Pernikahan Dengan Tuan Kenzo

Pernikahan Dengan Tuan Kenzo
Kejutan tak terduga


__ADS_3

Alena masih bingung dengan suaminya yang tiba tiba saja menjemputnya padahal ia tak memberitahu alamat tokonya.


"Tuan kenapa menjemput ku." tanya nya.


Namun Kenzo malah menghentikan Bram.


"Bram berhenti." dengan begitu Bram langsung mendadak berhenti membuat jidat Alena menabrak kursi depan.


"Auh sakit."


"Cepet turun."


"Apa maksudmu tuan?"


"Katanya kau ingin berhenti."


"Siapa yang bilang berhenti tuan, aku bilang kenapa kau menjemput ku."


"Itu sama aja kau ingin berhenti disini." dengan terpaksa Alena pun turun di tengah jalan dengan perjalanan yang masih jauh.


"Jalan Bram." mobil pun pergi meninggalkan Alena yang masih berdiam diri di pinggir jalan.


Aw jidatku sakit, kenapa dia memaksaku turun disini sih padahal aku ga bilang mau turun. Kesalnya.


Alena mencoba menghubungi tukang ojek langganan namun nomornya tidak aktif, ia terpaksa harus berjalan ke depan untuk menunggu bus di halte.


"Ah rasanya aku lelah sekali." Sudah setengah jam Alena menunggu bus, tapi masih belum ada. Ia terpaksa duduk kembali dengan perut yang lapar dan juga haus karena ia hanya membawa uang pas pas an.


"Karin? itu kan Karin, ngapain dia jalan sama kakek kakek." Alena melihat adik tirinya masuk ke dalam minimarket dengan mesra bersama pria yang sudah tua.


"Apa itu pacarnya Karin? kenapa pacar nya sudah tua. Ah biarkan saja lah sekarang bukan urusanku lagi lagian dia udah mengusirku dari rumah."


Tak lama kemudian bus pun datang.


***


"Bram kenapa alena belum pulang, sudah dua jam ia masih belum sampai."


"Mungkin dia sedang menunggu bus tuan."


"Ah rupanya ia ingin ku hukum, beraninya pulang lambat."


"Kenapa tadi tuan menyuruhnya turun kalau tuan sedang butuh dia."


"Aku tak suka di bantah Bram, dia harus ku beri pelajaran."


Bram hanya bisa memahami tuannya karena memang sikap tuannya seperti ini membuat Bram mengelus dadanya dengan sabar.


Setelah sampai Alena langsung masuk ke Mansion, ia tak melihat Kenzo sedang duduk diruang tamu jadi ia berjalan menuju kamarnya tanpa menghiraukan Kenzo yang sebentar lagi akan marah.


"Ya Alena." teriaknya memanggil Alena.


"Tu tuan, sejak kapan disini."


"Kau pura pura tak melihatku hah."

__ADS_1


"Aku benar benar gak tau tuan, karena biasanya tuan suka di ruang kerja."


"Alasan saja kamu, kenapa baru pulang hah!"


"Maaf tuan, aku menunggu bis lama."


"Bohong kamu."


"Aku serius tuan." Alena juga bingung ia harus menjelaskan nya dari mana karena ia tahu Kenzo pasti tak mengerti.


"Sekarang juga kau harus memijit pundak ku sebagai hukuman kau telat pulang."


Astaga apa lagi ini, baru saja aku sampai dia sudah menyuruhku, Padahal aku mau mandi. Badan ku gerah.


"Kenapa diam? cepat."


"Ah iya tuan." Alena langsung memijat pundak Kenzo dengan pelan dan lembut, sekarang Kenzo tak pernah protes lagi soal pijatannya karena sekarang Kenzo sangat menikmatinya.


"Pijatanmu sekarang lumayan juga, apa kamu kursus di pemijatan."


"Tidak tuan, sekarang tangan ku sudah terbiasa."


"Bagus ini sangat nikmat." sudah setengah jam Alena memijatnya membuat tangannya pegal dan kesemutan.


"Alena yang keras sedikit."


"Tangan ku pegal tuan, bisa kah aku istirahat dulu."


"Mana ada hukuman istirahat dulu."


"Kau boleh selesai tapi setelah ini ada hukuman baru lagi."


