bisa maju ke depan bersama orang tua atau walinya. Baik untuk siswa terbaik kelas 12-1 adalah.... BIAN PRAYOGA!"


PLOKK... PLOKK...


"Akhirnya Lo jadi siswa terbaik di kelas! Apalagi pesaing Lo sudah enggak ada" Ucap Heksa menyemangati.


"Huft... Tapu enggak gini juga sih caranya" ucap Bian yang cukup sedih. Ia pun maju ke depan.


Heksa dan Bian merupakan sahabat karib Devan. Biasanya di kelas, Devan selalu menduduki peringkat yang pertama, yang kedua adalah Winda, dan ketiga adalah Bian.


"Siswa terbaik kelas 12-2 adalah TIARA NABILA!"


PLOKK... PLOKK..


"Dan siswa terbaik kelas 12-3 adalah... KAYRA KUSUMA WARDANI!"


PLOKK... PLOKK....


"Hahh?! Yang bener?" Ucap Kayra tidak percaya.


"Yeayy! Iya Lo Kay!" ucap Bella.


"Selamat ya!" Ucap Ezra.


"Maju sana Kay!" Ucap Irene.


Para siswa terbaik tiap kelas maju ke depan untuk di beri penghargaan dan foto bersama.


"Selamat ya anak mama!" Ucap Lia.


"Hehe... Makasih maa!"


"Ayo kita foto!"


"Satu... Dua... Tiga..."


CEKREKK!


...****************...


"Kiara! Kami pulang!" Kayra buru-buru masuk ke dalam rumah dan mencari Kiara.


Ternyata ia sedang duduk terdiam sambil memandang ke arah jendela.


"Kiara! Gue dapat penghargaan di kelas!" pekik Kayra senang.


"Oh ya? Selamat..." Kiara melihat ke arah Kayra dan tersenyum tipis lalu kembali melihat ke arah jendela.


Semenjak ia tersadar dari kecelakaan itu dan mengetahui Dion dan anaknya telah meninggal, raut wajah Kiara sangat berubah drastis.


Tidak ada senyum simpul yang dulu mengembang di bibirnya melainkan itu semua telah pudar.


Semua keluarga dan teman-teman sudah berusaha untuk menyemangati Kiara, namun tak kunjung berhasil. Akhirnya mereka memaklumi kondisi Kiara sekarang.


"Makasih Kiara! Oh iya satu lagi! Kita kedatangan tamu! Ayo masukk!"


"Halo Kiara!"


"Kiaraaa! Kangen dehh!"


Irene, Bella, dan Ezra datang untuk melihat kondisi Kiara.


Kiara tidak mengatakan sepatah kata apa pun dan hanya tersenyum kecil.


"Oke gimana kalau kita mulai aja masak-masak nya?" Ucap Irene mencairkan suasana yang cukup canggung.


"Nah iya ayok! Kiara ayo kita ke dapur. Lo cuma duduk aja kok liat kita masak!" ajak Bella.


"Kalian mau masak ya? Gue di sini aja... Enggak apa-apa kan?"


"Ah... Iya Ki! Tapi kalau sudah, kami panggil untuk makan bareng, oke?"


Kiara hanya menganggukkan kepalanya.


Mereka bertiga langsung pergi ke dapur untuk memasak dalam rangka kelulusan mereka. Sedangkan Ezra masih bersama Kiara di ruang tamu.


Kiara yang menyadari masih ada orang selain dia, menoleh ke belakang.


"Lo masih di sini? Gue pikir ikut masak juga"


"Ah... Itu, dari pada gue di sana malah nyusahin, jadi mending gue di sini aja dulu. Kalau di suruh baru gue ke sana!"


Kiara kembali terdiam. Ezra juga bingung harus melakukan apa dengan Kiara agar Suasananya tidak canggung.


"Eum... Gimana keadaan Lo sekarang?"


"Cukup baik"


"Syukurlah..."


Mereka berdua kembali terdiam.


...****************...


"Padahal kita cuman bulgogi-an tapi kenapa susah gini ya?" ucap Bella.


"Apanya yang susah?"


"Ini... Dapurnya seketika berantakan kalau kita yang masak"


"Itu sih Lo aja yang hamburin"

__ADS_1


"Gimana? Sosis nya udah?" tanya Kayra.


"Udah nih!"


Beberapa saat kemudian.


"Akhirnya selesai jugaa! Hmm... Pasti enak banget ini..."


"Ayo panggil yang lain!"


"Biar gue aja yang mangg--"


"Sudah?" tanya Ezra tiba-tiba.


"Eh.. Astaga! Baru aja mau panggil kalian" ucap Irene.


"Mana Kiara? Kenapa enggak ke sini?" tanya Bella.


"Dia... Belum tau. Panggil sana Bel!"


