Pergi Dan Kembali

Pergi Dan Kembali
Eps. 38 Pengakuan


__ADS_3

"Akhirnya... Selesai juga masalah gue..."


"Masalah apaan? Baru juga ujian tengah semester selesai! Ingat di depan sama masih banyak masalah yang menanti Lo tuh!"


"Sudahlah Bella, Ezra! Ngapain ribut-ribut kayak gitu!" Ucap Irene.


"Dia nih sok banget!" kata Bella kesal.


Berbeda dengan ketiga temannya, Kayra sibuk membereskan buku-bukunya dan bersiap untuk pergi.


"Eum... Maaf ya gue duluan, ada hal yang mendesak nih" Ucap Kayra.


"Iya Kia! Enggak apa-apa, hati-hati ya!" Ucap Bella.


"Akhir-akhir ini Kiara banyak banget urusannya, udah kayak anggota OSIS aja" Ucap Ezra.


Irene hanya melihat langkah Kayra yang sudah pergi dari kelas.


"Gue juga duluan ah!" Ucap Irene. Ia pun bangkit dan membawa tasnya.


"Ini lagi, kenapa sih mereka berdua? Main ninggalin sekarang?" Kesal Bella.


Di sekolah hanya tertinggal beberapa murid yang baru saja menyelesaikan ujian terakhir. Untuk kelas Kayra paling lambat keluar sehingga siswa dan siswi di sana rata-rata hanya kelas mereka.


Irene sedang menuju halaman depan sekolah melewati lapangan yang cukup luas. Sekilas ia melihat sosok Kayra yang bukannya menuju arah keluar melainkan ke arah lain.


"Mau ke mana anak itu?" Gumam Irene.


Irene mencoba mengikuti Kayra dari belakang. Sampailah ia di sebuah gudang yang cukup jauh dari kelasnya.


"Ngapain dia ke sini?"


"Loh, kenapa masih ada orang di sini?"


Irene terkejut mendengar suara itu dari belakang.


"Hah? siapa lo!?" Pekik Irene.


"Bentar! Kayaknya gue kenal sama Lo? Ohhh iya Lo kan temen dekatnya Kiara. Ngapain Lo di sini?"


Ish! Kenapa lagi ketemu sama Devan di sini? Batin Irene.


"Sibuk Lo! Sana pergi!" usir Irene.


"Maaf aja ya, tapi gue selaku ketua OSIS tidak bisa membiarkan--"


"Sstt! Dia datang!" Bisik Irene. Terpaksa ia membawa Devan ke tempat yang sedikit menjauh agar tidak ketahuan dengan orang yang ada di depannya.


"Siapa itu?" Tanya Devan penasaran.


"Bisa enggak sih Lo jangan banyak tanya! Kalau gitu Lo pergi aj--"


"Jelaskan ke gue! Apa maksud Lo nyebarin video itu ke sekolah ini, huh!?" Terdengar suara Kayra yang menggebu-gebu.

__ADS_1


"Kamu ngomong apa sih Kay--"


"Cepet jawab Winda! Enggak usah basa-basi! Lo kan yang ambil video itu di flashdisk! Gue pikir... Lo bakal janji enggak bakal ngasih tau--"


"Awalnya gitu! tapi aku capek Kay. Aku capek selalu di salahkan! Kamu selalu dapat apa yang kamu inginkan bahkan yang tidak kamu inginkan kamu bisa dapatin itu!" ucap Winda.


Irene dan Devan mendengar dengan serius. Tapi Irene tidak tau kalau Devan hanya tau perihal video itu tapi ia tidak sama sekali tau tentang kembaran Kiara.


Kenapa dari tadi Winda manggil 'Kay'? Batin Devan.


"Kamu enggak tau? di belakang aku selalu di bully! Aku selalu jelek di mata semua orang sedangkan kamu selalu baik! Aku enggak suka kamu sok baik sama aku! Kenapa waktu itu kamu cegah Irene nyakitin aku?! Kenapa enggak biarin aja sih?!" Pekik Winda. Ia juga mulai mengeluarkan unek-unek di dirinya.


"Gue cuman mau nolongin Lo aja, win!"


"Memangnya setelah kamu berlagak sok pahlawan aku jadi berhenti di bully sama Irene? Enggak kay! Aku di bully habis-habisan sama dia. Dia bilang kalau aku sudah ngambil perhatian kamu dari kalian... Kamu enggak tau sakitnya hati aku dengar kayak gitu? Makanya waktu kita ketemu sama Kiara, aku datang dengan penampilan yang sudah kotor.. Itu karena siapa? Itu karena Irene!"


...****************...


Flashback on...


BRUKKK!


