
"Lo kenapa keluar sih? Kan gue bilang di dalam aja!" kesal Kiara.
Setelah Kenzo kembali untuk mempersiapkan pencarian Kayra, Kiara memarahi Dion yang keluar tiba-tiba dan hampir membuat keributan dengan Kenzo.
"Bukan cuman Devan aja yang minta maaf ke kalian... Gue juga merasa bersalah sama Lo dan keluarga Lo" ucap Dion.
"Huft... Terserah Lo deh, jadi enggak kita berangkat?"
"Devan? Gimana keadaan Lo sekarang?"
"Gue baik-baik aja, lebih baik kita pergi sekarang ke markas itu!"
Akhirnya mereka bertiga menaiki mobil milik Dion yang ia bawa tadi malam. Perjalanan mereka membutuhkan waktu sekitar 5 jam untuk sampai ke sana.
Hari mulai senja. Mereka bertiga telah sampai di tempat tujuan. Dion memarkirkan mobilnya di luar agar tidak ketahuan dengan penjagaan yang cukup ketat.
"Bagaimana ini? Yang jaga di luar banyak banget... Apalagi di dalam!" ucap Kiara.
"Gue coba masuk dulu, gua yakin pasti mereka akan--"
"Stop!" Dion mengehentikan ucapan Devan.
"Jangan Lo pikir ni markas punya bokap Lo, Lo bisa keliaran di tempat ini! Mau anak pejabat tinggi sekalipun mereka bakal menghadang siapapun untuk masuk." kata Dion.
"Jadi bagaimana ini?"
"Dengar! Kalian tetap saja di mobil. Aktifkan terus handphone kalian. Sewaktu-waktu gue bakal telpon!" ucap Dion. Ia langsung masuk ke dalam.
Sangat mudah untuk dirinya masuk ke dalam. Mungkin karena ia juga merupakan bawahan dari Eric.
Seseorang tampak berjalan mendekati Dion. Langkahnya langsung berhenti ketika ia memanggil namanya.
"Hei! Dion! Sekarang Lo jarang banget ke markas!"
"Oh.. Toni! Haha... Iya nih, biasalah banyak kerjaan gue di luar. Baru sempat sekarang!" Ucap Dion. Toni merupakan teman Dion dan sudah saling kenal sejak lama.
"Gitu ya... Pasti banyak nih cewek Lo! Bagi-bagi ke gue Napa dah?"
"Lo mau? Nanti deh gue spill satu.. Hahaha... Oh iya ngomong-ngomong... Kemarin malam ada siapa gitu yang datang ke markas ini?" Tanya Dion.
"Eum.. Coba ku ingat... Tadi malam memang ada komplotan A datang ke sini dan juga tuan Eric juga sempat--"
"Hah?! Apa beliau masih ada di sini?"
"Aduh.. Kaget gue! Sudah pulang beliau tapi enggak tau juga sih. Intinya sudah enggak ada"
"Kalau komplotan A sekarang di mana?"
"Ada di ruang tengah"
"Kalau gitu gue ke sana dulu ya, makasih infonya!" Dion buru-buru ke tempat yang akan ia tuju. Sementara Tono masih kebingungan dengan temannya itu.
Semoga aja ada Kayra di sini! Batin Dion.
"Hahaha... Ini enak sekali!"
"Hei! Aku mau tambah pizza nya!"
"Aku mau ayam goreng!"
Terdengar suara dari mereka yang sedang melakukan pesta kecil di ruangan itu. Setelah melakukan misi-misi yang diperintahkan dan berhasil, mereka akan mendapatkan bayaran dan akan berpesta seperti saat ini.
Dion langsung masuk ke ruangan itu dan mendekati ketua dari mereka.
"Wah.. Wah... sepertinya enak sekali!" Ucap Dion.
Semua orang langsung melihat ke arahnya.
"Dion! Lama sekali tidak berjumpa.. Hahaha! Sini duduklah!" ucap ketua.
"Sepertinya misi yang kalian jalankan berhasil ya?"
"Tentu saja... Kamu pun juga sama, misi mu hampir semua dapat kamu laksanakan!"
"Benar juga! Jadi kalian sudah menangkap gadis itu?" ucap Dion.
__ADS_1
"Rupanya kamu sudah tau ya?"
"Yah... Itu awalnya kan misi untuk ku, tapi sudah duluan kalian"
"Hmm... Begitu ya, Iya kami sudah menangkap wanita itu"
"Sekarang di mana dia?"
Ketua itu menatap Dion tajam.
"Kenapa kamu ingin tau?"
"Ahaha... Tidak kok aku hanya ingin memastikan apakah benar atau tidak! Karena kan banyak orang-orang yang mirip. Aku khawatir kalian salah tangkap orang," Ucap Dion kikuk.
"Ahahah... Kamu ini kenapa jadi tegang sekali? Aku hanya bercanda! Tentu kamu boleh melihatnya! Dia ada di sana!" Ketua itu menunjuk pada salah satu pintu ya tertutup.
"Be-benarkah! Hahaha... Kalau begitu silahkan lanjutkan pesta kalian" Dion langsung beranjak dari duduknya dan pergi ke arah pintu itu.
Dengan cepat ia juga menghubungi Devan.
"Halo!"
