
Hampir setengah jam Kiara memperhatikan mereka berdua yang tengah menonton film. Ia lebih baik kembali dari pada harus melihat ini semua.
Lain kali aja lah, kalau Dion sendiri. Batin Kiara.
Namun saat ingin kembali, perempuan itu mengeluh pada Dion yang membuat Kiara tidak jadi kembali.
"Hoaamm... Ngantuk banget beb! Rasanya kepalaku berat banget..." kata perempuan itu.
"Kalau mau tidur di kamar ku aja, jangan di sini. Ayok!" Dion mengajak perempuan itu ke dalam kamarnya yang ada di lantai 2.
Tunggu, perkataan perempuan itu kenapa hampir sama seperti yang gue rasain waktu itu? Dan juga waktu itu Dion ngasih minuman sebelum gue ngantuk berat. Apa jangan-jangan yang Dion masukin itu... Batin Kiara.
Ia curiga sekali dengan gelagat Dion. Kiara pun masuk ke dalam dan mengikuti mereka ke kamar Dion.
Perempuan itu sudah tak kuasa menahan tubuhnya dan tersungkur. Dion pun menggendongnya dan membawanya ke dalam.
"Nah... Kamu tidur aja dulu beb!" Kata Dion.
"Eung... Kamu... Mau ke mana?" Pandangan perempuan itu sedikit kabur karena sudah tak kuasa menahan kantuk.
"Mau keluar sebentar..."
"Jangan tinggalin aku dong beb... Ukh... Kok rasanya panas ya... Tolong nyalain AC nya beb!"
"Sudah aku nyalain kok, masa masih panas sih.."
"Ukh.... Ishh... Hosh... Hosh... Panas..."
Kiara sudah berada di depan kamar, beruntung nya pintu kamar itu tidak tertutup rapat sehingga ia bisa melihat keadaan di dalam.
Betapa terkejutnya Kiara melihat perempuan itu seperti kepanasan yang padahal suasana nya tidak begitu panas. Perempuan itu membuka semua bajunya.
Astaga! Ternyata benar! Ada sesuatu yang di masukkan Dion! Berarti gue juga seperti dia pada waktu malam itu? Batin Kiara.
"Hah... Akhirnya Laura berhasil!" Gumam Dion. Ia pun juga membuka pakaiannya dan berbaring di samping Laura yang sudah terlelap itu.
"Tidak! Jangan lagi!" Sontak Kiara masuk ke dalam dan menarik selimut yang menyelimuti tubuh mereka. Dion sangat terkejut sekali apalagi melihat Kiara yang ada di depannya.
"Aghh-- Hah?! Ki-Kiara? Ngapain lo!"
PLAKK!
Satu tamparan mendarat di wajah Dion.
"Dasar cowok Br****ek! Beraninya Lo! Hiks... Hiks... Ngelakuin semua itu! Kenapa Dion? Kenapa!?" Tanpa sadar air mata Kiara terjatuh membasahi wajahnya.
Dion melihat Laura sedikit terganggu. Ia buru-buru memakai pakaiannya dan menarik tangan Kiara keluar.
"Ngapain sih Lo ke sini!?"
"Lepasin! Ukh..." Dengan sekuat tenaga Kiara melepaskan genggaman dari Dion. Mereka sudah berada di lantai bawah.
__ADS_1
"Lo nanya ngapain gue ke sini!? Dari kemarin Lo susah di hubungi Dion! Sekarang liat, Lo enggak percaya kan kalau gue hamil! Sekarang Lihat!" Pekik Kiara.
Dion melihat perut Kiara yang sudah membesar. Saat itu wajahnya tidak memperlihatkan rasa bersalah sama sekali.
"Terus kalau Lo hamil kenapa? Bisa jadi kan itu dari laki-laki lain?"
"Jadi Lo fitnah gue? Apa nanti Lo bakal gini juga sama cewe itu setelah Lo hamilin dia?! Kenapa Lo lakuin yang padahal Lo sendiri enggak tanggung jawab sama sekali?"
"Arghh.. Lo ngomong apaan sih? Dia aja tuh yang genit sama kayak Lo!"
"Lo kan yang campurin sesuatu di minuman cewe itu dan juga gue!?"
"Arghh! Capek gue dengar Lo ngomel Mulu, cepet pergi dari sini!" Dion memaksa Kiara pergi dari rumahnya.
"Ishh... Lepasin! Gue belum selesai!!" Kiara berusaha untuk melepaskan lagi tangannya dari Dion. Tanpa sadar Dion mendorong Kiara sampai ia terjatuh.
