Pergi Dan Kembali

Pergi Dan Kembali
Eps. 32 Pelelangan


__ADS_3

"Oke deh! Flashdisk ada gue taruh di atas meja, gue ke dapur dulu ya!" Kayra pun bergegas ke dapur menyiapkan beberapa camilan dan minuman yang tadi ia beli sebelum Winda datang.


"Ada siapa Kay?" Tanya Ayu.


"Ohh, kak Ayu! Ada teman ku kami mau belajar bersama untuk persiapan ujian"


"Oh gitu, Untung aja dia enggak dengar aku manggil kamu Kayra..." ucap Ayu.


"Ah itu... Sebenarnya dia sudah tau kalau kami itu kembar..." Kata Kayra.


"Hah? Kok bisa?!"


Kayra pun menceritakan secara singkat pertemuan mereka pada waktu lalu.


...****************...


Keesokan paginya....


"Jadi ada yang sudah tau tentang kalian?" Tanya Kenzo.


"Benar kak! Kami juga terpaksa harus memberitahu dia... Tapi dia janji kok bakal jaga rahasia itu..." Ucap Kayra.


Kenzo menghela nafas panjangnya. Ia pun kembali duduk di sofa sambil memikirkan masalah Kayra dan Kiara.


"Dengar Kay, Ini bukan masalah dia akan jaga rahasia itu. Tapi mau seberapa keras kita menutupi ini semua, perlahan akan terbongkar nantinya"


Kayra hanya menunduk lesu.


"Lain kali kalian harus lebih berhati-hati lagi" Kenzo melihat jam di tangannya.


"Sepertinya aku harus berangkat sekarang" Kenzo pun beranjak dari duduknya dan bergegas berangkat kerja.


"Hati-hat, sayang!" Ucap Ayu.


"Kalau gitu, aku juga mau berangkat kak!" ucap Kayra dan mengambil tasnya.


"Ah iya, hati-hati di jalan, Kayra!"


...****************...


Kenzo memberhentikan mobilnya tepat di depan rumah Kiara.


TOK... TOK... TOK...


CEKELK...


"Kakak! Ngapain pagi-pagi ke sini?" Tanya Kiara yang baru selesai bersih-bersih rumah.


"Aku sudah dengar dari Kayra, kalau ada salah satu temanmu yang mengetahui rahasia kalian" Ucap Kenzo.


"Iya kak, tapi enggak apa-apa kok. Pasti pada akhirnya mereka akan tau semuanya. Ya mau bagaimana lagi" Raut wajah pasrah dari Kiara dan Kayra sangat mirip sekali.


Kenzo sudah tidak tau lagi apa yang harus ia lakukan.


"Begini saja, lebih baik kamu tidak usah bekerja lagi, biar aku saja yang menanggung semuanya"


"Tapi kak--"


"Selagi kita bisa mencegahnya, maka kita lakukan!"


"Eum... Iya kak, makasih!"


"Kalau gitu aku berangkat kerja dulu!"

__ADS_1


"Iya kak, hati-hati!"


Kenzo pun kembali melanjutkan perjalanannya menuju sebuah pelelangan.


Hari ini akan ada sebuah tambang biru yang akan di lelang. Tambang itu sudah lama tidak di kunjungi orang dan kalau di lihat sudah sangat tidak berguna.


Namun siapa sangka ada beberapa orang yang mengetahui perihal tambang tua itu.


"Hahaha... Kali ini aku harus mendapatkan tambang itu!" Ucap Eric di mobil.


"Tentu saja tuan, pasti orang-orang akan mengira itu hanyalah tambang tua jadi tidak akan ada peminatnya" Ucap asisten Eric, yang bernama Sam.


"Ya... Kita lihat saja nanti!"


...****************...


"Kali ini saya akan memperlihatkan sebuah gambar kepada kalian semua! Ini adalah tambang yang hari ini akan kami lelang..." Ucap Pembawa acara sembari menunjukkan sebuah gambar pada proyektor.


"Hmm.. Itu hanya tambang tua..."


"Tapi tambang itu sangat luas, bisa di jadikan pembangunan baru di sana!"


"Siapa yang mau membangun di sana, sudah jauh dari kota dan tanahnya tidak bagus!"


Banyak para orang-orang perusahaan yang mengoceh menilai tambang tua itu.


"Baiklah kami akan mulai dari 100 juta! Apa ada yang lain?"


"Wah.. Bagaimana bisa tambang itu harganya sebegitu mahalnya..."


"Iya ya!"


