Pergi Untuk Bahagia!

Pergi Untuk Bahagia!
Bab 15


__ADS_3

Sedangkan di kamar, Aulia duduk dengan helaan nafas kasar. Dia teringat akan ucapan sang Ibu mertua yang terus saja mengatai nya mandu*.


"Hei kenapa murung hemm" ucap Bisma lembut seraya memeluk Aulia dari belakang.


"Mas, ayo kita periksa kembali ke Dokter kandungan. Agar Ibu percaya bahwa aku subur" ucap Aulia lirih.


"Bagaimana kalau sehabis kita liburan besok? Siapa tahu aja sudah ada janin nanti nya disini" usul Bisma sambil mengelus perut rata Aulia.


Aulia mengangguk, dia merebahkan kepala nya di pundak Bisma.


"Jangan terlalu di pikirkan sayang, karena itu akan membuat kamu stress dan malah susah jadi janinnya. Ehem, bagaimana kalau kita cicil lagi" ucap Bisma dengan senyuman nakal nya.


Bugh.


Aulia memukul lengan Bisma dengan bantal sofa, dia lalu melepaskan pelukannya namun tidak bisa.


"Mas, jangan mesummm" rengek Aulia dengan meronta.


"Mesum sama Istri sendiri gak papa kok, ayolah sayang" goda Bisma kembali dengan memeluk Aulia erat.


Aulia langsung saja tertawa saat Bisma merebahkan tubuh nya di sofa dan menggelitiki pinggang nya.


"Mas stop" ucap Aulia di sela tawa nya


"Haha Mas gak akan berhenti sebelum kamu mengiyakan dulu ajakan Mas, sayang" balas Bisma tertawa kecil.


"Iya iya Mas, tapi nanti malam" ucap Aulia pasrah.


Bisma langsung berhenti dan membawa tubuh Aulia ke pangkuannya. Nafas Aulia terengah dengan wajah memerah karena terus saja tertawa.


Cup.


"Nah kalau gini kan kamu itu cantik, apalagi kalau mendayu di bawah ku" bisik Bisma dengan kekehan.

__ADS_1


Bugh.


Aulia memukul dada Bisma dengan kesal, dia tidak hanis pikir kenapa bisa Suami nya berubah jadi mesum begini.


"Hih belajar dari mana coba kamu jadi mesum begini" sinis Aulia dengan merebahkan kepala nya di dada sang Suami.


"Dari mbah ku google" celetuk Bisma tanpa beban.


"Ya Tuhan Mas Bisma" ucap Aulia dengan gelengan kepala.


Bisma hanya tertawa kecil, dia memeluk tubuh Aulia dengan erat. Seraya sangat enggan melepaskannya dan ingin terus memeluk nya.


"Sudah ah, aku mau mandi dulu" ucap Aulia setelah tenang dari tawa nya.


"Ehhh Mass" kaget Aulia saat Bisma menggendong nya dan membawa nya ke kamar mandi.


Sudahlah, entah hanya mandi atau lebih dari itu.


Di Rumah Yona, dia baru saja tiba dengan wajah kesal bercampur amarah.


"Awas saja kau Aulia, aku akan buat perhitungan pada kalian" gumam Yona.


"Dan ini lagi, kemana pergi nya Mas Sofian dan Wulan ya. Kalau mereka ada di Rumah Bisma sudah pasti tadi aku melihat motor nya, namun ini tidak ada" gerutu Yona.


Hingga lamunannya tersadar saat ada yang mengetuk pintu.


"Siapa lagi yang datang jam segini" gumam Yona saat melihat jam sudah di angka 6 sore.


Ceklek.


"Apa benar ini Rumah nya Bu Yona?" tanya seorang itu dengan sopan.


"Ya saya sendiri" jawab Yona malas.

__ADS_1


"Ini ada surat untuk anda" ucap orang tersebut sambil menyodorkan amplop di tangannya.


Yona menerima nya dan masuk ke dalam Rumah, dia melihat bahwa itu adalah surat dari pengadilan agama.


"Sofian bener-bener nyeraiin aku" gumam Yona lirih.


Yona menjayuhkan tubuh nya di atas sofa, dia membuka surat tersebut dan benar saja Sofian sudah resmi bukan Suami nya lagi.


Entah kenapa ada hati yang tercubit, hingga Yona merasakan sesak di dada nya.


"Kenapa aku begini, harus nya aku bahagia dan tentu aku bebas bersama Tito walaupun dia sudah beristri" gumam Yona.


Yona kemudian membuang surat itu dan beranjak pergi masuk ke kamar nya. Cuaca di luar sudah mulai turun hujan dan Yona akan memutuskan untuk berdiam diri di Rumah saja.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2