
Karin sudah berusaha mencegah sang ibu namun Mirna tetap saja pada pendiriannya, ia tetap pergi menuju kediaman Kenzo dan Alena.
"Ma aku mohon jangan pergi kesana," Karin mulai mengeluarkan air matanya untuk meluluhkan sang ibu, namun Mirna tetap saja keras kepala.
"Pokonya ibu mau pergi sekarang kesana, kamu ngapain nangis kaya gitu bikin malu aja."
"Karin mohon bu," Namun Mirna tak mempedulikannya, ia meninggalkan Karin sendirian dengan kondisi yang lemah. Karin sangat menyayangi ibunya ia takut ibunya mengalami hal yang sama karena kecerobohannya.
Diperjalanan Mirna terus saja marah marah dan mengumpat Alena membuat sopir taxi terganggu.
"Bu kenapa dari tadi marah marah terus, saya jadi gak konsen mengendarai mobilnya."
"Diam kau, tahu apa kau tentang masalah ku." Sopir taxi pun tak banyak bicara lagi pada Mirna.
Setelah sampai di kediaman Kenzo ia sangat tertegun dengan kemewahan Mansionnya seperti di negri dongeng.
"Waw ternyata suami Alena sangat kaya raya, tapi kenapa Alena tak memberi uang untuk pengobatan Karin, dasar wanita pelit tak tau diri setelah numpang hidup dengan ku." Ujarnya.
"Permisi bu, ada apa ibu disini?" Tanya seorang penjaga.
"Saya mau ketemu Kenzo dan juga Alena, saya ibunya Alena."
"Maaf bu tuan Kenzo dan nona Alena tidak ada disini."
"Jangan bohong kamu, pokoknya saya mau bertemu dengan mereka sekarang juga."
"Tidak bisa, anda tidak bisa masuk sebelum mendapat izin dari tuan kami." Akan tetapi Mirna malah menerobos kedalam, begitupun penjaganya hingga mengejar Mirna. Tenaga Mirna sangat kuat dan susah untuk di lemahkan.
"Lepaskan tangan mu penjaga sialan, saya mau bertemu mereka."
Tangan Mirna terus saja di tarik oleh penjaga membuat ia berteriak dan melawan.
"Lepaskan tangan kalian semua, saya ini ibunya dan saya berhak masuk kedalam."
"Tidak bisa, kami tidak akan membiarkan anda masuk ke dalam tanpa izin dari tuan Kenzo."
"Cih sialan,"
Tak lama kemudian Kenzo datang ke mansionnya karena sebelumnya sudah di hubungi oleh penjaga bahwa di sedang ada keributan, Kenzo pun bergegas pulang karena ia penasaran dengan kedatangan seseorang yang membuat keributan di Mansion nya.
"Tuan sepertinya dia ibu tiri nona Alena."
"Ya, kau benar Bram. Sepertinya dia ingin mati disini." Ucapnya dengan sinis.
Kenzo pun turun dari mobil dengan gagahnya, semua penjaga dan pelayan tunduk padanya hanya Mirna yang berdiri dengan sombongnya.
__ADS_1
"Tuan ada yang mencari anda, katanya dia ibu dari nona Alena."
"Suruh dia masuk." Tegasnya.
Penjaga pun membawa Mirna menuju ke dalam.
"Apa saya bilang, saya ini ibunya dan saya berhak masuk ke sana."
Dengan sombongnya Mirna berjalan di belakang Kenzo.
Tanpa disuruh duduk oleh tuan rumah, Mirna malah lebih dulu duduk dengan kaki yang diangkat.
"Ada perlu apa anda kesini."
"Kau jangan pura pura tak tahu untuk apa aku datang kesini."
"Kau tahu kan anak ku Karin sedang dirawat di rumah sakit, dan dia butuh biaya untuk pengobatan." Sambungnya lagi.
"Rupanya anda mengemis pada saya, miris sekali." Ujar Kenzo.
Wajah Mirna menjadi merah padam setelah Kenzo mengatakan ia pengemis.
"Jaga mulut mu tuan muda, kau harus menghormati ku karena aku ibu dari istri mu."
Kenzo pun tersenyum sinis.
"Apa maksud mu hah, aku tidak takut dengan apa yang kamu katakan, cepat berikan uang untuk pengobatan anak ku karena itu semua salah kalian."
