
Tak terasa begitu lama mereka menikmati jalan-jalan dan belanja, hingga saat mereka sampai di Rumah sudah ada yang menunggu nya dengan bersidekap di dada.
"Ya ampun, mereka sudah menanti" ucap Wulan dengan segera berlari masuk ke dalam Rumah.
Sedangkan Mama dan Aulia hanya cengengesan saja menatap Suami nya masing-masing, Bisma menggelengkan kepala saja.
"Ayo masuk, kamu harus di beri hukuman agar tidak pergi lama lagi dan membuatku rindu" cetus Bisma saat Aulia di hadapannya.
Aulia hanya terkekeh saja, dia lalu memeluk Suami nya dan berlalu masuk ke dalam kamar.
Papa dan Mama Aul hanya tersenyum, mereka cukup bahagia dengan kehidupan Aulia yang sekarang.
"Bagaimana jalan dan shoping nya, sayang? Apa sebahagia itu hingga melupakan aku yang sudah menunggu, hmm" ucap Bisma memeluk Aulia dengan hangat.
"Hehe maaf Mas, aku rindu dengan Mama jadi aku khilaf. Jangan merajuk begitu dong Ayah" goda Aulia dengan mengecup pipi Bisma lembut.
"Hah mana mungkin aku bisa merajuk atau marah pada mu, sayang" balas Bisma tersenyum lembut.
"Aku bersih-bersih dulu ya, Mas" izin Aulia.
Bisma menganggukan kepala nya dan melepaskan pelukan dari tubuh Aulia. Hingga setelah itu Aulia langsung saja ke kamar mandi, sedangkan Bisma duduk di sofa kamar nya.
**
__ADS_1
Tak terasa waktu 1 minggu berjalan dengan cepat, Wulan hari ini akan pulang dan di antarkan oleh Bisma yang kebetulan ada masalah di proyek yang ada di Indonesia.
Meski berat, tetapi Aulia mengizinkan Suami nya pergi, dia di temani oleh Bibi saja di Rumah karena Mama nya sudah kembali ke Negara x bersama sang Papa.
Aulia mengantarkan Bisma dan Wulan ke bandara bersama sopir, dia memeluk tubuh sang Suami seperti enggan untuk melepaskannya.
"Kamu hati-hati di Rumah ya, sayang. Kalau tidak ada perlu yang mendesak jangan keluar Rumah" ucap Bisma melepaskan pelukan Aulia.
"Iya, Mas. Kamu juga hati-hati disana ya" balas Aulia lirih.
Bisma lalu memeluk Aulia sebentar dan mengecup puncak kepala nya lembut, lalu setelah itu dia pergi bersama Wulan ke dalam pesawat.
"Mas, semoga kamu baik-baik saja disana. Entah kenapa perasaan ku tidak enak dan ingin sekali melarang kamu pergi" batin Aulia saat melihat pesawat yang di tumpangi Istri dan Adik ipar nya sudah melesat pergi.
"Ayo Nyonya kita pulang" ajak Sopir.
Sepanjang jalan, Aulia duduk dengan pandangan yang keluar jendela. Tak ada obrolan ataupun sepatah kata yang keluar dari mulut nya.
"Pak, singgah dulu di Taman sebelum ke Rumah" ucap Aulia dengan lirih
"Baik Nyonya" patuh Sopir.
Kemudian di dalam mobil kembali hening lagi, hanya terdengar deru mesin mobil saja. Sedangkan sang Sopir hanya sesekali melirik sang majikan, ia cukup khawatir karena Aulia hanya diam saja.
__ADS_1
Hingga tak lama kemudian mereka tiba di Taman, Aulia langsung saja berjalan dengan pelan ke arah tengah Taman, dia duduk di sana dengan di temani semilir angin.
Sopir tadi tak berada jauh dari nya karena takut terjadi sesuatu pada sang majikan.
*
Hampir 1 jam Aulia berdiam diri disana, hingga tak berselang lama akhir nya dia memutuskan untuk pulang saja karena matahari sudah naik.
"Kenapa aku merasa ada yang aneh, bahkan aku merasa Mas Bisma menyembunyikan sesuatu dari ku. Dan entah kenapa aku begitu sesak dan membuat perasaan tak enak" gumam Aulia dengan lirih.
"Nyonya" panggil sang Sopir sambil fokus pada jalanan.
"Biasa nya seorang istri atau ibu hamil insting nya akan sangat kuat, jika menurut Nyonya ada yang tidak beres maka saran saya Nyonya ikut pulang saja dan jangan beritahu siapapun" ucap Sopir tersebut setelah tau alasan sang majikan menjadi pendiam.
"Bapak benar, saya resah, sesak dan juga tak tentu pikiran. Kalau begitu saya akan pergi bersama anda dan Bibi saja, cepatlah kembali ke Rumah agar kita bersiap" balas Aulia dengan yakin.
Aulia lalu memesan tiket untuk mereka bertiga, tak lupa juga dia menelpon Bibi pelayan di Rumah agar menyiapkan segala sesuatu untuk ke Indonesia.
.
.
.
__ADS_1
.
.