
"Hari ini kan sudah selesai ujian... Gimana kalau kita jalan-jalan dulu?" ajak Devan pada Kayra.
"Memangnya mau ke mana?"
"Lo mau enggak?"
"Eum... Tapi bukannya Lo mau di jemput ya?" tanya Kayra.
"Gampang, gue bisa atur penjemputan nya..."
Akhirnya Kayra menyetujui ajakan Devan. Hal ini memang yang terbaik di bandingkan menyendiri di sana.
Sampailah mereka di mall yang letaknya tidak jauh dari sekolah mereka. Devan membawa Kayra ke tempat menjual pakaian bermerek. Devan mulai mencari-cari pakaian yang akan ia kenakan.
"Lo juga pilih!" Kata Devan.
"Untuk apa? Pakaian gue udah banyak di rumah!" Ucap Kayra.
"Lo mau jalan-jalan pakai baju seragam? Entar orang liatin Lo di kira anak yang hilang lagi atau enggak bolos sekolah!"
"Huft... Iya deh!"
Kayra juga ikut memilih pakaian yang sesuai dengan dirinya.
"Gimana bagus enggak?" Tanya Devan setelah mencoba pakaian yang ia ambil. Devan memilih kaos berwarna biru muda di padukan dengan jaket yang berwarna biru malam dan celana selutut berwarna hitam.
"Eum... Bolehlah! Sekarang giliran gue!" Kayra beranjak dari duduknya dan masuk ke ruang ganti.
Kayra keluar dengan memakai pakaian yang ia pilih. Hampir sama dengan gaya Devan, namun kaos yang ia pilih berwarna hitam dengan celana jeans kulot.
"Lo beneran mau pakai ini?"
"Kenapa? Jelek ya?" tanya Kayra. Ia melihat dirinya di cermin. Ia sangat nyaman memakainya.
"Tomboy amat sih lo! Ya udah gih yok bayar!"
"Astaga?!" Kayra tersentak sebentar.
Gue kan enggak bawa banyak uang cash tadi... Aduh gimana dong... Batin Kayra.
"Kenapa Ki?" tanya Devan.
"Eung? Ahaha... Kayaknya gue pakai seragam aja deh.. Enggak apa-apa di kira bolos"
"Enggak boleh gitu dong, sini ikut gue!"
Tak lama kemudian mereka berdua keluar dengan mengenakan pakaian baru yang mereka beli.
"Makasih ya! Tapi nanti gue gantiin kok!" Ucap Kayra. Dari pakaian yang mereka kenakan semua sudah di bayar oleh Devan sendiri.
"Aman sama gue! Enggak usah di gantiin... Hitung-hitung ucapan terima kasih karena udah nemenin gue jalan!"
Kayra hanya mengangguk kecil. Walaupun begitu ia tetap saja tidak enak pada Devan.
Kebetulan karena hari sudah siang, mereka memutuskan mencari makan terlebih dahulu. Setelah selesai makan barulah mereka berjalan-jalan mengitari mall.
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Hari sudah mulai gelap. Kayra dan Devan bergegas untuk kembali.
"Lo udah hubungi jemputan Lo?" ucap Kayra.
"Udah, nanti bareng gue aja pulangnya"
__ADS_1
"Oke!"
Mobil jemputan Devan pun datang. Mereka berdua masuk dan mulai mengantarkan Kayra terlebih dahulu.
Berhubung besok libur, enaknya beli cemilan nih... Batin Kayra.
Pas sekali mobil itu melewati minimarket yang jaraknya juga tak jauh dari rumah Kayra.
"Pak bisa berhentikan mobilnya di sini?" ucap Kayra.
"Loh kok berhenti di sini? Lo mau ngapain?" tanya Devan.
"Ada yang mau gue beli di sini, lagian jaraknya juga dekat kok dari rumah gue, makasih ya untuk hari ini."
BRAK!
Devan membuka kaca samping.
"Serius nih? Jalanan di sini cukup sepi"
"Iya serius, sana gih pulang! Oh iya makasih juga pakaian nya!" Ucap Kayra.
"Sama-sama, kalau gitu gue duluan ya!"
"Iya! Bye!"
Kayra melihat mobil itu sampai tak terlihat. Ia segera menyebrang dan pergi ke minimarket.
"Huum? Rame juga. Gue harus bergegas supaya enggak antri!" Kayra cepat-cepat mengambil keranjang dan mulai berbelanja.
Mau seberapa cepat pun Kayra berbelanja tetap saja antrian yang cukup panjang di area kasir.
DRIIINGG.... DRING... (nada dering hp)
"Halo kak?"
"Kayra? Kamu di mana? Kok belum balik..." Tanya Ayu.
"Maaf kak, ini lagi di minimarket, antriannya panjang banget" ucap Kayra.
