
"Ezra? Lo... Ngikutin gue?"
"Kenapa kaget gitu sih? Lo juga kenapa enggak ngajak gue?"
"Itu...?"
CEKELK....
"Siapa?"
"Kiara! Kami dat-- ang?" Ezra terdiam lama. Begitu juga dengan Kiara yang membuka pintu.
"Ahaha... Lo... Makin gendutan ya..." ucap Ezra asal. Ia sedikit tertegun melihat perut Kiara yang besar. Namun ia tidak mau memikirkan hal aneh padanya.
"Siapa Ki?" Dion datang dengan keadaan kepala basah setelah mandi. Ia melihat Kiara yang terdiam di depan pintu.
"Di--Dion?!" Pekik Ezra dan Irene yang melihat Dion mengeringkan rambutnya dengan handuk. Mungkin sebagian orang akan salah paham jika melihat mereka berdua.
...****************...
"Jadi begitu ya... Pantesan sikap Kiara beda banget enggak kayak biasanya." ucap Devan.
"Gue udah berusaha samain sikapnya Kiara, tapi kayaknya agak susah deh..." ucap Kayra sembari berjalan menuju halaman depan.
Sebelumnya Kayra ingin menyirami tanaman yang ada di sekeliling rumahnya. Melihat Kayra seorang diri Devan langsung mengikutinya.
"Ya Baguslah... Mending jadi diri Lo sendiri aja..."
Tak lama setelah itu Kayra terdiam di tempatnya.
"Ternyata masalah Lo rumit juga ya... Eh? Kenapa Lo diam gini?" Tanya Devan.
Tatapan mereka terpacu melihat dua orang di hadapannya yang sedang diam mematung di depan pintu.
"Psst... Bukannya itu teman-teman Lo ya? Kenapa suasananya jadi tegang begini?" Bisik Devan.
"Ezra... Baru tau soal ini" jawab Kayra.
"Ohh... Berarti Lo harus ceritain lagi deh dari awal..." Ucap Devan mengingat sebelumnya Kayra juga menjelaskan apa yang terjadi di antara mereka.
"Kia--? Tunggu? Kenapa Kiara ada dua? Maksudku yang satunya agak gemuk yang satunya lagi-- Haha... Ini pasti kebanyakan main game... Hahaha" Ezra benar-benar menjadi bingung sekarang. Ia merasa dirinya sudah tidak waras melihat kejadian ini.
"Ren? Gue lagi mimpi ya sekarang?" Tanya Ezra pada Irene.
"Akh... Lo enggak mimpi Zra! Nihh..." Irene memberikan cubitan terkuatnya di lengan Ezra.
"Aadu--duh..."
"Lo enggak mimpi Zra! Ini memang gue, Kiara! Dan yang di sana itu kembaran gue, Kayra namanya" ucap Kiara.
"A-Apa?" Ezra melihat ke arah Kayra lalu ke Kiara. Langkahnya berjalan mundur. Sedikit demi sedikit ia mulai memahami apa yang terjadi.
"Gu--Gue... Mau pulang..."
"Aihh... Merepotkan!" gumam Dion dan kembali ke dalam.
"Kiara... Gimana ini?" Tanya Irene.
Kiara Langsung keluar dan menarik tangan Ezra.
"Ezra! Kita harus bicara!" Ucap Kiara. Terlihat sekali raut wajah Ezra yang bingung dan juga syok itu. Ia mengangguk pelan.
"Baiklah, kita bicara saja di luar" pinta Ezra.
"Tapi, Kiara enggak boleh--"
__ADS_1
"Ayo kita bicarakan ini di taman!" Potong Kiara ketika Kayra ingin mengatakan sesuatu.
"Udah, biarin aja mereka di berikan waktu untuk berdua" ucap Devan.
"Huft..."
Di dalam rumah....
"Maaf... gue enggak tau kalau dia bakal ngikutin gue" ucap Irene.
"Enggak apa-apa Ren! Tapi Lo ke sini ada apa ya?" tanya Kayra.
"Lo enggak masuk kelas tanpa alasan, ya gue jadi bingung tumben banget Lo enggak masuk"
"Bingung apa khawatir nih...?" Ucap Devan.
"ishh Apaan sih! Oh iya kebetulan Lo juga enggak masuk kan, wajarlah gue penasaran kenapa kalian berdua enggak masuk di hari yang sama?" tanya Irene.
"Ah... Itu karena kemarin--"
"Ke mana Kiara?" tanya Dion tiba-tiba.
"Ishh!" desis Irene yang malas melihat wajah Dion.
