
Siang hari nya, cuaca mendadak bagus dan bahkan matahari menunjukan keindahannya. Aulia pun merengek ingin jalan-jalan dan menikmati makanan kaki lima di Taman Kota.
Setelah bersiap, Bisma melajukan mobil nya ke arah Taman Kota yang tak jauh dari sana. Senyum manis terbit dari wajah cantik Aulia yang mana membuat Bisma gemas melihat nya.
"Mas, kok aku serasa ingin ngiler gini ya? Apa karena gak nahan pengen cepet-cepet membeli makanan di sekitaran sana" celetuk Aulia yang mana membuat Bisma tertawa kecil.
"Mungkin saja sayang, nanti belilah semua yang kamu mau" balas Bisma lembut.
Aulia mengangguk dengan semangat, bahkan dia sudah membayangkan enak nya makan bakso di pinggir jalan sambil menikmati orang lalulalang.
"Ini yang aku suka dari kamu, Aul. Kamu ini orang kaya bahkan konglomerat, namun sifat sederhana dan tak sombong itu melekat di diri kamu. Ini juga alasan aku mengapa tak berkata jujur pada Ibu siapa kamu sebenarnya, aku takut dia memanfaatkan kamu" batin Bisma dengan helaan nafas kasar.
Mobil pun berhenti tepat di pinggir penjual Bakso yang lumayan ramai. Aulia langsung saja berbinar dan dengan cepat keluar dari mobil.
"Mas, ayo cepat dan pesan ya. Aku ingin 1 porsi tapi bakso nya 2" ucap Aulia dengan tersenyum.
Bisma hanya tersenyum, dia keluar dari mobil dan langsung memesan bakso tersebut sesuai pesanan sang Istri dan dia juga pesan untuk nya.
"Kayak yang enak ya, Mas. Apalagi abis hujan begini" ucap Aulia.
"Kau benar sayang, nanti setelah ini kita lanjut jalan kaki di sekitaran Taman" balas Bisma.
Aulia mengangguk, dia lalu menatap kesekeliling kedai itu. Dia tidak gengsi ataupun malu, karena urusan perut mau dimana aja yang penting kenyang dan bersih saja tempat nya.
Tak berselang lama pesanan mereka sampai, mata Aulia langsung berbinar dan dengan gerakan cepat mengambil mangkuk bakso.
Keduanya menikmati bakso tersebut dengan damai dan tanpa bicara, bahkan Bisma di buat tersenyum karena melihat Aulia yang sangat lahap memakan bakso.
*
Setelah selesai, Aulia mengajak Bisma duduk di kursi Taman yang di bawah pohon rindang. Tak lupa juga Aulia membeli beberapa aneka makanan di sekitaran sana dan alhasil meja kecil di hadapan mereka berdua penuh dengan berbagai makanan dan minuman.
"Sayang" panggil Bisma.
"Kenapa Mas?" tanya Aulia seraya menatap wajah sang Suami.
"Tadi pagi Jonas memberitahu bahwa Kania menanyakan kita padanya, dia juga melihat gelagat aneh pada Kania" jelas Bisma.
"Terus bagaimana dengan Jonas nya?" tanya Aulia kembali dengan tenang sambil menikmati makanan.
"Dia langsung membawa Kania pergi ke Negara nya dan akan menikah secepat nya. Bahkan Jonas juga sudah memblaklist nama Kania dari semua dunia intertaiment" jelas Bisma kembali.
Aulia menghentikan kegiatannya, dia menatap Bisma dengan pandangan yang sulit di artikan.
"Dia takut Kania akan kabur dan mengganggu kita" ucap Bisma.
"Aku kira Tuan Jonas bukan Pria yang sejati, tapi dia bahkan rela melakukan apapun demi cinta nya agar tak hilang" celetuk Aulia.
"Aku pun berpikiran begitu, sayang. Tetapi syukurlah karena kita tidak perlu menghadapi dia, kita hanya fokus pada Ibu saja yang pasti nya akan merecokan kita lagi" ucap Bisma lesu.
__ADS_1
Aulia memegang tangan Bisma lembut, dia memberikan senyuman terbaik nya agar sang Suami lebih plong.
"Tidak apa, Mas. Nama nya juga orangtua, aku juga tidak akan diam bila Ibu terus membuat ulah. Bukannya aku tak hormat, tetapi jika kelakuan Ibu melebihi batas, aku juga pasti akan menegur nya dengan keras" jelas Aulia tegas.
"Terimakasih sayang, kamu adalah wanita yang pengertian. Mas tidak marah, malah Mas bersyukur karena kamu bukanlah wanita lemah, tetapi kamu adalah wanita yang kuat" ucap Bisma lembut.