"Oh gitu, ya udah enggak apa-apa, hati-hati ya kalau pulang"
"Iya kak, Kak Kenzo udah pulang kerja?"
"Belum, mungkin agak malam baru dia pulang"
"Oke deh kak!"
Kayra mematikan ponselnya dan melihat ke arah depan. Masih ada sekitar delapan orang lagi dengan belanjaannya yang cukup banyak.
Bisa sampai tengah malam ini selesainya... Batin Kayra.
...****************...
Devan baru saja pulang ke rumah. Ia melewati beberapa mobil yang tersusun di depan rumahnya.
DUG... DUG... DUG...
Terdengar suara langkah kaki bergema dari dalam. Para lelaki dengan berkaos kan hitam keluar dari rumah Devan.
"Banyak banget..." Gumam Devan. Ia terheran-heran melihat banyaknya orang yang keluar dari sana.
__ADS_1
Setelah semua orang telah keluar, Devan pun buru-buru masuk ke dalam. Tanpa sengaja ia menabrak seseorang yang berpakaian sama dengan para lelaki tadi.
BRUKK!
"Agh! Ma-- Maaf...!" pekik Devan.
Orang itu terdiam dan merapikan kembali jas yang ia kenakan. Setelah melihat Devan ia berlalu pergi dari sana.
"Apaan sih orang itu?" Gumam Devan. Ia pun kembali masuk ke dalam. Tiba-tiba ia melihat kertas foto yang terjatuh di lantai.
"Kayaknya punya orang tadi deh..." Devan mengambilnya dan melihat keluar apakah orang tadi masih ada atau sudah pergi. Ternyata ia sudah berlalu dengan mobilnya.
"Kelihatannya sudah pergi. Ini foto apa sih?" Dengan rasa penasaran, ia membalikkan foto itu dan terlihat foto yang tak asing baginya.
Spidol merah terang membentuk lingkaran di sana. Seorang perempuan yang mengenakan seragam sekolah yang ia juga punya seragam itu.
"Ki-- Kiara?! Apa jangan-jangan mereka adalah suruhan papa?!" Devan memasukkan foto itu ke sakunya. Ia bergegas ke dalam dan mencari sesuatu.
"Ke mana aja kak? Tumben baru pul--"
"Kami ada liat kunci motor enggak?" Tanya Devan yang memotong perkataan Dina.
"Eum... Ada di laci sebelah sana. Kakak mau ke mana lagi?"
"Aku keperluan sebentar!" Setelah menemukan kuncinya, ia langsung pergi ke garasi dan mengambil motor kesayangannya.
Devan mengenakan Airpods dan langsung mengambil handphonenya. Ia mencari kontak nama 'Kiara'. Setelah mendapatkannya ia langsung menelponnya.
"... Halo?"
"Kiara!! Lo... Lo ada di mana sekarang?!" Pekik Devan. Ia langsung menancapkan gas dan pergi dari rumah itu.
"Gue... Baru aja keluar dari minimarket. Huft... Akhirnya setelah sekian lama gue di sana bisa keluar juga" ucap Kayra. Ia sangat senang sekali dua orang yang mengantri itu keluar dari antrian. Jadi ia bisa lebih cepat keluar dari minimarket itu.
"Sekarang dengerin gue! Lo jangan kemana-mana dan tetap di sana!"
"Loh kenapa? Kalau Lo mau keluar bisa langsung ke rumah"
"Bukan... Bukan itu maksud gue... Lo-- Kia--" Suara Devan terdengar tidak jelas di akhir.
"Ngomong apa sih? Halo? Devan... Apaan sih.. Matiin aja kali ya..." Kayra terus berjalan ke arah rumahnya. Jalanan di sana memang sangat sepi ketika malam. Namun ia sudah terbiasa dengan keadaan seperti itu.
Kayra yang sibuk dengan handphonenya tidak menyadari ada seseorang yang berdiri di hadapannya.
"Hai Ica? Lama tidak bertemu ya?" ucap orang itu. Sontak Kayra mendongak dan melihat ke arah orang itu.
Kayra terbelalak dan melangkah mundur. Ia ketakutan sekarang melihat orang yang sudah lama tidak ia temui.
"Kenapa kamu jadi takut denganku? Apa jangan-jangan kamu lupa ya dengan ku?"
"JANGAN! JANGAN MENDEKAT!" Pekik Kayra.
"Ups.. Maafkan aku, sepertinya kami sudah terlanjur mendekati mu" Orang tersenyum dengan sinis nya.
Dan benar saja orang-orang yang berpakaian hitam mulai mengepung dirinya.
...****************...
Terima kasih sudah membaca dan mendukung novel ini 😊
Tetap semangat dan sampai jumpa lagi 👋
__ADS_1