
Disepanjang jalan Alena diam tanpa bicara, Kenzo pun bingung harus memulainya dari mana untuk mengembalikan mood nya.
Setelah sampai di rumah orang tuanya, Alena langsung masuk tanpa bicara membuat Ainda bingung dengan menantunya yang tidak menyapa.
"Hei menantu gak tau diri, main nyelonong aja ."
Alena tak peduli dengan ucapan ibu mertuanya itu, ia melanjutkan langkahnya untuk menuju kamarnya. Begitu juga Kenzo ia tak peduli pada ibunya.
Alena pun merebahkan badanya di tempat tidur, ia masih kecewa dengan perlakuan Karin padanya, ia tak menyangka keluarganya sangat membencinya.
Kenzo pun merebahkan tubuhnya lalu memeluk Alena dengan badan menyamping.
"Sayang kamu kenapa?"
Alena tak menjawabnya, ia masih berkalut dengan pikirannya.
"Sayang kalau kamu khawatir pada Karin, aku akan mengantarmu ke sana untuk menjenguknya." Kenzo pikir Alena ingin bertemu dengan keluarga nya lagi jadi ia menawarkan nya.
"Tidak mas, aku tak ingin menemui mereka lagi, mereka jahat pada ku mas hiks hiks sekalipun mereka mati aku tak ingin melihatnya." Kenzo tak percaya dengan jawaban Alena yang tak sesuai dengan harapannya.
"Tapi kenapa begitu sayang, mas izinin kamu untuk bertemu mereka."
"Aku gak mau mas, aku benar benar kecewa pada mereka. Aku tak ingin menemuinya lagi."
"Hem baiklah, ya sudah kalau gitu ayok tidur cup." Alena yang tadinya selalu memikirkan keluarganya, selalu mengkhawatirkan nya dan juga wanita yang bersifat baik namun setelah kecewa ia benar benar tak ingin menemui keluarganya lagi, padahal dulu ia sering di kecewakan tapi kali ini ia sangat lah kecewa dengan perlakuan Karin yang ingin membunuhnya lewat racun. Begitulah sikap manusia bisa berubah ubah, jika sudah di kecewakan maka ia tak ingin berharap lagi.
***
Pagi hari ini Alena sudah menyiapkan sarapannya di meja makan, walaupun kemarin ia sempat tak ingin memasak tapi pagi ini ia melakukannya lagi.
Dari kejauhan Ainda melihat Alena yang sedang menata makanannya ia tersenyum senang karena bisa memakan udang buatan Alena lagi, hanya saja ia gengsi tak ingin mengakui bahwa masakan Alena paling enak.
Lalu setelah selesai Alena pun kembali ke atas untuk menemui suaminya.
Alena tersenyum melihat suaminya yang baru selesai mandi.
"Mas ini baju kerjanya."
"Terimakasih sayang, em apa pagi ini kamu yang masak?"
"Iya mas, semoga saja masakannya enak, aku sudah mencicipinya jadi mas tak perlu khawatir dengan rasanya."
"Baiklah nanti aku akan menghabiskannya." Kenzo melihat wajah Alena yang agak pucat, ia pun mendekat.
"Mas apa sih, ini udah siang."
"Cup, kenapa wajah mu pucat sayang,"
__ADS_1
"Aku juga gak tahu mas, kepala ku agak pusing pagi ini tapi aku sudah mengoleskan minyak angin dan sekarang agak mendingan."
"Aku jadi khawatir, kalau begitu ayok kita berobat."
"Tidak mas, aku tidak apa apa, ya sudah ayok kita sarapan mas."
Alena dan Kenzo pun menuju kebawah untuk sarapan, disana sudah ada mertuanya dan adik iparnya yang sudah sarapan.
"Kakak ipar masakan mu sangat enak, ibu saja menambah lagi sudah tiga kali."
"Wah benar kah." Ujar Alena dengan senangnya.
"Jangan kepedean kamu, saya terpaksa makan karena memang kamu yang masak."
"Mama ini alasan saja," Ujar tuan Albert.
Ainda pun menyelesaikan makanan nya lalu ia berdiri dan akan kembali ke kamarnya, ia benar benar malu dengan suaminya yang terus saja menggoda nya, padahal Ainda masih ingin nambah lagi tapi ia menahannya dari pada malu.
"Mama kenapa pergi."
"Biarkan saja mungkin dia malu." Ujar tuan Albert.
Kenzo pun sangat menikmati masakan sang istri, ia juga meminta Alena untuk membekalinya. Biasanya Kenzo selalu makan di restoran tapi kali ini ia ingin masakan sang istri.