"Akhh... Sa-sakit..." Kiara tersungkur kesakitan. Ternyata perutnya terbentur lantai ketika Dion mendorongnya.
"Lo pasti pura-pura kan? Gue enggak bakal tertipu!" Ucap Dion.
Namun lama-kelamaan Kiara hanya terdiam dan tak bisa bangkit karena menahan rasa sakit.
"Lo beneran sakit? Ki! Kiara?!"
"Ukh... To-tolong..." rintih Kiara.
"Hah?"
"Sepertinya benturan tadi cukup keras ya?" Tanya dokter.
Kiara dan Dion telah tiba di rumah sakit. Dion bergegas mengambil mobilnya yang ada di garasi dan membawa Kiara ke rumah sakit terdekat.
"Apa anda suaminya, pak?"
Dion terdiam seketika mendengar pertanyaan itu.
"Anaknya sangat kuat! Jadi tidak ada masalah dengan calon bayinya. Tapi saya mohon untuk bapak lebih protektif lagi menjaga ibu dan juga calon bayinya yah..." Kata dokter itu.
"Ba-Baik..."
Dokter itu bangkit dari duduknya dan mendekati Kiara yang terbaring.
"Apa ibu mau mendengarkan suara detak dari sang bayi?"
"Apa bisa dok?"
"Tentu saja bisa, usia kehamilan anda sudah 5 bulan kan, jalan 6 bulan. Baiklah saya akan menyiapkannya sebentar."
Setelah selesai menyiapkan sang dokter lalu mendekatkan alat di atas perut Kiara. Terdengar sangat jelas detak jantung dari bayi itu.
Kiara tersenyum bahagia mendengarnya. Bayinya tidak terjadi apa-apa ketika terbentur. Namun berbeda dengan Dion, ia seperti tidak menyukai mendengar hal itu.
__ADS_1
"Sa-saya keluar sebentar!" Ucap Dion. Ia bergegas keluar dari tempat itu.
Setelah selesai Dion membawa Kiara dengan mobilnya. Masih ada sedikit nyeri namun Kiara dapat menahannya.
"Mau gue antar ke mana?" Kata Dion yang sama sekali tidak melihat Kiara setelah keluar dari rumah sakit.
"Antar aja kembali ke rumah lo!"
"Kenapa enggak sekalian aja sih!?"
Kiara hanya terdiam. Akhirnya Dion membawa Kiara ke rumahnya.
"Gue udah nolongin Lo, sekarang Lo pergi dari sini!" Ucap Dion.
Seorang perempuan keluar dari rumah Dion dan menghampirinya.
"Beb! Kamu dari mana aja? Aku kaget banget kamu enggak ada di rumah..." Ucap manja dari Laura.
"Ah... Maaf ya sayang... Tadi ada hal mendesak.."
Laura melihat ke arah Kiara dari atas hingga bawah. Dion langsung gelagapan.
"Ah.. Dia Bukan siapa-siapa kok..." Ucap Dion yang padahal Laura tidak menanyakan sama sekali.
"Oh iya, hampir lupa, aku di telepon mama. Harus segera balik"
"Kenapa cepat banget beb... Mau aku antar?" Tanya Dion.
"Bole--"
"Lo kan bisa pesan ojek online" Kata Kiara tiba-tiba. Masih ada hal yang harus ia bicarakan pada Dion.
"Ahh... Iya juga,"
"Apaan sih Lo?" Ucap Dion pada Kiara. Kiara hanya membuang wajahnya yang tak bersalah.
"Enggak apa-apa kok beb, kayaknya ada hal penting yang harus kalian omongin, kalau gitu aku pulang ya" Laura pergi meninggalkan mereka berdua.
"Sudah di tolongin juga! Mau Lo apa sih?"
"Mau gue? Gue mau Lo berhenti ngelakuin hal ini Dion! Gue enggak mau semua perempuan di sini sama kayak gue! Lo aja enggak mau tanggung jawab sama sekali!" pekik Kiara.
"Dengar, gue udah nyuruh Lo untuk menggugurkan kandungan itu, tapi karena Lo mau pertahanin itu sudah bukan urusan gue lagi!" kata Dion.
"Cepat pergi dari sini!" Dion pergi masuk ke dalam dan menutup pintu dengan nyaring.
"Huft... Maafin ibu ya, pasti kamu kaget. kalau gitu kita pulang aja deh..." Gumam Kiara. Ia pun meninggalkan perumahan itu.
......****************......
Terima kasih sudah membaca dan mendukung novel ini 😊
__ADS_1
Tetap semangat dan sampai jumpa lagi 👋