Aulia tersenyum kecil, dia memalingkan wajah nya karena malu dengan pujian dari Suami nya. Meski sudah menikah beberapa Tahun, tapi dia akan tetap malu jika Bisma sudah merayu atau memuji nya.
"Haha kamu kenapa menggemaskan sekali sayang" kekeh Bisma saat melihat wajah memerah Aulia.
"Ihhh Mas Bisma" rengek Aulia dengan muka kesal.
Tawa Bisma langsung pecah, dia sangat bahagia setiap kali melihat wajah malu Aulia yang menggemaskan.
"Maaf sayang, kamu selalu saja membuat Mas bahagia. Tetap seperti ini ya, jangan pernah meninggalkan Mas walaupun badai yang menerpa kita sangat kencang" ucap Bisma menatap mata Aulia lembut.
"Tentu saja, kita akan melawannya bersama-sama hingga kita sampai di permukaan yang indah" balas Aulia.
Bisma mengangguk, dia kemudian memeluk Aulia dengan hangat.
*
Hampir Sore mereka jalan-jalan dan menikmati udara Taman, hingga Bisma memutuskan untuk membawa Aulia pulang karena cuaca juga sudah mulai mendung kembali.
"Sayang, weekend besok kamu ikut Mas ke Bali ya" ajak Bisma.
"Mau apa Mas? Apa ada kerjaan disana?" tanya Aulia menatap Bisma yang fokus pada jalanan.
"Tentu saja aku mau, aku ingin menikmati indah nya pantai disana" ucap Aulia dengan berbinar.
Bisma tersenyum, dia mengusap lembut kepala Aulia.
Hingga tak berselang lama mobil mereka pun tiba di halaman Rumah nya. Namun mereka menghela nafas kecil saat melihat Yona ada di teras depan dengan wajah yang sudah masam.
"Kalian habis dari mana sih, kenapa juga Ibu tidak bisa masuk ke dalam Rumah" teriak Yona dengan kesal.
Bisma memeluk pundak Aulia dengan sayang, dia lalu melangkah dengan wajah yang datar.
"Memang begitu aturan disini, aku melarang Bibi membuka Pintu pada tamu jika kami tak ada" ucap Bisma dengan wajah datar.
"Ini pasti ulah mu kan Aulia, kamu menyuruh Bisma agar melarang Ibu masuk ke dalam Rumah anak Ibu sendiri" bentak Yona pada Aulia.
Aulia terhenyak, dia kaget dengan bentakan sang Mertua yang tepat di wajah nya.
"Tolong jangan membentak Istri saya, karena saya tidak suka itu" ucap Bisma dengan penuh tekanan.
"Sudahlah Mas" bisik Aulia lirih.
"Ayo Bu masuk" ajak Aulia dengan wajah ramah nya.
__ADS_1
"Tak sudi aku" tolak Yona dengan nada lantang.
Bisma mengepalkan tangannya, dia lalu menatap sang Ibu dengan tatapan tajam.
"Kalau begitu silahkan anda pergi dari sini" ucap Bisma.
"Kenapa kamu malah mengusir Ibu, harus nya kamu mengusir dia. Dia itu Istri yang tak berguna, sudah miskin, mandu* pula" sinis Yona dengan tatapan mengejek.
Deg.
Dada Aulia serasa di remas, dia merasakan sesak yang amat ketika hinaan itu terlontar kembali dari mulut sang Ibu mertua.
"Saya tidak peduli, karena Aulia adalah Istri saya dan wanita yang amat saya cintai" jelas Bisma datar.
"Dan juga, ini Rumah atas nama Aulia dan bukan aku. Jika tidak suka, silahkan pergi dan jangan kembali lagi" telak Bisma dengan lantang.
Bisma lalu memanggil Bibi pelayan, setelah pintu di buka barulah Bisma membawa Aulia masuk tanpa menghiraukan sang Ibu, Yona.
Dan dengan tidak tau malu, Yona melenggang masuk seperti seorang Nyonya saja. Bibi memandangnya dengan gelengan kepala dan helaan nafas kasar.
"Apa benar itu Ibu nya Tuan Bisma, kok aku ragu ya karena kelakuannya sangat berbeda" gumam Bibi dengan lirih.
"Bi, jangan masak apapun ya. Karena kami sudah kenyang" ucap Bisma sebelum masuk ke kamar.
"Baik Tuan" balas Bibi.
"Bismaaaa, bagaimana dengan Ibu" teriak Yona di lantai bawah.
"Pulang saja" jawab Bisma dengan penuh tekanan dan tatapan tajam.
"Awas ya kamu Bisma, Aulia. Kalian durhaka sama Ibu, lihat saja kalian akan menyesal" teriak Yona kembali dengan kesal.
Yona kemudian keluar dari Rumah, dan dengan segera Bibi menutup pintu serta mengunci nya sesuai arahan dari Bisma.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.