Dasar pria gila, seenaknya memperlakukanku seperti ini. Rasanya aku ingin menangis tuhan kenapa aku bisa menikah dengan pria seperti dia.


Kalau begitu aku lebih memilih mandi saja, tanganku sudah tidak kuat begitu juga dengan badanku yang sudah tidak enak dengan keringat.


"Tuan lebih baik aku mandi saja, nanti aku siap melakukan hukuman ke dua."


"Ya silahkan."


Ah akhirnya aku bebas juga walaupun nanti aku harus menerima hukuman lagi.


Kenzo sangat puas sudah mengerjai Alena ia ingin tertawa setelah kepergian Alena.


"Itu akibatnya kau pulang telat Alena, jadi kau harus menerima konsekuensinya."


"Biarkan saja aku melakukan ini padanya lagian dia banyak hutang budi padaku."


Kenzo pun langsung masuk ke kamarnya ia ingin mengerjai Alena lagi.


Setelah mereka menikah, ia tidur satu kamar namun tidak tidur dalam tempat tidur yang sama. Selama ini Alena selalu tidur dibawah menggunakan bad cover untuk alasnya.


Ceklek pintu kamar mandi di buka menampakkan Alena yang sudah selesai dengan kegiatannya.


Alena tak menyadari ada Kenzo di kamarnya, setahu ia Kenzo masih diruang tamu jadi ia memakai bajunya dengan membelakangi Kenzo membuat adik kecil Kenzo ikut bangun.

__ADS_1


Sialan wanita ini malah menggoda ku.


Tubuh putih dan mulus juga bentuk badan yang seperti gitar spanyol membuat Kenzo menginginkannya karena ia juga pria normal yang punya hasrat.


Alena masih tak menyadari keberadaannya, setelah ia selesai ingin merebahkan tubuhnya namun ia terkejut dengan keberadaan Kenzo yang menatapnya.


"Aaa tidakkkk." Teriaknya.


"Tuan sejak kapan anda disini."


"Sedari tadi." ucapnya singkat.


Astaga apa dia melihatku kenapa aku sangat ceroboh sekali, ya tuhan aku benar-benar malu. Rasanya aku ingin menghilang.


Alena langsung menutupi dadanya walaupun sudah tertutup baju, ia membayangkan Kenzo yang melihatnya.


"Tuan aku permisi dulu mau ke dapur." Alena langsung berlari tanpa mempedulikan Kenzo, ia benar benar malu sekali.


Namun di sisi lain Kenzo tersenyum senang, otaknya masih menyimpan memori Alena yang sedang berganti baju.


Ah kenapa dengan otakku, bisa bisanya aku tergoda pada dia.


Ia pun mengacak acak rambutnya dengan frustasi kemudian ia memasuki kamar mandi untuk menuntaskan hasratnya disana.


"Alena, ini semua gara gara kau." Gerutunya dalam guyuran air shower.


"Nona Alena ngapain ngelamun disini, saya melihat nona seperti kesal."


"Iya bi saya sedang kesal."


"Memang nya kesal kenapa non?" Alena pun menggelengkan kepalanya .


"Apa makanan nya sudah siap bi?"


"Sudah non tinggal makan, non Alena tinggal panggil tuan muda."


"Em bibi aja ya yang panggil, kaki ku lagi sakit nih."


"Baik non."


Bagaimana ini, aku malu kalau harus makan bareng sama dia. Ini gara gara kecerobohanku, apa aku harus membuat alasan saja supaya ga makan bareng dia.


Tak lama kemudian Kenzo menuruni tangga, ia melihat Alena yang sedang mondar mandir namun Kenzo tersenyum nakal ia tahu apa yang dipikirkan Alena.


"Silahkan duduk tuan." ujar Alena dengan kepala menunduk.


Astaga kenapa dia menatapku seperti itu.


"Tuan aku mau sarapan di kamar aja, kepala ku agak pusing."


"Alasan saja, temani aku disini. Enak saja sarapan di tempat tidur ku."


"Ah iya tuan aku minta maaf." ucap Alena dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Kenzo terus saja memandangi Alena yang sedang sarapan dengan menunduk membuat Kenzo membayangkan kejadian tadi, ia tersenyum pada Alena membuat Alena menjadi geli.

__ADS_1


Hai readers beri like dan masukannya ya. SELAMAT MEMBACA


__ADS_2