"Kenapa jadi gue? Kan tadi sama Lo!"


"Udah... Gue aja yang manggil Kiara! Kalian tolong persiapkan alat-alat makan ya!"


Kayra langsung pergi menghampiri Kiara.


"Ki! Ayo ke meja makan. Makanannya sudah siap!"


"Kalian aja yang makan"


"Loh kok gitu sih" Kayra mendekati Kiara dan melihat raut wajahnya tampak berbeda dari sebelumnya.


"Ezra ada ngomong apa sama Lo?"


"Enggak ada"


"Ayolah Ki! Kita jarang makan bareng loh... Ya? Please?"


"Huft... Iya deh!"


Akhirnya Kiara mau juga pergi untuk makan bersama.


"Yeayy! Kiara datang!"


Mereka pun makan dengan lahapnya dan tanpa menyisakan sedikit pun.


Kayra melihat sikap Ezra dan Kiara yang baginya agak aneh.


Sepertinya ada sesuatu yang terjadi di antara mereka? Batin Kayra.


"Kami pulang dulu ya!"


"Makasih ya Kayra! Kiara!"


"Sama-sama! Hati-hati ya!"


Setelah mengantarkan mereka pulang, Kayra kembali menutup pintu dan melihat Kiara yang hendak pergi ke kamarnya.


"Kiara!"


"Kenapa?"


"Enggak apa-apa... Gue pasti bakal rindu sama Lo..."


"Apa maksudnya?"


"Gue bakal lanjut kuliah, Ki! Dan nanti kita bakal jauuuuhhhh banget..."


"Lo sudah di terima di sana?"


"Iya udah!"


"Bagus deh kalau gitu! Selamat ya! Gue mau istirahat dulu" ucap Kiara sambil mencubit pipi Kayra dan masuk ke dalam kamarnya.


CEKELK...


BRAK!


"Kiara..." Gumam Kayra.


...****************...


Dua tahun kemudian...


"Kenapa Lo ngajak gue ke sini?" Tanya Kiara.


"Cuman jalan-jalan aja"


Setelah memarkirkan mobil, mereka berdua keluar. Suasana yang sangat tenang, dengan lingkungan sekitar yang sedap dipandang mata. Di tambah keindahan matahari yang akan terbenam.


"Ayo kita ke sana!"


Kiara hanya menurut dan mengikutinya.


"Pemandangannya bagus enggak?"


"Lumayan" Ucap Kiara singkat.


"Pasti ada yang mau Lo omongin kan Zra?" sambung Kiara.


"Ah... Ya begitulah..." ucap Ezra.


"Gue masih bertahan dengan perasaan yang gue punya Ki! Mungkin dua tahun yang lalu, Lo pasti marah kan sama gue"


"Ya iyalah! Gimana bisa Lo nyuruh gue untuk lupain dia sama anak gue!" pekik Kiara yang kesal karena mengingat pembicaraan mereka dulu.


"Ya deh gue minta maaf... Dan sekarang... Gue enggak masalah kalau Lo memang masih teringat oleh mereka berdua. Karena gue ingin bahagia-in Lo seorang..."


"Huh... Maksud Lo sekarang apaan Zra?"


"Sekarang gue lagi ngelamar Lo Ki. Gue sayang sama Lo, gue cinta Sama Lo.."


"Sayang? Cinta? Haha... Gue kan udah bilang, gue enggak bisa Nerima cinta Lo. Lo itu teman gue! Sahabat gue! Dan bahkan sudah gue anggap keluarga gue! Dengar Ezra! Di luar sana masih banyak cewek lain daripada gue... Lo bilang mau bahagia-in gue kan? Justru dengan ini gue jadi beban bagi Lo. Dan sekarang gue bahagia Zra dengan keadaan gue! Jadi please... Jangan bahas ini lagi..."


"Tapi Ki... Tidak ada salahnya Lo buka hati Lo lagi!"

__ADS_1


Kiara terdiam dan melihat ke arah Ezra. Ia pun langsung memeluknya.


"Maaf Zra! Susah bagi gue buka hati gue lagi..." Kiara bangkit berdiri dan meninggalkan Ezra sendiri di sana.


...****************...


Sementara itu Kayra yang sibuk dengan aktivitas kuliahnya di Inggris. Saat itu adalah musim dingin. Ia mengenakan pakaian berlapis karena ia tidak tahan dengan cuaca dingin.


"Wadaww! Lagi kedinginan yaa..." ucap seorang di handphone.


"Iya nih dingin banget..." ucap Kayra.


"Itu berarti Lo butuh selimut bernyawa nihh.. Hahah!"


"Iihh... Apaan sih Ren?!"


"By the way Devan belum ada hubungi Lo gitu?"


"Belum ada sih... Biarlah, mungkin dia cukup sibuk..."


