Pergi Dan Kembali

Pergi Dan Kembali
Eps. 43 Aksi


__ADS_3

Setelah mobil hitam itu pergi, Devan bergegas memundurkan mobilnya dan masuk ke jalanan itu. Jalanan nya cukup sepi dan sangat gelap di malam hari.


Tibalah mereka di sebuah Villa besar. Devan memarkirkan mobilnya di dekat pohon dan keluar dari sana.


"Lo tunggu di sini! Biar gue yang ke dalam!" Devan berlari masuk ke dalam. Penjagaan nya tidak terlalu ketat di bandingkan markas sebelumnya.


...****************...


"Hahah... Aku akan membuat perusahaan Wardani runtuh dari kejayaan nya! Dan sekarang tinggal dia... Aku akan membuatmu menderita sama seperti kembaran mu" Seseorang memperhatikan gadis yang tengah berbaring di atas ranjang.


Ia melihat dari atas hingga bawah. Muncul hasrat dari dirinya ketika melihat gadis itu.


"Hmm... Kayra... Sayang sekali! Masa mudamu akan berakhir di sini!"


Kayra berusaha membuka matanya yang terasa berat. Badannya sedikit pegal. Ia mencoba melihat sekelilingnya. Ia melihat seorang lelaki yang tidak asing.


Kayra menyipitkan matanya berusaha melihat orang itu. Gelagat orang itu sangat aneh. Perlahan laki-laki itu mendekati dirinya dan mengelus wajahnya.


"Setelah dilihat dari dekat, kamu juga cantik ya!" Ucap lelaki itu.


"Si-- siapa?" Pandangan Kayra masih buram. Lama kelamaan wajah lelaki itu terlihat dengan jelas.


"Hah? Pa-- paman Eric!? Apa yang anda laku-- Aaaahh!"


"Tidak ada sayangku! Aku hanya ingin bersenang-senang saja!" Eric kembali mengelus wajahnya sampai leher Kayra.


Kayra berusaha menghindar namun Eric memegangnya dengan kuat.


"Tidak! Jangan! Hiks... Hiks... TOLONGG!" pekik Kayra.


"Teriak saja! Tidak akan ada yang mendengar mu! Kita sedang berada di tempat yang sangat jauh dari perkotaan... Hmm...."


"Hiks... Hiks... Kumohon jangan!"


BRAKKK!


"Hosh.... Hosh... KAYRA!!" pekik Devan. Ia berhasil menemukan kamar tempat Kayra berada.


"Pa-- Papa!? Apa yang papa lakukan!?" Devan berlari ke arah Eric dan memukul nya hingga terlempar ke lantai.


BUGGHHH!


"Ukh!"


"Kayra... Lo baik-baik aja kan?!"


Kayra hanya mengangguk sambil menangis.


"Ayo kita pergi dari sini!"


"Beraninya kamu dengan papa mu sendiri!?"


"Tentu saja! Kenapa aku harus bangga dengan papa yang melakukan hal keji seperti ini?!" pekik Devan.


"Kayra! Cepat keluar dari sini!"


Eric bangkit berdiri. Ia melihat Devan dengan tajamnya.


"Hn... Kamu bilang ini keji? Apa karena kamu menyukai gadis itu?! Dengar, aku melakukan ini hanya untukmu! Karena kamu adalah satu-satunya yang akan mewarisi perusahaan Adhitama"


"Tidak! Maafkan aku, papa! Aku tidak mau!" ucap Devan.


PLAKK!


Satu pukulan mendarat keras di wajah Devan.


"Hah?! Devan!" Pekik Kayra.


"Aku rela melakukan ini demi kamu! Tapi apa yang aku dapatkan sekarang?!" Ucap Eric.

__ADS_1


Eric menarik kerah baju Devan. Matanya melotot wajahnya mulai memerah. Ia mengambil sesuatu dari saku celananya. Sebuah pisau kecil di genggamannya mulai mengarah ke wajah Devan.


"Kamu... Sudah tidak ada gunanya lagii!" pekik Eric.


BUGHH!


"Akh!"


Devan terpaksa memukul wajah Eric. Eric pun tersungkur kembali. Ia kembali bangkit dan berlari ke arah Devan.


Di sisi lain Kiara juga telah masuk ke dalam. Ia merasa dirinya tidak melakukan apa-apa jika hanya menunggu di mobil. Ia pun memutuskan masuk mencari Kayra.


Dari kejauhan ia mendengar suara teriakan Kayra. Buru-buru ia mencari ke arah sumber suara itu.


"Kayra!" Teriak Kiara melihat Kayra berdiri ketakutan melihat Devan berkelahi dengan Eric.


"Kiara! Cepat bawa Kayra pergi dari sini! Gue akan... Ukh... Menyusul!" teriak Devan. Kiara mengangguk mengerti.


"Ayo kay! Kita pergi dari sini!" Kiara menggenggam tangan Kayra. Namun langkahnya tertahan. Kayra tidak tega meninggalkan Devan.


Eric pun melihat ke arah Kiara dengan perut besarnya. Entah mengapa ia tertawa kegirangan.


"Hahahah.... Ini dia! Kamu... Harusnya di permalukan! Hahaha kasian sekali! Sini kamu... Aku akan menghancurkan semuanyaaa!" Ucap Eric.