"Ugh! Ishh..." Seorang gadis yang masih memakai seragam sekolah berusaha bangkit. Rasanya benar-benar sakit terdorong oleh orang yang sengaja melakukan itu.


"Winda... Winda... Senang Lo ya, sudah ambil Kiara dari kami!" Ucap Irene yang tengah berdiri di hadapan Winda yang tersungkur lemah.


"Dengar! Kalau Lo masih dekat-dekat sama dia... Awas aja Lo!" Setelah mengatakan itu Irene pergi dari gudang sekolah yang terletak paling belakang.


Kenapa...? Aku sudah capek... Batin Winda.


...****************...


Flashback off...


"Dan sekali lagi kamu nyakitin aku lagi... Hiks.. Hiks... Kamu... Kamu juga dekat sama Devan! Aku suka sama dia! Tapi kenapa... Hiks... Hiks... Kamu justru..." Winda menangis sejadi-jadinya.


"Gue enggak tau soal itu, lagian gue sama Devan--"


"Itu sebabnya aku jadi jengkel dan benci melihat kamu selalu bahagia. Aku yang nyebarin itu semua! Selagi bukti ada sama aku, aku bakal kasih tau semua publik betapa mirisnya Kiara saat ini dan juga keadaannya sekarang! Dan kamu juga sudah menipu kam--"


PLAAAKK!


Satu tamparan mendarat di wajah Winda. Bukan Kayra pelakunya. Tapi Irene yang sudah muak mendengar hal itu.


"Hosh... Hosh... Selesai Lo marahnya?! Sekarang giliran gue! Lo enggak usah sok tersiksa dan dikucilkan di sini. Selain gue marah karena itu... Ada hal lain yang gue amat benci sama Lo!" Ucap Irene. Wajah mulai memerah karena marah yang mulai tidak terkontrol.


"Lo udah nge-bunuh adik gue!"


Kayra terkejut mendengar hal itu keluar dari mulut Irene.


"Jadi kamu lampiaskan amarah hanya karena itu? Huh!?"


"Hanya itu Lo bilang? Andai gue enggak pergi ke luar negeri saat itu, gue yang akan ngurus adik gue yang sakit-sakitan! Dan asal Lo tau... Gue punya semua bukti yang Lo dan bokap Lo lakuin ke keluarga gue!" ucap Irene.

__ADS_1


"Eum... Mending kita sudahi saja pembicaraan ini?" Ucap Devan mendekati Irene. Dari tadi ia masih bersembunyi mendengar percakapan para gadis-gadis ini.


"Devan?!"


"Sejak kapan Lo di sini?"


"Eung... Sejak tadi?"


"Bentar... Kamu dengar yang aku bilang aku suka sama... Devan?" ucap Winda. Ia sedikit tergagap mengatakan hal itu.


"Yap benar sekali! Tapi enggak apa-apa, aman aja... Kalau gitu ay--"


"Devan! Lo harus tau, dia itu sebenarnya penipu... Selama ini kamu di tipu sama dia" kata Winda. Ia mulai untuk mengungkapkan rahasia.


"Penipu?"


"Iya... Kamu mending jauh-jauh dari di--"


"Heh... Urusan kita belum selesai! Berani banget Lo! Pekik Irene menarik rambut Winda.


"Aaaa.... Aawww... De... Van... Tolongin aku!"


Namun sayangnya Devan tidak melihat Winda. Justru ia menatap ke arah Kayra cukup lama.


"Kenapa Lo liatin gue?"


"Ah enggak... Itu dia mau... Ngomong apa ya?"


"Devan! Kamu jangan... Mau percaya sama dia... Mending kamu sama aku aja.. Ayo tolongin aku Devan!" pekik Winda.


"Ishh... Lebay amat sih lo! Sini ikut gue! Lo bakal tanggung jawab atas kesalahan Lo...!" kesal Irene.


"Kamu pikir hanya aku aja yang salah? Dia juga bahkan sangat fatal sekali... Harusnya Kiara sudah keluar dari sekolah..."


"Ni anak mulutnya pengen gue gembok!"


"Ggrrr...."


"Aaaa...." Irene kesakitan dan melepaskan Winda yang sudah menjauh.


Kayra yang melihat Irene kesakitan langsung menghampirinya.


"Irene! Lo enggak apa-apa?!"


"Enggak... Apa-apa! Jangan biarkan... Dia kabur!"


"Devan, Lo nemenin Irene di sini ya!" Kayra langsung mengejar Winda yang sudah berlari ke dalam sekolah.


...****************...


Terima kasih sudah membaca dan mendukung novel ini 😊


Tetap semangat dan sampai jumpa lagi 👋

__ADS_1


__ADS_2