
"Kamu pikir hanya aku aja yang salah? Dia juga bahkan sangat fatal sekali... Harusnya Kiara sudah keluar dari sekolah..."
"Ni anak mulutnya pengen gue gembok!"
"Ggrrr...."
"Aaaa...." Irene kesakitan dan melepaskan Winda yang sudah menjauh.
Kayra yang melihat Irene kesakitan langsung menghampirinya.
"Irene! Lo enggak apa-apa?!"
"Enggak... Apa-apa! Jangan biarkan... Dia kabur!"
"Devan, Lo nemenin Irene di sini ya!" Kayra langsung mengejar Winda yang sudah berlari ke dalam sekolah.
...****************...
Winda ingin pergi melewati pintu depan. Namun sayangnya pintu itu sudah terkunci. Tidak ada waktu lagi jika ia memutar lewat pintu samping. Winda pun memutuskan menaiki anak tangga menuju lantai atas.
"Winda! Jangan lari!" Kayra masih mengejar Winda dari belakang.
Sampailah Winda di rooftop. Sudah tidak ada jalan lagi menuju ke tempat lain.
"Hosh... Hosh... Dengar Win! Kalau Lo serahin semua bukti itu, enggak akan ada lagi yang gangguin kamu" ucap Kayra.
"Aku enggak percaya sama kamu! Aku rasa ini semua enggak adil. Kiara harusnya juga merasakan pahitnya hidup kayak aku!" pekik Winda.
"Win! Semua orang punya masalahnya masih-masing. Dan kita pasti akan menemukan jalan keluar dari masalah itu."
Winda merasa dunianya hanya kecil sekali. Ia benar-benar sudah lelah. Mungkin semua orang tidak tau kisah dirinya yang membuatnya seperti ini.
"Jangan dekat-dekat!" Teriak Winda. Kayra yang mulai mendekati Winda pelan-pelan namun ia justru berjalan ke belakang.
"Winda! Lo bisa jatuh!"
CEKELK...
"DI MANA DIA! LO HARUS TANGGUNG JAWAB KARENA SUDAH BUNUH ADIK GUE!" Irene datang bersama Devan.
"Hosh... Hosh... Apa- Apa yang harus kulakukan? Itu bukan aku yang membunuhnya! Aku tidak membunuhnya.... Tidak..."
Kayra mengernyitkan keningnya. Winda dari tadi terus bergumam ketakutan.
"Win... Lo bisa ceritain yang terjadi kalau memang bukan Lo yang bunuh adiknya Irene." ucap Kayra.
"Hiks... Hiks... Ayah ku... Hiks... Dia memukul ibu ku... Dia juga yang... Hiks... Meminta ku untuk... Ahh?" Winda melihat ke belakangnya. Satu langkah lagi mungkin ia bisa terjatuh dari lantai atas.
"Winda... Jangan coba-coba... Kita bisa selesaikan masalah ini, Win" Kayra berusaha mengalihkan perhatian Winda.
"Tin-- Tingginya? Aku... Capek... Aku mau..."
"Ughh!"
__ADS_1
"Aaa...!!"
BRAKK!
Kayra menarik tangan Winda. Mereka berdua saling bertubrukan.
"AKU MAU KE SANA! AKU MAU TURUN! AKU CAPEKKK!!!! ARGHHHH" Winda mulai kehilangan kesadarannya.
...****************...
Winda seorang anak perempuan yang sangat ceria. Ia tinggal bersama ayah, ibu, serta adiknya.
Saat itu ia masih berumur 11 tahun. Ayahnya bekerja sebagai supir dan bahkan pekerjaan lain seperti menyiram tanaman di kediaman Sanjaya.
Perusahaan Sanjaya merupakan perusahaan yang sedang naik daun pada masanya. Kehidupan keluarga Winda sangat bergantung pada pekerjaannya saat ini.
Reza Rama Sanjaya. Nama pemilik perusahaan itu. Ia mempunyai anak lelaki yang berumur 18 tahun bernama Ivan Rama Sanjaya, anak kedua bernama Irene Rama Sanjaya yang berusia 11 tahun, dan Intan Rama Sanjaya yang berumur 5 tahun.
Awalnya Wahyu bekerja di kediaman Sanjaya. Terkadang ia juga membawa anaknya Winda ke rumah itu.
Cukup lama ia bekerja di sana. Namun suatu hari ada seseorang yang bertemu dengannya dan menginginkan sesuatu darinya.
Orang itu meminta Wahyu untuk membuat keluarga Sanjaya menderita bagaimana pun caranya.