"Masa sibuk terus sih Kay! Dua tahun Loh enggak ada kabar, sekali ngabarin juga pas seminggu dia pergi"


"Huft.... Udah ah enggak usah bahas dia, sekarang Ezra sama Kiara gimana?"


"Masih seperti biasanya... Gue justru kasian sih sama Ezra"


"Hmm... Oh iya kita sambung nanti deh, kebetulan gue lagi di luar. Ini mau lanjut cari mantel..."


"Oke deh semangat ya, sekalian cari selimut bernyawa nya Kay.. Hahah!"


"Apaan sih... Ya udah deh bye"


"Bye!"


Setelah mematikan telepon dari Irene, Kayra yang sedang ada di sebuah cafe tengah bersiap untuk pergi.


"Uhhh... Dingin..."


Kayra termasuk kurang bisa menahan dingin. Ia tak peduli memakai beberapa mantel atau jaket di tubuhnya yang membuatnya terlihat gemuk.


"Hmm.. Gue belum pernah ke toko ini sih, coba ah cari-cari mantel di sini" gumam Kayra. Ia pun masuk di sebuah toko cukup besar dan cukup ramai.


Banyak pakaian bermerek dengan kualitas yang sangat bagus mulai dari segi motifnya serta bahan yang di gunakan.


"Wahh..."


Kayra mulai melihat-lihat beberapa mantel dan pakaian lain yang menarik, namun seketika perhatiannya tertuju pada sebuah mantel yang tergantung sendiri di dekat kasir.


"Permisi, apa ini di jual?" Tanya Kayra pada sebuah karyawan di sana.


(Garis miring \= bahasa Inggris😅 maklum kurang bisa bahasa Inggris)


"Eumm... Sepertinya iya, bukankah semua barang di sini di jual semua? Haha?" Ucap karyawan itu yang sepertinya dia baru saja bekerja dan kelihatan bingung juga.


Di sisi lain, seorang lelaki baru saja masuk di toko yang sama. Karyawan yang lain melihat lelaki itu langsung mendekatinya.


"Ada yang bisa saya bantu tuan?"


"Ibu ku bilang ada berkasnya yang tertinggal..."


"Baik akan saya ambilkan"


"Dan... Tunggu! Apa ada mantelnya juga di sini?"


"Ah iya ada! Akan saya ambilkan sebentar"


Karyawan itu bergegas apa yang di minta dari lelaki tadi.


"Permisi, maaf saya ingin lewat sebentar mau mengambil mantel itu" tunjuk karyawan pada mantel yang baru saja Kayra suka.


"Tapi saya baru saja mau membeli mantel itu" Ucap Kayra.


"Apa? Hey kamu bilang apa tadi sama pelanggan ini?" Ucap karyawan itu dengan temannya yang melayani Kayra.


"Dia ingin membeli mantel, kebetulan ada mantel yang terpajang di sini. Bukankah ini juga di jual? Kan juga terpajang di luar..."


"Ya ampun... Ini adalah mantel nyonya! Tuan muda baru saja ingin mengambilnya. Aku juga tidak tau kenapa mantel ini ada di sini... Sepertinya nyonya sendiri yang menaruhnya di sini. Tapi sebaiknya kamu bertanya dulu kepada yang lain"


"Ah... Maaf...."


"Hei! Kenapa lama sekali? Apa bisa di percepat? Aku ada urusan lain" ucap lelaki tadi.


"Ah.. Maaf tuan, sepertinya tadi ada kesalahpahaman"


"Maafkan saya! Bagaimana kalau saya memperlihatkan beberapa mantel yang lebih bagus lagi?" ucap karyawan itu pada Kayra dengan rasa bersalah.


"Tidak apa-apa... Baiklah kalau begitu"


Kayra mengikuti karyawan itu dengan melewati lelaki yang ingin mengambil barang ibunya yang tertinggal.


Lelaki itu merasa seperti melihat seseorang yang ia kenal dan ia rindukan selama ini.


"Saya benar-benar minta maaf..."


"Ah... Tidak apa-apa... Haha..."


"Kayra....?"


Langkah Kayra terhenti ketika ada seseorang memanggilnya. Ia menoleh ke belakang dan melihat seorang lelaki muda di belakangnya.


"Devan...?"


Lelaki itu tersenyum manis ke arah Kayra.


"Hai..."


...****************...


Terima kasih sudah membaca dan mendukung novel ini 😊


Akhirnya ceritanya telah berakhir ya kawan😄


Yahh... Tidak banyak kata penutup di episode kali ini....


Saya ucapkan terima kasih dan mohon maaf apabila terdapat kata-kata yang tidak mengenakan hati kalian semua🙏🏻

__ADS_1


Sampai jumpa di novel aku berikutnya yaa...


See you...


__ADS_2