Alena yang baru saja makan dua sendok rasanya seperti di aduk aduk dalam perutnya, ia ingin segera memuntahkan nya lalu ia berlari ke wastafel dan memuntahkan isi perutnya disana membuat Kenzo khawatir ia pun mengikuti Alena.
"Aku masuk angin mas."
"Kalau begitu biar aku panggilkan dokter kesini."
"Jangan mas, aku baik baik saja kok bentar lagi juga sembuh."
"Ya sudah mas mau berangkat ke kantor ya, kamu hati hati dirumah kalau ada apa apa kamu bisa menelpon ku."
"Iya mas, hati hati di jalan ya," Setelah pamit dan memberi kecupan di keningnya Kenzo pun langsung pergi meninggalkan Alena yang masih berdiri setia melihatnya sampai menuju mobil.
"Dah sayang jaga diri baik baik dirumah ya,"
"Iya mas."
Setelah kepergian Kenzo, Alena pun langsung membereskan bekas makanan nya, akan tetapi ia merasakan mual lagi kemudian ia mengeluarkan isi perutnya kembali.
Ada apa dengan ku, kenapa aku mual sekali. Apa karena masuk angin tapi kenapa tak enak rasanya.
"Nona biar saja aja yang cuci piring, nona istirahat saja."
"Kalau begitu terima kasih ya bi." Ainda melihat Alena yang sudah dua kali muntah, ia berpikir bahwa Alena hamil.
__ADS_1
Apa jangan jangan Alena hamil, apa aku akan memiliki cucu yang lucu, wah rasanya aku pasti senang sekali.
Entah ada angin dari mana, Ainda pun mengikuti Alena menuju kamarnya.
Disana alena kembali mengeluarkan isi perutnya, Ainda jadi tidak tega melihatnya, ia pun masuk ke dalam kamar Alena dan tiba tiba Ainda memijat tengkuknya.
"Ibu apa yang ibu lakukan." Alena kaget karena tiba tiba ibu mertuanya sudah ada di belakangnya.
"Sudahlah jangan gengsi, saya juga tahu kamu butuh pijitan kan."
"Aku gak apa apa kok bu."
"Sudah diam, sini biar ibu pijit." Alena merasa aneh dengan sikap ibu mertuanya yang tiba tiba peduli padanya.
Tapi Alena pun mengakui nya bahwa pijatan ibu mertuanya sangat enak dan membuat mualnya reda.
"Gimana? enak kan."
"Iya bu, terima kasih,"
"Kamu harus periksa ke dokter, sepertinya kamu sedang mengandung." Alena pun mengingat kembali kapan terakhir kali datang bulan.
Kenapa aku melupakan ini, benar kata ibu aku harus periksa ke dokter karena bulan sekarang aku telat datang bulan, semoga saja benar bahwa aku hamil.
"Kalau begitu ibu mau kebawah dulu membuatkan air jahe, kamu jangan terlalu kesenangan ya, saya peduli padamu itu karena cucu saya yang ada di kandungan mu." Ainda sudah yakin baha menantunya sedang hamil, bagaimana pun perlakuan Ainda pada Alena tapi Alena tetap bahagia karena ia seperti mendapatkan kasih sayang ibunya lagi walaupun bukan ibu kandungnya.
Ah aku jadi merindukan ibu, semoga ibu bahagia di alam sana.
Tiba tiba ponsel Alena berdering dan tertera nomor baru yang menelponnya.
Siapa ini, kenapa nomornya baru. Gak mungkin nomor suamiku kan.
Kemudian Alena pun menekan tombol hijau.
"Hallo ini siapa"
"Aku Aurora mantan kekasih suami mu, aku sedang bersama suami mu di kantor. Ingat ya Alena kau tak boleh merebut Kenzo dari ku."
"Apa maksudmu, dari mana kau tahu nomorku."
"Hahaha kau tak perlu tahu dari mana aku tahu nomor mu, aku hanya ingin mengingatkan mu. Pergilah dari kehidupan Kenzo jika kau tak ingin celaka. Kau tak akan bisa bahagia dengan Kenzo karena aku akan mendapatkan hatinya lagi, lihat saja kau akan menyerah."
Tangan Alena bergetar, ponselnya pun terjatuh ke atas tempat tidur.
"Kenapa selalu ada cobaan yang datang pada ku, tuhan tolong selamatkan aku dari wanita itu."
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa like & komentar nya teman.