Saat itu Intan yang merupakan anak ketiga sakit-sakitan dari bayi. Banyak perawatan khusus dan juga biayanya yang mahal. Sementara itu Irene bersekolah di luar negeri dan tinggal bersama kakek dan neneknya.
Wahyu yang juga sangat membutuhkan uang akhirnya melakukan hal yang harusnya tidak ia lakukan. Wahyu meminta Winda untuk memberikan minuman yang sudah di beri racun.
Winda mengetahui hal itu, namun ia hanya diam saja karena ia pikir ayahnya memberikan obat di dalamnya.
Semua orang tidak berpikir Intan telah di racun oleh seseorang. Karena Intan memang sakit pada kurun waktu yang lama.
Irene mendengar hal itu menangis sejadi-jadinya. Ia terus meminta pulang. Ada rasa bersalah di hatinya karena jarang bersama adiknya selama ia sakit.
Wahyu selamat karena tidak ada orang yang mencurigai nya, itu di karenakan orang yang meminta itu lah yang sudah menutupi perbuatannya.
Namun ia tidak tau bahwa perbuatannya sewaktu-waktu akan terbongkar.
...****************...
Kembali ke saat ini....
Beberapa mobil ambulan dan polisi mulai berdatangan ke sekolah SMA 1. Para guru yang masih stay di sana mengetahui dan langsung menghubungi pihak berwajib.
Mereka bertiga di interogasi sementara Winda di pindahkan ke rumah sakit.
"Hosh.. Hosh... Irene?" Ucap seorang wanita yang sudah berumur dan lelaki di sampingnya.
"Ayah! Mama!" pekik Irene. Mereka bertiga saling berpelukan.
"Permisi, Pak! Apa benar anak anda yang bernama Intan Rama Sanjaya meninggal di usia yang belia?"
"Be-Benar pak, Anak saya memang sakit--"
__ADS_1
"Dia di bunuh ayah!" potong Irene.
"Apa yang kamu katakan, sayang?"
"Aku punya buktinya!"
"si-siapa pelakunya?"
Sementara itu keluarga Kayra juga berdatangan ke kantor polisi.
"Ka-- Eh... Kiara!"
"Kakak!"
"Apa yang terjadi?" Tanya Kenzo.
"Setelah kami selidiki, mereka hanya ikut-ikutan dalam masalah mereka, kalian bisa pulang terlebih dahulu"
"Terima kasih pak!"
...****************...
Setelah beberapa hari kemudian. Kondisi mulai membaik. Winda di kabarkan memiliki gangguan jiwa. Ayahnya, Wahyu di penjara selama hidupnya. Hanya tersisa ibu Winda yang masih sakit-sakitan dan adik Winda yang sekarang akan merawat ibunya.
Siswa-siswi yang lain sudah pulang. Sedangkan Kayra sedang berdiam diri di rooftop. Angin sepoi-sepoi menusuk dalam tubuhnya. Perasaan yang membawa ketenangan.
"Lo masih di sini?"
Kayra menengok ke belakang.
"Devan? Ah... Cuman mencari ketenangan aja..." ucap Kayra.
"Huft... Ternyata tenang juga ya di sini" Devan duduk di samping Kayra.
"Oh iya! Bukti-bukti sama Winda gimana?"
"Sudah gue hapus di flashdisknya. Kemarin gue ketemu sama adiknya. Gue juga kasihan melihat mereka."
"Tapi gimana caranya Lo tau kalau Winda yang ambil bukti itu?" tanya Devan.
"Waktu itu gue ketemu flashdisk di bawah ranjang gue, setelah itu gue liat buktinya masih ada apa enggak, tapi anehnya gue ada liat file lain di situ. Setelah di lihat-lihat ternyata itu file milik Winda. Kemungkinan waktu kami belajar bersama dia ada ketemu flashdisk itu dan mindahin beberapa file ke flashdisk ini" ucap Kayra.
"Ngomong-ngomong soal Winda, kemarin dia ada manggil Lo 'Kay'? Gue enggak salah dengar?" Tanya Devan.
Kayra hanya terdiam. Kalau ia memberitahu pada Devan, dia bisa saja kebingungan dengan situasi ini.
"Ah... Kalau Lo belum siap bilang enggak apa-apa kok! Maaf"
"Makasih, Van!"
Mungkin suatu saat nanti, Lo bakal tau yang sebenarnya terjadi. Batin Kayra.
...****************...
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca dan mendukung novel ini 😊
Tetap semangat dan sampai jumpa lagi 👋