"Dia pergi dengan Ezra, ada hal yang mau mereka bicarakan" kata Kayra.
"Ohh gitu..."
"Dion! Kenapa Lo enggak ke sana, jagain Kiara. Gue khawatir kalau ada apa-apa dengannya" pinta Kayra.
"Huft... Iya deh!"
"Dia ada di taman. Tamannya pas ada--"
"Biarin aja dia! Dia tau kok lokasi di sekitar sini" ucap Irene.
"Ah gitu ya..."
...****************...
Di taman. Ezra dan Kiara duduk di ayunan yang ada di taman itu. Kebetulan taman itu kosong dari keramaian. Mereka masih terdiam. Tenggelam pada pikiran masing-masing.
Sekilas Kiara melirik ke arah Ezra. Ia benar-benar bingung harus mulai dari mana.
"Bicara aja langsung! Gue... akan dengerin" ucap Ezra membuka pembicaraan.
Kiara menghela nafasnya panjang.
"Maaf... Karena baru sekarang Lo tau. Gue benar-benar bingung saat itu. Walaupun kalian selalu ada buat gue, tapi... hal ini sulit untuk gue bicarakan..." ucap Kiara.
"Sekarang tinggal Bella yang belum tau hal ini..."
"Pasti berat banget, Lo harus menyimpan rahasia yang besar ini. Begitu juga dengan kembaran Lo, siapa tadi?"
"Kayra... Dari kalian pasti enggak tau tentang gue punya kembaran. Karena dia di culik ketika kami lahir. Semenjak itu nyokap gue enggak membahas sekalipun tentang Kayra."
"Selama dia gantiin gue sekolah, dia banyak bercerita tentang kalian. Ezra... Makasih karena udah jaga Kayra di sekolah dan juga... makasih karena udah perhatian selama ini ke gue. Maaf gue kurang peka sama perasaan Lo. Tapi gue harap Lo bisa bertemu dengan cewek yang baik dan selalu sayang sama Lo...."
Entah mengapa Ezra yang mendengar itu terasa sesak. Ia seperti di tolak tanpa mengatakan duluan perasaannya pada Kiara.
Ezra ingin melanjutkan pembicaraannya. Namun Pandangannya teralihkan melihat Dion berada di seberang jalan.
Kiara yang melihat pandangan Ezra, juga melihat ke arah tersebut.
"Ah... Itu, mungkin dia cuman jalan-jalan aja.
__ADS_1
Hahaha..." Ucap Kiara.
"Kalau gitu, gue balik duluan ya! Jaga kesehatan baik-baik dan juga... Bayinya..."
Ezra bangkit dari duduknya. Begitu juga dengan Kiara. Mereka sama-sama keluar dari taman itu.
Kiara yang masih berdiri di tempat sambil melihat punggung Ezra yang mulai menjauh.
"Kasian banget gue liat anak itu..." Gumam Dion yang melihat keduanya.
"Target terlihat!"
"Lakukan!"
Maafin gue Zra! Batin Kiara.
"Masih lama enggak sih dia berdiri kayak gitu?" Gerutu Dion. Ia ingin menyebrang jalan menghampiri Kiara. Pandangannya teralihkan melihat mobil yang melaju.
Awalnya ia pikir hanya mobil yang laju biasa. Namun lama kelamaan, ada yang aneh dari gerak-gerik mobil itu.
Mobil itu semakin laju dan akan mengarah ke Kiara.
"Astaga! Kiara!"
Kiara yang mendengar teriakan Dion menoleh dan melihat Dion tengah berlari ke arahnya.
"Ada ap--"
"Kia! Maafin aku...!"
BRUKKK!
DUGHH!
"Akh..."
Suaranya sangat terdengar dengan jelas oleh Ezra. Ia menoleh ke belakang dan melihat sesuatu yang tak terduga.
"Apa yang... Terjadi?!" Pekik Ezra. Ia langsung berlari kembali ke tempat awal.
"Di--dion!?" Ia melihat Kiara yang juga terbaring di tanah.
DRINGGG... DRING....
"Ezra? Kenapa dia nelpon?" Gumam Irene.
"Halo Zra?"
"Ren! Lo cepat ke taman!"
"Hah? Ada apa?"
Kayra dan Devan yang mendengar itu juga sama-sama menyimak.
"Kiara... Hiks... Hisk... Dan Dion...!"
"Oo-Oke! Kita ke sana sekarang!"
Mereka bertiga langsung pergi ke taman seperti yang dikatakan Ezra.
...****************...
Terima kasih sudah membaca dan mendukung novel ini 😊
Tetap semangat dan sampai jumpa lagi 👋
__ADS_1