
DRINGGG... DRINGGG....
Devan merogoh smartphone di sakunya. Ia melihat nama 'Dina' Tertera di layar.
"Tumben Dina nelpon... Halo, Din?"
".... Kakak! Kakak kapan pulang?"
"Sepertinya masih ada satu pelajaran lagi, kenapa?" tanya Devan.
"Penyakit papa kambuh lagi... Hiks..."
"Apa?!"
...****************...
Devan tengah menunggu di depan pintu kamar Eric sembari dokter keluar. Ia dari tadi hanya mondar-mandir di sana.
"Sam! Katakan padaku, kenapa ini bisa terjadi?" tanya Devan.
Sam yang tadinya agak menjauh berdiri kemudian mendekati Devan.
"Tuan Eric tidak mendapatkan tambang biru dari pelelangan tadi..." ucap Sam.
"Hanya itu?"
"Bukan itu saja tuan, tambang biru itu berhasil di ambil oleh tuan Kenzo dan tak berapa lama beliau langsung menghebohkan semua perusahaan atas temuan berlian di sana.."
"Kak Kenzo? Jadi karena itu, papa..."
"Anda pasti tau tuan Eric mempertahankan perusahaan Adhitama yang mulai hancur sejak tiga tahun yang lalu, mungkin karena itu juga tuan sampai seperti ini..." jelas Sam.
Devan hanya bisa terdiam. Mengingat hal yang sudah ayahnya lakukan. Ia mengetahui alasan kenapa Eric melakukan hal itu.
Tujuan utamanya ialah menjatuhkan satu persatu perusahaan yang tidak bekerja sama dengan perusahaan Adhitama.
Tak lama kemudian dokter keluar dari kamar Eric.
"Banyak beristirahat dan tetap perhatikan makanan yang beliau makan."
"Baik dok, terima kasih!" Devan memasuki kamar ayahnya.
"De- Van...." Rintih Eric.
"Iya, Pa?"
"Maafkan papa, kamu harus melihat papa yang lemah ini..."
"Tidak apa-apa, istirahat saja."
"Papa akui, banyak salah papa dengan kalian, tapi papa tidak tau apa yang harus ku lakukan sekarang... Papa melakukan ini semua hanya untukmu dan juga perusahaan Adhitama, papa harap ketika kamu menggantikan papa akan lebih maju dari yang lain...." ucap Eric. Ia berusaha duduk.
"Katakan saja padaku apa yang harus aku lakukan? Aku juga ingin membantu papa" ucap Devan.
"Benarkah? Kalau begitu.... apa kamu menyukai Kiara?"
Deg...!
Kenapa tiba-tiba papa bahas Kiara? Batin Devan.
"Apa maksud papa?" Tanya Devan.
"Jika kamu harus memilih, papa atau anak itu, siapa yang akan kamu pilih... Devan?"
Devan hanya bisa terdiam. Ia benar-benar bingung untuk menjawabnya.
"Karena kamu tidak mau memberikan bukti video itu, berarti kamu lah yang harus menyebarkan bukti Kiara, itu demi kejayaan perusahaan kita..." Eric menatap mata Devan. Terlihat jelas ia ragu untuk melakukannya.
...****************...
"Ibu ingatkan kepada kalian Minggu depan sudah mulai ujian tengah semester, jadi persiapkan dari sekarang" ucap ibu Friska.
__ADS_1
"Baik bu!" Ucap siswa dan siswi kelas 12-3.
KRINGGG... KRINGG...
"Yey! Waktunya pulang!" Pekik Bella.
"Hoammm! Ngantuk nya..." Ezra menutup mulutnya yang menguap.
"Hari ini Irene, Yeni, sama Opi piket ya! Jangan lupa sampahnya aja yang di buang, tempatnya taruh lagi di depan kelas!" Anggi selaku ketua kelas memberikan arahan.
"Yah... Irene piket..."
"Kalian duluan aja, gue lama di sini!" Ucap Irene.
"Oke deh! Oh iya jangan lupa laci gue banyak sampahnya tuh, buangin ya!" kata Bella cengengesan.
"Ishh! Buanglah sendiri!" pekik Irene.
"Gue buru-buru, Ren! Bye!" Bella pun langsung keluar dari kelas.
"Kami duluan ya, Ren!" ucap Kayra.
"iya, Kia! Hati-hati ya!"
Ezra dan Kayra meninggalkan Irene yang masih di kelas.
"Gue lewat sana ya Ki!" ucap Ezra yang menunjuk arah jalannya pulang.
"Oke, Zra! Hati-hati!"
Kayra dan Ezra berpisah di pertigaan jalan. Tak lama kemudian Kayra telah sampai di rumahnya.
"Aku pula--"
"BOOOMMM!"
"Aaaaa! Ya ampun! Kia! Bikin kaget aja lohh!" Kesal Kayra melihat Kiara yang mengagetkannya.
"Lo sendirian Ki di sini? Mana Kak Ayu?" Ucap Kayra.
"Ohh... Lagi ada cucian di belakang.." Ucap Kiara. Ia langsung kembali duduk di atas ranjang milik Kayra.
