Pergi Untuk Bahagia!

Pergi Untuk Bahagia!
Bab 24


__ADS_3

Wulan menanti Pak Sofian di Toko, dia yang langsung menata semua nya dengan di bantu Bude dan Suaminya.


"Bude, kapan Bapak pulang nya ya?" tanya Wulan lirih.


"Wulan takut kalau Ibu akan menyakiti Bapak" lirih Wulan kembali dengan membuang nafas kasar.


"Tuh Bapak mu, Nak" ucap Suami Bude.


Wulan langsung mengdongkak dan menatap Pak Sofian yang sedang berbincang dengan sopir yang membawa semua peralatan dan belanjaan tadi, baru setelah itu Bapak melangkah masuk.


"Kenapa?" tanya Pak Sofian dengan tatapan bingung.


"Tuh anak gadis mu dari tadi mencemaskan mu" jelas Bude dengan terkekeh.


Wulan terdiam, dia langsung saja memeluk Pak Sofian dengan manja.


"Bapak tidak apa, Nak. Kamu tenang saja ya, semua nya akan aman-aman saja" ucap Pak Sofian lembut.


"Bener? Apa Ibu tidak memarahi Bapak?" tanya Wulan yang mana membuat Pak Sofian, Bude dan Suami nya tersenyum.


"Duduk dulu aja ayo" ajak Suami Bude.


Mereka lalu duduk di tikar yang di gelar disana, semua nya sudah beres untuk penempatan rak, hanya tinggal membereskan isi dagangan saja.


"Bagaimana dengan Yona?" tanya Bude.


"Dia masuk ke Rsj karena mengamuk dan membuat onar disana" jawab Pak Sofian dengan menghela nafas kasar, namun ekor mata nya melirik Wulan yang masih setia memeluk nya.


"Wulan sudah menebak, karena Abang pergi bersama dengan Mbak Aul dan juga skandal nya di ketahui oleh Istri selingkuhannya. Ibu pasti akan menggila karena semua kehendak nya tidak terpenuhi" lirih Wulan.

__ADS_1


Pak Sofian, Bude dan Suami nya saling tatap.


"Maksud kamu, Nak?" tanya Suami Bude.


"Wulan pernah mendengar pembicaraan Ibu di telpon dengan Om Tito, dia mengatakan bahwa Bang Bisma harus di genggamannya dan mematuhi semua ucapan diri nya. Ibu berniat menikahkan Bang Bisma dengan Putri Om Tito agar mereka bisa leluasa bertemu dengan dalih besan" jelas Wulan melepaskan pelukan dari Pak Sofian.


"Ya Tuhan, apa mungkin karena semua tidak berjalan sesuai rencana dia jadi dia gil*" celetuk Bude.


Plak.


"Kalau bicara" dengus Suami Bude sambil menggeplak tangan sang Istri.


Eh.


Bude langsung cengengesan pada Adik dan Keponakannya, sedangkan Wulan hanya tertawa kecil saja.


"Mungkin saja begitu sih Bude" balas Wulan.


*


Setelah puas bercerita, Wulan dan Pak Sofian langsung saja membereskan dagangan mereka. Sedangkan Bude memasak di dapur dan Suami nya sedang mengangkat belanjaan bersama dengan pekerja tetangga Rumah Pak Sofian.


"Pak, apa Abang dan Mbak Aul tau kalau Ibu sakit?" tanya Wulan di sela kegiatannya.


"Tahu, tapi mereka tidak apa kok. Mbak Aul yang cukup kaget dan ingin tahu kondisi Ibu, namun Bapak bilang saja kalau Ibu tak apa" jawab Pak Sofian.


"Hmm, syukurlah. Aku takut mereka akan kembali dan nanti nya Ibu akan berlaku kejam lagi" ucap Wulan lega.


"Tenang saja, Bapak sudah menyuruh mereka jangan pulang" balas Pak Sofian.

__ADS_1


Mereka terus saja berbincang dengan hangat sambil membereskan pekerjaannya. Pekerjaan tinggal sedikit lagi, namun Bude sudah memanggil untuk makan terlebih dulu.


"Bude tau aja kalau aku udah laper banget" ceplos Wulan dengan terkekeh.


"Yasudah ayo cepat makan, nanti habis makan lanjut lagi kerja nya" ucap Bude.


Kemudian mereka makan dengan lahap, tak lupa juga Pak Sofian mengajak sopir yang mengirim barang nya untuk makan malam bersama.


**


Sedangkan di Rsj, Yona terus saja berteriak histeris. Dia terus memanggil nama Bisma dan Tito, bahkan Dokter yang akan memberikan obat penenang pun kesusahan.


"Bagaimana kalau kita ikat saja, Dok?" usul salah satu perawat yang sudah kelelahan.


"Yasudah panggil perawat Pria untuk membantu kita" jawab Dokter tersebut.


Lalu salah satu dari mereka memanggil rekannya.


Setelah Yona tenang, mereka semua meninggalkannya sendirian.


"Bisma, Tito" lirih nya dengan terkekeh dan mulai memejamkan mata nya.


Setelah itu hanya terdengar dengkuran halus dari mulut Yona.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2