Pergi Untuk Bahagia!

Pergi Untuk Bahagia!
Bab 10


__ADS_3

Setelah makan siang selesai, Orangtua Aulia pun berpamitan. Keduanya akan terbang ke luar negeri guna mengunjungi Putra sulung nya yang menetap disana.


Aulia dan Bisma mengantarkan sampai ke depan Rumah, mereka tidak bisa mengantarkan ke Bandara karena masih harus membenahi Rumah baru.


"Kalau ada apa-apa hubungi kami secepat nya" ucap Mama Loli.


"Iya Ma" balas Aulia dan Bisma hanya mengangguk saja.


"Masalah orangtua mu biarkan saja, mereka sudah cukup dewasa dalam menyikapi nya. Jika mereka salah langkah baru kita benahi" ucap Papa Prans.


"Iya Pa, semoga saja ada titik bahagia setelah semua permasalahan ini" balas Bisma memeluk Papa mertua nya.


"Amin" ucap Aulia dan orangtua nya serempak.


Setelah kepergian orangtua Aulia, keduanya masuk kembali dan berkumpul di ruang keluarga bersama dengan Wulan dan Sofian.


"Ada apa?" tanya Bisma saat melihat raut wajah tegang Wulan.


Aulia dan Bisma duduk bersebrangan dengan Wulan, mereka menatap Wulan dengan penasaran.


"Ibu, dia marah-marah di Rumah karena kita pergi tak bilang-bilang" ucap Wulan.


"Kamu tau darimana, Nak?" tanya Pak Sofian.


"Dari Mbak Mira" jawab Wulan.


Bisma mengusap wajah nya kasar, dia menghembuskan nafas dengan kasar dan menggelengkan kepala nya dengan pelan.


"Aku tak tau lagi harus bagaimana menghadapi, Ibu. Dia semakin berubah dan menjadi saja" ucap Bisma lirih.


"Aku bertahan disana bukan tidak sayang pada Aulia, bukan tidak tahu kelakuan Ibu. Aku disana karena semata-mata demi Wulan, aku takut Ibu akan menyakiti nya meski harus mengorbankan Aulia dan Aku" ucap Bisma kembali.


"Namun sekarang aku pergi, aku sudah tak sanggup tinggal disana. Aku dan Aulia juga ingin mandiri dan damai, Pak" lirih Bisma.


Aulia hanya diam, dia mengelus lengan Bisma dengan lembut. Aulia tau bahwa Suami nya menahan emosi karena mengingat masa lalu.


"Ya Bapak juga tahu, kamu sekarang fokus saja bekerja dan jangan kecewakan Papa mertua mu. Masalah Ibu, biar Bapak yang urus" balas Pak Sofian tegas.


"Nak, kamu akan Bapak kirim ke Bude mu yang ada di Jawa. Kamu sekolah disana dengan benar, jangan hiraukan kami disini, ya" jelas Pak Sofian pada Wulan.


"Baik Pak, aku nurut saja" balas Wulan patuh.


Lalu Pak Sofian pamit dari Rumah Bisma, sedangkan Wulan akan tinggal disana selama surat perpindahannya belum selesai.

__ADS_1


"Hati-hati, Pak" ucap Aulia dan Bisma.


Pak Sofian mengangguk, dia kemudian naik motor yang di bawa nya tadi.


"Sayang, Mas mau ke ruang kerja dulu ya. Ada beberapa berkas yang belum Mas kerjakan" pamit Bisma.


"Iya Mas, aku dan Wulan akan melanjutkan menata semua barang" balas Aulia dengan tersenyum.


"Jangan terlalu lelah oke" ucap Bisma mengusap lembut kepala Aulia.


Aulia mengangguk, kemudian dia menghampiri Wulan yang sedang menata Poto dan gambar lainnya. Kedua nya sama-sama menata ruang tamu, keluarga dan teras belakang yang nampak enak di buat untuk bersantai.


"Mbak, nanti sering jengukin aku di Jawa ya" ucap Wulan saat mereka menata teras belakang.


"Gak mau, jauh" goda Aulia dengan terkekeh kecil.


"Mbak ihhhh" kesal Wulan mengerucutkan bibir nya.


Sontak saja Aulia langsung tertawa, dia mengacak rambut Wulan dengan gemas.


"Mana mungkin Mbak tidak menengok mu, jika ada waktu senggang agak lama pasti Mbak akan kesana" ucap Aulia lembut.


Grep.


"Aku sayang kamu, Mbak" lirih Wulan.


"Mbak juga sayang kamu. Kamu harus jadi wanita kuat dan sukses" balas Aulia.


Wulan menganggukan kepala dengan yakin, dia lalu tersenyum dengan menatap Aulia.


***


Saat ini Sofian sedang dalam perjalan menuju ke Rumah makan Tito, dia tidak langsung pulang karena sudah janjian dengan Tito.


"Apa Bos mu ada?" tanya Pak Sofian.


"Oh ada Pak, silahkan masuk" jawab kasir tersebut dengan menunjukan ruangan Tito.


Pak Sofian melenggang masuk, dia melihat bahwa sahabat nya sedang berkutat dengan buku.


"Ehemm" dehem Sofian.


"Ehh hey bro, kapan lu balik?" sapa Tito bangkit dari duduk nya.

__ADS_1


Pak Sofian duduk di kursi depan Tito.


"Sudah ada 3 harian mungkin" jawab Pak Sofian.


"Tit, aku kesini ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan mu" ucap Pak Sofian.


Tito hanya mengangguk, dia lalu menutup beberapa buku dan laptop yang ada di hadapannya. Lalu dia fokus pada Pak Sofian yang sedang mengutak-ngatik ponsel nya.


Hingga tak lama kemudian, Pak Sofian memberikan ponsel nya pada Tito.


Tito tak banyak tanya, dia langsung melihat apa yang ada disana.


"Ba bagaimana kamu bisa tahu?" tanya Tito dengan wajah kaget nya.


"Berarti benar, kalian mengkhianatiku selama hampir 20 tahun ini?" bukannya menjawab, Pak Sofian malah melontarkan pertanyaan kembali pada Tito.


Glek.


Tito tak mampu menjawab, dia hanya mengangguk dengan raut wajah yang takut. Sedangkan Pak Sofian? Dia memejamkan mata nya saat Tito membenarkan pertanyaan yang dia lontarkan.


"Bedebah kalian berdua" lirih Pak Sofian.


"Tolong jangan ambil Wulan, biarkan dia bersamaku" lirih Pak Sofian kembali.


Deg.


Tito kira dia akan di maki oleh sahabat nya ini, namun nyata nya tidak. Dia akan senang hati membiarkan Putri nya bersama dengan Pak Sofian, karena dia tahu bahwa sahabat nya itu sangat memanjakan dan menyayangi Wulan.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2