"Halo Devan! Sepertinya gue sudah tau di mana Kayra!"
"Benarkah? Kalau begitu apa gue perlu ke dalam?"
"Tidak usah, biar gue aj--"
BUGHHH!
"AKHH....!"
Tiba-tiba Dion tersungkur dan menjatuhkan handphonenya sampai ke bawah laci meja.
"Halo? Aneh kenapa dia jadi diam?" ucap Devan.
"Hahaha... Kamu kira bisa membohongi kami huh?! Benar sekali kata tuan Eric, sepertinya dia mulai mengkhianati kita" ucap ketua itu.
"Benar sekali itu! Hampir saja kita di khianati dia!"
"Kenapa dia ingin menyelamatkan gadis itu ketua?"
Seseorang datang mendekati ketuanya sambil membawa handphone.
"Permisi ketua! Ada telpon dari tuan Eric!"
Ia langsung mengambilnya.
"Halo tuan Eric!"
"Maaf mengganggu pesta mu!"
"Ah tidak tuan, kami tengah bersenang-senang dan lagi kami juga mendapatkan mangsa"
"Apakah anak itu telah datang?"
"Benar tuan!"
"Huh! Sudah ku duga! Sekarang aku minta untuk membawa gadis itu ke Villa Z. Letakkan dia di sana!"
"Baik ketua!"
Di sisi lain Devan dan Kiara benar-benar kebingungan apa yang harus mereka lakukan sekarang.
"Kenapa? Dion enggak apa-apa kan?" tanya Kiara panik.
"Sepertinya gue dengar suara pukulan. Jangan-jangan Dion tertangkap oleh mereka!?" ucap Devan. Ia bergegas keluar dari mobil dan masuk ke dalam.
"Devan! Lo mau ngapain?"
"Gue harus masuk! Lo tunggu di sana!"
Devan mengendap-endap pergi ke dalam berusaha tidak terlihat oleh para penjaga. Dari kejauhan terdengar suara perintah dan langkah kaki yang berat.
"Cepat! Siapkan mobil untukku!" ujarnya.
__ADS_1
"Cepat... Cepat... Ketua membutuhkan mobil!"
"Kita harus bergegas ke Villa Z dan membawa gadis itu. Cepat!"
"Siap laksanakan!"
"Villa Z? Memangnya ada Villa di tempat sepi seperti ini?" gumam Devan.
Mobil pun mulai melaju kencang. Devan buru-buru kembali ke mobil dan berusaha mengikuti mobil itu.
"Tadi Lo liat mobil tadi ke arah mana?" Ucap Devan. Ia meraih kunci mobil dan menyalakannya.
"Eum... Tadi sih mobilnya terus kemudian belok kanan. Eh? Lo bisa bawa mobil?" ucap Kiara.
"Bisa! Mungkin Sekitar satu tahun yang lalu sih!"
"Please deh Van! Lo jangan ajak-ajak gue bunuh diri!"
"Siapa sih yang ngajakin bunuh diri!? Tenang gue bisa kok-- Uhhh...." Devan menancap gas dan mobil pun jalan. Kaki dan tangannya sedikit kaku karena sudah lama tidak mengendarai mobil.
"Huaaaa! Gue mau turuuunn!" pekik Kiara sambil memegang sesuatu yang di dekatnya.
"Sabar dikit napa sih! Itu Kayra ada di dalam!"
"Itu.. Itu... Dia belok kiri!"
"Hah... Hah... Belok kanaaaann!"
"Belok kanan lagi!"
Karena jalanan berbatu, Devan pelan-pelan mengendarai mobilnya.
DUG... DUG.. DUUG...
"Auww!"
"Eh?! Kenapa? Perut Lo sakit ya?"
"Eng-- enggak kok! Aman!" Ucap Kiara sambil memperlihatkan ibu jarinya.
Sayangnya mereka tertinggal oleh mobil yang mereka ikuti.
"Ini belok apa terus nih?" Mereka tiba di pertigaan jalan.
"Gue Enggak tau! Gue bener-bener enggak liat!"
"Kita terus dulu deh!"
"Stop.. Stop..! Kalau kita terus malahan kita bisa tersesat!" Ucap Kiara.
"Huft... Jadi harus bagaimana ini?" kesal Devan.
"Harusnya Lo tolongin Dion dulu! Kalau ada dia pasti tau lokasi yang di maksud!"
"Ishh... Lo mau gue juga di tangkap sama mereka yang banyak begitu? Dan Lo sendirian di sini? Naik mobil aja enggak bisa!" Ucap Devan.
"Apa Lo bilang?! Nih buktinya sekarang gue bisa naik mobil!"
"Bukan itu yang gue maksud! Lo enggak bisa mengendarai mobil kan! Lo juga yang kesusahan! Untung masih ada gue!"
"Tapi kan kita jadi tersesat juga nih..."
"Arghh! Lo ini bisa eng--"
BRUMMM.. BRUMM...
Tepat di belakang mereka mobil yang mereka ikuti keluar dari jalanan yang satunya.
"Itu... Gue yakin mobil itu yang tadi! Cepat!"
"Iya... Iya..."
Akhirnya... Tunggu gue Kayra! Batin Devan.
...****************...
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca dan mendukung novel ini 😊
Tetap semangat dan sampai jumpa lagi 👋