"120!"


Eric hanya terdiam memperhatikan para orang-orang mulai menaikkan harganya.


"Kita lihat saja nanti, sampai kapan kalian bertahan?" Gumam Eric.


Beberapa saat kemudian, angka tersebut berakhir di angka 500 juta.


"Baik... Apa ada yang lebih tinggi dari harga tersebut?" Semuanya hampir hening tak berbicara.


"Kalau tidak tambang itu akan di miliki oleh bapak yang ada di sini..." Ucap Pembawa acara sambil menunjuk kepada seorang lelaki yang ada di hadapannya.


"Kami akan tutup mulai tiga... Dua... Sa--"


"700!"


Suara itu langsung membuat semua orang melihat ke arah orang tersebut. Siapa lagi kalau bukan Eric yang menawarkan harga setinggi itu.


"Wah.. Itu kan keluarga Adhitama! Bagaimana bisa dia membeli tambang tua itu?"


"Mungkin mau di jadikannya tempat rekreasi... Hahaha!"


"Wah... wah... Sepertinya tuan Adhitama telah memilih angka yang sangat bagus. Sekarang apa ada yang ingin menambahkan namun jika tidak tambang biru akan menjadi milik tuan Adhitama..."


Eric merasa bangga sekali akhirnya ia mendapatkan tambang itu. Walaupun orang-orang banyak mengira dirinya sangat bodoh. Tapi mereka tidak tau keistimewaan dari tambang itu.


"Permisi, apa aku terlambat?"


"Ah... Tidak juga tuan... Eum.. Ah tuan Wardani! Hanya saja pelelangan tambang biru sudah berada 700 juta!"


"Hmm....? Begitu rupanya... Apa tidak ada yang ingin menambah lagi?" Ucap Kenzo. Semua orang hanya terdiam.

__ADS_1


"Argh! Kenapa dia menganggu acara ini? Merepotkan sekali!" Gumam Eric.


"Jika tidak ada, akan aku tambah! 1.5 M!" Perkataan Kenzo membuat semua orang terdiam tidak percaya.


"A-apa?!"


"Dia sudah tidak waras ya? Bagaimana bisa tambang tua itu dengan harga seperti itu?"


"Ini tidak bisa dibiarkan....!" ucap Eric sembari mengepalkan tangannya.


...****************...


"Aku pulang!"


Dina baru saja pulang dari sekolahnya. Ketika ia baru masuk masuk ke dalam rumah, ia melihat banyak para pekerja ayahnya berada di depan kamar Eric.


"Paman ada apa ini?" Tanya Dina pada salah satu rekan kerja Eric.


"Ah.. itu nona Dina, tuan Eric sepertinya penyakit asmanya kambuh lagi"


"Hah?! Apa?" Dina buru-buru masuk ke dalam kamar Eric dan melihat ayahnya berbaring lemah di atas ranjangnya.


"PAPA!?"


...*...


...*...


...*...


Kayra dan ketiga temannya pergi ke kantin. Tak sengaja mereka berpapasan dengan devan yang baru saja keluar dari kantin.


Kayra yang melihatnya tersenyum ke arah Devan dan Devan yang melihat Kayra pun membalas senyumannya.


Semenjak kejadian kemarin, Kayra meminta Devan untuk tidak menjauhi dirinya lagi.


"Mulai sekarang Lo enggak perlu jauhin gue lagi! Paham?" Ucap Kayra.


"Tapi... Gue enggak enak sama teman-teman Lo... Tatapannya sangat mematikan!" Ucap Devan sambil terkekeh kecil.


"Apaan sih? Lo aja yang ngira nya kayak gitu, eum... atau minimal senyum lah kalau ketemu di jalan... Kalau cemberut gitu jelek banget muka lo!" Kata Kayra.


"Iya deh..."


Dan mulai saat itu Devan tidak lagi menjauhi Kayra, namun tetap saja ada perasaan bersalah yang besar dari Devan.


DRINGGG... DRINGGG....


Devan merogoh smartphone di sakunya. Ia melihat nama 'Dina' Tertera di layar.


"Tumben Dina nelpon... Halo, Din?"


".... Kakak! Kakak kapan pulang?"


"Sepertinya masih ada satu pelajaran lagi, kenapa?" tanya Devan.


"Penyakit papa kambuh lagi... Hiks..."


"Apa?!"


...****************...


Terima kasih sudah membaca dan mendukung novel ini 😊

__ADS_1


Tetap semangat dan sampai jumpa lagi 👋


__ADS_2