
Pak Sofian kembali melajukan motor nya ke arah Rumah, dia menahan gemuruh amarah yang sudah menyarang di dada nya. Bahkan entah berapa kali Pak Sofian menghembuskan nafas kasar nya.
"Kau benar-benar gila Yona, aku bahkan rela banting tulang hanya demi kalian. Namun, aku hanya mendapatkan pengkhianatan saja" geram Pak Sofian.
Tak berselang lama, dia sampai di halaman Rumah nya dan langsung masuk. Terlihat Rumah sangat berantakan seperti kapal pecah,
"Ya Tuhan, Yona" geram Pak Sofian.
"Yonaaaaa" teriak Pak Sofian.
Hening, tak ada sepatah kata pun yang terlontar dari mulut Yona. Ya, Yona ada di dalam kamar dan Pak Sofian tahu akan hal itu.
"Aku tahu kamu di dalam Yona, bereskan tempat ini kalau tak ingin aku murka" teriak Pak Sofian kembali.
Ceklek.
Pintu kamar terbuka, Yona keluar dengan santai nya dan tanpa bersalah.
"Aku tak mau, jika ingin marah silahkan marah. Kau tahu bukan kalau Rumah ini adalah Rumah milikku dari mendiang Ayah mu" ucap Yona dengan sombong.
"Baiklah kalau begitu, hari ini juga aku akan pergi bersama dengan Wulan. Aku juga akan mengurus berkas cerai kita, kita lihat siapa yang akan menyesal nanti nya" ucap Pak Sofian penuh yakin dan tegas.
Pak Sofian melangkah dengan pasti ke dalam kamar, dia membereskan semua barang yang dia punya. Tak lupa juga dengan barang dan pakaian milik Wulan.
Yona? Dia hanya diam saja dan melihat pekerjaan Suami nya. Entah apa yang dia pikirkan hingga dia terlihat sangat bengong.
"Aku pergi dulu, ingat jangan pernah cari kami" ucap Pak Sofian saat berhadapan dengan Yona.
"Ck, siapa juga yang membutuhkan kalian, terutama kamu" balas Yona sombong.
Pak Sofian hanya acuh, dia membawa koper milik nya dan Wulan, tujuan nya adalah Rumah Bisma. Pak Sofian akan tinggal disana sebelum ke Jawa bersama Wulan.
__ADS_1
"Maafkan Bapak Bisma, Wulan. Bapak tidak bisa mempertahankan lagi pernikahan ini, Bapak lelah dan tak sanggup lagi" gumam Pak Sofian.
Motor melaju dengan kencang, tak perduli cuaca sudah mendung dan sebentar lagi turun hujan. Pak Sofian terus saja memacu kendaraannya ke arah Rumah Putra dan menantu nya.
**
Yona sendiri, saat ini sedang membereskan semua kekacauan yang di buat oleh nya.
Hingga tak lama kemudian dering ponsel milik nya berbunyi, dan disana tertera nama Tito.
"Ya ada apa, Tito?" tanya Yona langsung.
"........"
"Baiklah, nanti aku akan ke Rumah mu" balas Yona.
Tut.
Panggilan terputus, Yona kembali melanjutkan aktifitas nya dengan kesal. Karena semenjak ada Aulia, Yona sudah tidak pernah lagi membersihkan Rumah maupun masak, semua nya di handle oleh Aulia.
Hampir menjelang malam, Yona baru menyelesaikan pekerjaannya dan merebahkan tubuh nya di atas sofa ruang tamu.
"Hah lelah sekali" gumam Yona sambil menyeka keringat nya di dahi.
"Besok lagi aku ogah bersih-bersih begini" gerutu Yona kembali.
Yona lalu bangkit, dia melangkah menuju ke arah kamar nya untuk mandi dan bersiap. Dia akan menghampiri Tito ke Rumah nya karena ada hal penting yang ingin dia bicarakan bersama Yona.
Yona hanya menurut saja karena hanya Tito lah satu-satu nya harapan yang dia miliki sekarang, Yona dan Tito memang berencana akan menikah setelah kepulangan Pak Sofian. Dan sekarang semua nya sudah berjalan mulus karena Pak Sofian sendiri yang akan menceraikan Yona.
**
__ADS_1
Malam hari nya di kediaman Bisma, mereka berkumpul setelah selesai makan malam. Pak Sofian juga ada disana dan sudah menceritakan semua nya pada kedua Anak nya dan Aulia.
"Wulan, besok kita langsung ke Jawa saja. Bapak sudah menyuruh Bude mu untuk mendaftarkan mu di sekolah yang ada disana" jelas Pak Sofian.
"Baik Pak, Wulan tak mau jauh dari Bapak" balas nya dengan lirih.
Bisma hanya menghela nafas kasar, dia tidak menyangka bahwa nasib kedua orangtua nya sangat rumit.
"Nak, Bapak rasa lambat laun Ibumu akan kembali mendatangi kalian berdua. Sebisa mungkin hiraukan saja dia, karena itu demi kebaikan kalian saja" ucap Pak Sofian.
"Iya Pak, Bisma hanya bisa berdo'a semoga Ibu dapat berubah dan tidak seperti sekarang" balas Bisma lirih.
Aulia hanya bisa tersenyum, dia mengusap lembut lengan Bisma yang terlihat sangat banyak beban pikirannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.