
"Hai Ica? Lama tidak bertemu ya?" ucap orang itu. Sontak Kayra mendongak dan melihat ke arah orang itu.
Kayra terbelalak dan melangkah mundur. Ia ketakutan sekarang melihat orang yang sudah lama tidak ia temui.
"Kenapa kamu jadi takut denganku? Apa jangan-jangan kamu lupa ya dengan ku?"
"JANGAN! JANGAN MENDEKAT!" Pekik Kayra.
"Ups.. Maafkan aku, sepertinya kami sudah terlanjur mendekati mu" Orang itu tersenyum dengan sinis nya.
Dan benar saja orang-orang yang berpakaian hitam mulai mengepung dirinya.
...****************...
"Halo?! Halo Kiara!"
TUT... TUT... TUT...
Sambungan dari Kayra terputus.
"Ck!" Devan terus melajukan motornya dengan cepat.
Di tempat lain Kiara teringat perkataan Dion waktu lalu. Ia merasa khawatir pada Kayra sekarang. Ia mengambil handphonenya dan mencari kontak Kayra.
Sayangnya Kayra tidak mengangkat teleponnya. Kiara pun beralih menelepon Ayu.
"... Halo kak!"
"Halo Ki? Kenapa?"
"Eum.. Kayra ada di rumah kak?"
"Belum pulang sih ini, tadi sempat aku nelpon dia. Katanya masih di minimarket"
"Ohh gitu, oke deh kak!"
Kiara mematikan ponselnya dan mencari jaket untuk segera keluar. Ia merasakan feeling yang tidak enak pada keadaan Kayra sekarang. Buru-buru ia pergi ke minimarket.
"Semoga aja dia masih di dalam" Ucap Kiara. Ia pergi ke dalam. Namun baru jalan beberapa langkah, ia seperti mendengar jeritan yang tak jauh dari sana.
Perasaan Kiara mulai acak-acakan. Ia juga lupa memberitahu pada Kayra agar berhati-hati ketika sendirian.
Ia pergi menjauhi lokasi minimarket. Memang jalanan saat itu sangat sepi dan gelap.
"Aaaa... Tol-- Emh..."
"Hah? Kayra!?" Pekik Kiara.
Suara itu tak jauh dari tempat Kiara sekarang. Perlahan ia maju beberapa langkah untuk memastikannya.
Tiba-tiba dari belakang Kiara, ada tangan seseorang menyentuh bahunya. Sontak Kiara menoleh dengan cepat.
"Kiara!"
"Dion?! Lo... Ngapain di sini?" Tanya Kiara.
"Emmhhh... Emhh...." Suara mulut yang di tutup itu mulai mendekati mereka berdua. Dion langsung menarik tangan Kiara untuk bersembunyi di balik tembok.
"Lo apa-apaan sih?"
"Sstt" Dion meletakkan jari telunjuknya di depan bibir Kiara.
"Mau lari ke mana kamu, huh?!" bentak lelaki itu. Kiara menengok ke arah itu dan terbelakang melihat Kayra sudah tertangkap oleh orang-orang yang tidak di kenalnya.
"Kayr-- Ugh! Lo kenapa sih?!" Pekik Kiara. Ia baru saja hendak pergi menyelamatkan Kayra namun di tahan oleh Dion.
"Lo mau ngapain ke sana bawa perut besar kayak gini? Bisa-bisa Lo yang kenapa-napa!" Ucap Dion.
"Tapi... Kayra..."
Muncul lampu sorot motor yang terang menyilaukan mata mereka. Devan datang dan langsung berlari ke rombongan lelaki itu.
__ADS_1
"Lepaskan Kiara!!" Pekik Devan.
Salah satu lelaki memberikan kode pada bawahannya. Sebagian lelaki memasukkan Kayra ke dalam mobil dan sebagian lagi menghadang Devan mendekatinya. Terjadilah pertempuran satu lawan tujuh orang.
BRUKK!
DUGH!!
"Akh!" Satu persatu lelaki itu tumbang. Devan juga merasa kewalahan menghadapi mereka.
"Hiyaaa!"
BRUKK!
"Hosh.. Hosh... Maju sini Lo--"
BUGH!
Devan tidak menyadari di belakangnya sudah ada yang mengincarnya. Alhasil ia terjatuh menahan sakit itu. Pandangannya mulai samar-samar.
Sedangkan para lelaki itu cepat-cepat menaiki mobil hitam dan berlalu pergi.
"Kia-- Ra...."
...****************...
Matahari mulai terbit memancarkan sinarnya. Burung-burung mulai bersiul dan kumpulan ayam mulai berkokok.
Seorang lelaki yang tengah berbaring merasa terganggu dengan suara itu. Ia mulai membuka matanya. Entah mengapa rasa ngilu muncul di punggungnya.
