
"Kamu tak bisa menjawabkan? Apa kamu kaget aku tahu semua kelakuanmu. Aku tahu semua nya Yona, aku tahu kamu selingkuh dengan Tito, aku juga tahu kamu menghamburkan uang dari ku demi kesenangan mu saja" ucap Pak Sofian dengan pelan, dia takut Wulan mendengar nya
Deg.
Deg.
"Apa maksud mu, Mas?" tanya Yona dengan terbata.
Pak sofian diam, dia berjalan ke samping jendela kamar yang menghadap ke samping Rumah nya.
"Aku tahu bahwa Wulan bukan Putri kandungku, tetapi dia Putri kandung Tito. Selama itu kau selingkuh dengan nya? Selama itu juga kau membohongiku, salahku apa Yona? Aku bahkan rela berangkat ke Belanda demi menghidupi kalian" lirih Pak Sofian.
"Apa kamu kurang puas dengan pelayanan ku? Jika memang kau bisa bicara dan tak perlu selingkuh hingga menghadirkan anak. Kamu tak ingat bagaimana kita berjuang dulu?" tanya Pak Sofian dengan sorot mata sendu nan sayu.
Yona diam, dia tak menunjukan raut menyesal apapun atas apa yang di lontarkan oleh sang Suami.
"Kau mau jawabannya bukan? Karena aku mencintai Tito, ya aku sangat mencintai Tito sejak dulu" jawab Yona dengan lantang dan santai.
Deg.
Jantung Pak Sofian terasa berhenti berdetak, dia merasakan sesak di dada nya karena ucapan sang Istri.
Setelah berbicara hal itu, Yona beranjak dari sana dengan wajah kesal. Namun langkah nya terhenti saat melihat Wulan yang ada di sana, dia cukup kaget karena Wulan ada di depan pintu dengan berderai air mata.
Yona mengabaikannya, dia terus saja melangkah pergi dari Rumah.
Sedangkan Wulan? Dia melangkah mendekati sang Bapak yang sedang terpaku dengan wajah kecewa nya.
__ADS_1
"Pak, ayo kita pergi dari sini. Aku tak mau bersama dengan Ibu yang jahat, tak apa jika aku bukan anak Bapak. Aku lebih baik bersama Bapak dari pada bersama Ibu dan Bapak kandung ku" lirih Wulan di pelukan Pak Sofian.
"Besok kita pergi dari sini, sekarang kita istirahat saja dulu ya, Nak" ucap Pak Sofian lembut, dia sebisa mungkin tetap tegar di hadapan sang Putri.
***
Ke esokan pagi nya, Wulan dan Pak Sofian sudah berada di depan Rumah Bisma yang baru. Mereka sengaja datang lebih awal karena takut Yona mengikuti mereka, namun nyatanya dia tak pulang semalaman.
"Loh, Bapak dan Wulan kok udah disini saja" ucap Aulia yang baru saja tiba dengan Bisma dan orangtua nya.
"Iya Mbak, kita sengaja datang pagi-pagi biar kalian gak nunggu" balas Wulan tersenyum.
Aulia mengusap lembut kepala Wulan, meski dia tersenyum namun Aulia tahu bahwa Wulan habis menangis, begitupun dengan Bapak mertua nya.
"Ayo kita masuk, biarkan barang-barang nya aku yang bawa" ucap Bisma pada semua nya
"Siap kanjeng ratu" ucap Ayah Prans.
Mama Loli hanya terkekeh, lalu mereka masuk dan membiarkan para Pria membawa barang-barang yang ada di mobil.
Wulan langsung menempel pada Aulia, dia bahkan ikut menata makanan dan membuat minuman untuk mereka semua.
"Kamu kenapa gak sekolah aja, Lan?" tanya Aulia lembut.
"Aku izin Mbak, aku juga akan pergi ke Rumah baru Bapak" jawab Wulan apa adanya.
Aulia hanya mengangguk, dia juga tahu perihal Wulan dan Bapak mertua nya yang akan pindah. Semalam Bapak sudah bicara dengan Bisma, dan Bisma hanya memasrahkan semua keputusan pada Bapak saja.
__ADS_1
"Kamu yang rajin sekolah, jangan malas ya" ucap Mama Loli.
"Tentu saja Tante, aku akan sukses dan membuat kalian bangga" balas Wulan tersenyum yakin.
"Aminnn" ucap Mama Loli dan Aulia bersamaan.
Kemudian mereka ikut membantu membersihkan Rumah tersebut. Rumah dengan lantai 2 dan bergaya elegant, tidak terlalu besar dan juga tidak kecil. Halaman yang cukup luas dengan taman mini di samping nya.
Hampir 1 jam mereka berbenah disana dan akhir nya selesai juga, hanya tinggal menata saja dan itu bagian Wulan serta Aulia nanti nya.
"Ayo makan dulu" ajak Mama Loli.
"Ayo, Mas sudah lapar" balas Ayah Prans.
Aulia dan yang lainnya hanya tersenyum dengan beranjak ke ruang makan, disana sudah tersaji berbagai makanan yang sangat menggugah selera.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.