"Hahaha mudah sekali anda meminta uang, maaf saya tak akan memberi uang pada wanita tua yang sombong, lebih baik saya membuang uang dari pada harus memberinya padamu."
Brakkkk Mirna menggebrak meja dengan tangannya.
"Anda lancang sekali nyonya, apa anda tahu sedang berhadapan dengan siapa." Ucap Bram mengingatkan Mirna.
"Saya tahu, kau tak perlu memberitahu ku*" sialan."
Kenzo mengangkat tangannya pada Bram memberi kode untuk tidak ikut campur dengan urusan nya.
"Lebih baik anda pergi dari sini, sebelum saya mengurung anda di penjara bawah tanah."
Mirna tidak mengerti dengan ucapan Kenzo, ia melihat raut wajah Kenzo yang tadinya tampan sekarang terlihat menyeramkan membuat nyali Mirna seketika menghilang.
"Anda pilih pergi atau mati disini."
"A apa maksud mu?"
__ADS_1
"Saya tak suka mengulang ucapan saya lagi, Bram panggil penjaga untuk membawa wanita tua ini pergi dari sini."
"Baik tuan," Tak lama kemudian penjaga pun datang lalu menarik tangan Mirna dengan paksa membuat Mirna teriak dan marah pada Kenzo.
"Tuan kenapa anda membiarkan wanita tua itu pergi, kenapa anda tak membalas dendam padanya, dulu wanita itu sangat kejam pada nona Alena tuan."
"Biarkan saja Bram, kali ini aku ingin bermain main dengannya dulu, jika ia berani datang padaku lagi maka jangan harap ia selamat." Ujarnya.
***
Ainda sedang sibuk membuat sarapan untuk keluarga karena ia tidak mengizinkan Alena untuk memasak.
"Ma biar aku bantu."
"Tidak usah Alena, kamu duduk saja disana. Mama akan buatkan makanan enak untuk mu, em maksud mama untuk keluarga."
Alena tersenyum bahagia dengan sikap ibu mertuanya yang sudah berubah walaupun berubah hanya demi seorang cucu.
"Kenapa mama gak panggil pelayan aja untuk bantu mama masak."
"Mama ingin mengerjakannya sendiri, biar kamu bisa mencicipi masakan mama tanpa bantuan orang lain, mama juga gak kalah enak dengan masakan mu itu."
Tanpa sadar Ainda telah mengakui kehebatan Alena dalam memasak."
"Wah Alena jadi gak sabar ingin mencicipu masakan mama, karena sudah lama Alena tak pernah makan masakan seorang ibu. Tapi kali ini Alena senang bisa makan masakan mama."
"Memangnya ibu kamu kemana, kok tega gak pernah masak buat kamu."
"Ibu ku sudah meninggal ma sewaktu aku masih duduk dibangku sekolah."
Kenapa aku jadi kasian sama Alena, jadi selama ini Alena tak punya seorang ibu. Pasti dia sangat kesepian.
"Lalu dengan ayah mu bagaimana? apa dia masih ada."
"Masih ada koka, ayah menikah lagi dengan sahabat ibu, setelah beberapa hari ibu meninggal tak lama kemudian ayah juga menikahi ibu tiri."
"Kok bisa bisanya menikah lagi, padahal belum lama loh ibu mu."
"Ya begitulah sikap ayah, dulu ayah sangat menyayangiku tapi setelah menikah dengan ibu tiri, ayah tak pernah menyayangiku lagi seperti dulu sewaktu masih ada ibu." Tak terasa air mata Alena tiba tiba mengalir dengan sendirinya.
Ainda yang sedang memasak pun ia mematikan kompor dulu, lalu ia mendekati Alena dan duduk disampingnya.
"Kamu yang sabar ya, kamu tak perlu kesepian lagi karena sekarang ada Kenzo, ada mama dan juga papa mertuamu." Kemudian Ainda memberi pelukan pada Alena, membuat Alena nyaman didekapan ibu mertuanya.
Rasanya nyaman sekali, terima kasih ma sudah menerima ku walaupun belum sepenuhnya mama menyukai ku.
__ADS_1
Bersambung.
Jangan lupa beri ❤️ di setiap bab, Terima kasih untuk para Readers.