"Ughhh...."
"Akhirnya bangun juga!" Mendengar suara asing itu, Devan langsung melihat ke sampingnya.
"Si- Siapa?"
"Gue Dion, sepertinya Lo pernah liat gue waktu di kediaman bokap Lo..."
Devan mencoba mengingatnya.
BRAK!
"Nih minum dulu, terus makan"
Devan tidak berhenti melihat ke arah perempuan yang sudah tidak asing lagi.
"Ki-- Kiara? Berarti tadi malam cuman mimpi?" ucap Devan.
"Mana ada mimpi yang buat badan Lo sampai memar kayak gitu" Ucap Dion. Devan melihat sekujur tubuhnya. Ia memang merasakan sakit yang muncul tiba-tiba.
"Tapi ini--" Devan berhenti berbicara melihat bagian perut Kiara yang besar.
"Hahaha... Apa-apaan ini? Kayaknya gue masih di dalam mimpi..."
"Gila ya ni anak!" Pekik Kiara kesal. Ia melangkah mendekati Devan dan menampar di wajahnya.
PLAKK!
"Aduhh... Lo mukul gue?"
"Iya! Gue kasih tau ya, Lo itu enggak mimpi! Apa yang Lo liat sekarang ini real!" kata Kiara.
Akhirnya Devan tersadar sepenuhnya namun masih memikirkan apa yang sebenarnya terjadi.
"Apa?! Jadi selama ini-- Itu bukan kamu? Apa karena pria bren****k ini?!" Ucap Devan setelah di beri penjelasan pada Kiara langsung.
"Hei! Walaupun gue bawahan bokap Lo, tapi gue sudah nolongin Lo. Dan lagi itu karena keinginan beliau langsung kan.." Ucap Dion.
"Ugh... Maaf... Tapi kenapa Lo juga mau di suruh-sur--"
"ARGHH... Bisa enggak sih di selesaikan nanti aja!? Sekarang kita harus tolongin Kayra!" Ucap Kiara.
__ADS_1
"Ah benar juga, Kayra ya. Nama yang cantik..." gumam Devan sembari tersenyum.
"Ada satu markas yang gue tau milik tuan Eric" kata Dion.
"Dimana itu?"
"Lokasinya cukup jauh, jadi kita akan berangkat siang hari saja"
...****************...
TOK... TOK... TOK...
"Kiara! Cepat buka pintunya!"
CEKLEK
"Ah maaf kak, tadi habis nyuci baju di belakang" ucap Kiara.
"Tidak apa-apa! Sekarang bagaimana dengan Kayra?" tanya Kenzo.
"Eum... Aku masih belum tau juga kak."
Devan keluar dari kamar dan mendekati mereka berdua.
"Selamat pagi kak!" Ucap Devan.
"Kamu? Kenapa bisa ada di sini?"
"Tadi malam dia berusaha untuk menyelamatkan Kayra, tapi sayangnya dia di pukul oleh para lelaki berbaju hitam itu." jelas Kiara.
Kenzo menatap sinis kepada Devan.
"Ma-- Maaf kak!"
"Huft... Itu bukan salah mu"
Sebenarnya itu semua salah gue. Batin Devan.
"Bagaimana kalau kakak juga mencari di sekitar sini? Kami juga akan membantu kak!"
"Tapi kita tidak ada orang yang di curigai sekarang"
"Mungkin... Ayahku bisa kak Kenzo curigai" Ucap Devan.
Mereka semua terdiam dan melihat ke arah Devan.
"Apa maksudmu?"
"Aku benar-benar minta maaf ke kalian semua, terutama Kiara. Karena keserakahan ayah ku semua keadaan menjadi buruk"
"Bukan hanya Devan saja, aku juga ikut dalam permasalahan ini!" Dion keluar.
"Kenapa Lo-- Ughh!" Pekik Kiara. Padahal ia berusaha menyembunyikan Dion dari Kenzo tapi dia memutuskan untuk keluar.
"Kamu? Bukannya dia laki-laki yang pernah--" Kenzo berdiri dan mendekati Dion.
"Iya kak, tapi sekarang dia akan membantu--
BRUGHH!
"Mau apa kamu muncul di sini huh?!" Amarah Kenzo mulai meledak dan memukul wajah Dion. Namun ia tidak berkutik karena ia sadar atas kesalahannya.
"Kak! Udah kak..."
"Saya minta maaf..." gumam Dion yang hampir tidak kedengaran.
"Kak... Harusnya kita mencari cara menemukan Kayra segera!"
Akhirnya Kenzo meredam amarahnya dan kembali duduk.
...****************...
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca dan mendukung novel ini 😊
Tetap semangat dan sampai jumpa lagi 👋