"Huft... Minggu depan gue ujian nih..." Gerutu Kayra.
"Mesti belajar bener-bener Lo!"
"Iya nih!" Kayra mengambil tas yang ada di sampingnya.
"Loh? Handphone gue mana?" tanya Kayra.
"Enggak tau! Ingat-ingat terakhir Lo taruh di mana?" ucap Kiara.
"Eum.... Diiiiii....."
Sementara itu di kelas...
"Buset dah! Sampahnya Bella banyak banget! Dasar tu anak! Liat aja nanti kalau gilirannya piket!" Irene mengomel melihat sampah begitu banyak di laci Bella.
Setelah memeriksa laci Bella, ia pindah melihat ke laci Kayra. Ternyata ada handphone miliknya yang tertinggal.
"Hadeh... Ini juga, Kia... Kia..." Irene pun mengambil handphone itu dan mengantongi di sakunya.
"Gue sudah buang sampah yak! Gue balik duluan!" Ucap teman sekelas Irene.
"Balik juga yok Ren!"
"Ayok dah!"
Akhirnya kelas mereka pun kosong.
Kayra baru teringat handphone nya tertinggal di laci meja. Ia langsung buru-buru bergegas kemarin ke sekolah.
__ADS_1
"Gue ke kelas lagi deh! Gue pinjem handphone Lo ya, Ki!!" ucap Kayra. Ia pun berlari keluar rumah.
"Ada-ada aja sih Kayra ini..." gumam Kiara.
Kayra berlari sekuat tenaga untuk kembali ke kelas sebelum terkunci.
Sesampainya di gerbang sekolah, ia tidak melihat Irene yang sudah masuk ke dalam mobilnya sehingga mereka tidak bertemu satu sama lain.
Kayra telah sampai di depan kelasnya dan benar saja pintu tersebut telah terkunci. Ia kembali menelepon ke nomornya. Namun tidak ada suara dering di dalam kelas.
Sementara itu Irene yang merasa ada suara getaran dari saku bajunya dan mengambil handphone milik Kayra.
"Siapa yang nelpon?"
Irene mengernyitkan keningnya melihat nama 'Kiara' tertera di layar handphone.
"Aneh... Ini handphone Kiara kenapa yang nelpon namanya 'Kiara' juga?" gumam Irene.
"Apa kita akan belok kiri nona Irene?" Tanya pak sopir.
"Ah iya, aku mau ke tempat Kiara dulu, pak!"
Kalau di pikir lagi, jarang juga gue ke rumah Kiara. Batin Irene.
Mobil pun melajukan ke arah rumah Kayra.
"Tunggu di sini bentar ya, pak!" Ucap Irene.
"Baik nona Irene!"
Irene bergegas menghampiri Kayra. Biasanya untuk teman-teman Kiara sendiri jarang untuk mengetuk terlebih dahulu. Mereka biasanya langsung masuk saja selagi pintunya tidak terkunci.
Kebetulan pintu itu tidak terkunci. Sehingga Irene mudah untuk masuk.
"Ki! Ini gue! Lo di mana?" Irene melihat sekelilingnya di ruang tamu. Tidak ada orang di sana. Ia pun mengecek kamar Kiara dan tidak ada orang juga di sana.
SREKK... BRUKK!
Terdengar bunyi bising dari arah dapur. Irene menuju ke sana. Suara nada dering dari handphone berbunyi lagi kesekian kalinya. Ia masih melihat nama itu 'Kiara'. Namun ia melihat Kiara sedang sibuk di dapur dan tidak memegang handphonenya.
"Kayra, Lo udah balik? Handphonenya kenapa enggak di matiin aja?" Tanya Kiara yang belum melihat ke belakang.
"ki-Kiara?"
...****************...
"Kenapa di kelas enggak ada ya? Apa jangan-jangan sudah ada yang bawa terus di lapor guru? Haduh..." Kayra dalam perjalanan menuju ke rumahnya. Ia masih menelepon ke nomor handphone nya. Siapa tau ada yang mengangkatnya, ia jadi tau yang membawanya.
Kayra sudah sampai di depan rumahnya. Ia melihat sebuah mobil terparkir di luar.
"Mobil siapa ini?" Gumam Kayra.
Kayra melihat seorang lelaki tua tengah menunggu seseorang di dalam mobil.
"Pak? Lagi nunggu siapa?" Tanya Kayra.
"Eh, nona Kiara! Tadi ada nona Irene. Sekarang dia ada di dalam" Ucap pak sopir.
"Apa?!" Kayra terkejut dan bergegas berlari ke dalam.
Dari kejauhan ia mendengar suara nada dering miliknya yang tak jauh darinya.
"Hosh... Hosh...!" nafas Kayra mulai tidak beraturan. Apalagi melihat Kiara yang diam mematung melihat Irene di hadapannya.
"I-Irene?" Ucap Kayra. Irene melihat ke arah Kayra yang ada di belakangnya.
...****************...
Terima kasih sudah membaca dan mendukung novel ini 😊
Tetap semangat dan sampai jumpa lagi 👋
__ADS_1