Kiara bergidik ngeri melihat Eric yang seperti itu. Tiba-tiba Devan mendekati Eric dan...


BUGHH!


"Cepatt!"


Kiara dan Kayra langsung berlari ke luar. Mereka lupa pada penjaga yang masih stay di luar. Mendengar kebisingan di dalam mereka pergi ke dalam untuk memastikan.


"Ada apa ini? Cepat lihat keadaan tuan Eric!"


"Cepat... Cepat...


Mereka berdua bersembunyi di bawah tangga menghindari para penjaga itu. Sekiranya sudah aman barulah mereka keluar.


Akhirnya mereka berhasil keluar namun masih ada beberapa penjaga yang ada di luar.


"Hei! Siapa itu?"


"Hah? Penyusup! Tangkap dia!"


Datang tiga orang penjaga mengepung mereka. Sudah tidak ada jalan keluar lagi.


"Bagaimana ini...?" Gumam Kiara.


"Dengar Ki! Selagi gue menghadapi mereka, Lo cari suatu benda yang keras di sekitar sini!" ucap Kayra.


"O--Oke... Tapi Lo mau ngapain?"


"Tidak ada! Hanya melakukan hal yang sudah lama tidak gue lakukan saat tinggal bersama bibi dan paman"


Kiara masih terheran-heran dengan ucapan Kayra. Namun ia tetap melihat sekelilingnya mencari benda keras untuk Kayra.


"Maju sini kalian!" Pekik Kayra.


"Mau main-main sama kita rupanya! HIAHH!"


Terjadilah pertarungan antara Kayra dengan ketiga penjaga itu. Awalnya cukup sulit Kayra untuk menyeimbangkan dirinya.


Pertama-tama ia menghindari para penjaga itu yang ingin memukulnya dan menangkapnya. Setelah terlihat kewalahan, barulah ia memasang kuda-kuda dan menargetkan titik yang akan ia pukul.


BUGHH!


DUAGHHH!


"Akhh!"

__ADS_1


"Haha... Akhirnya tidak sia-sia gue ikut pencak silat! Sini maju!" ucap Kayra bangga.


"Hosh... Hosh... Mana sih? Kok enggak ada benda yang waras di sini?" gumam Kiara.


"Hei! Siapa di sana?" ucap penjaga dari jauh.


"Mampus gue, banyak banget sih penjagaan di sini! Ah.. Ini dia! Akhirnya dapat juga." Kiara menemukan besi panjang entah benda apa itu. Namun selagi itu keras dan kuat ia ambil. Setelah itu ia berlari kembali ke tempat Kayra. Penjaga yang melihat Kiara juga ikut mengejar dirinya.


"Kay! Gue dapat!"


"Oke! Cepat lempar ke gue dan nunduk!" pekik Kayra.


"Nu- Nunduk? Ah...."


Kiara melempar tongkat itu dan menunduk sesuai yang diperintahkan Kayra.


"HIAAA!"


TUAGHHH!


"Akhh!"


Ternyata ada penjaga tepat di belakang Kiara dan Kayra langsung memukulnya.


TRANGGG....


Kaca jendela pecah karena ada seseorang yang terlempar hingga keluar.


"Ada apa itu?" Gumam Kayra.


"Hosh... Hosh... Kalian semua aman?" tanya Devan. Ia keluar melewati jendela yang pecah itu setelah mendorong salah satu penjaga ke arah jendela agar pecah.


"Wowww... Siapa yang membuat semua orang bergeletakan?" Tanya Devan yang masih ngos-ngosan.


"Hmm.. Siapa ya? Hahah" ucap Kayra.


"Eum... Bukannya mengganggu, tapi lebih baik kita bergegas sebelum mereka mengejar kita lagi" Kata Kiara di sela-sela pembicaraan mereka.


"Ah benar! Cepat ke mobil!"


Mereka bertiga pergi ke arah mobil. Devan langsung menyalakan mobilnya dan memutar balik arah keluar.


"Hei! Mau ke mana kalian?!" Teriak penjaga itu sambil mengejar.


"Cepat Devan!"


"Iya.. Iya... Sabar!"


Devan pun langsung melajukan mobilnya.


Di markas Eric di mana Dion berada. Ia membuka matanya. Bagian leher belakang terasa sangat sakit. Ia mencoba mengingat sesuatu.


"Ketua! Si pengkhianat sudah sadarkan diri!"


"Biarkan saja! Setelah ini kita juga akan meninggalkan markas ini"


Dion mencoba melihat sekelilingnya. Ia baru menyadari sedang menaiki mobil yang entah mau ke mana.


"Ugh... Kita... Mau ke mana?" tanya Dion.


"Kita akan kembali!"


Kiara! Devan! Astaga... Bagaimana bisa gue ninggalin mereka di saat seperti ini? Tapi bagaimana juga keluar dari sini? Batin Dion.


"Tidak ada jalan keluar lagi di sini. Jangan coba-coba untuk kabur" Kata ketua seakan-akan tau apa yang di pikirkan Dion.


Huft... Gue harap mereka baik-baik saja


...****************...

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca dan mendukung novel ini 😊


Tetap semangat dan sampai jumpa lagi 👋


__ADS_2