
Alena pun di antar ke toko bunga oleh Kenzo sekalian ia pergi ke kantornya karena memang satu arah menuju kantornya.
"Apa uang belanja mu masih ada." tanyanya.
"Masih kok mas, kan mas udah ngasih black card sama aku,"
"Ah iya aku lupa, pergunakan saja kartu itu untuk kebutuhan mu, kalau kurang bisa minta sama aku."
"Terimakasih ya mas."
"Sama sama," mereka sudah sampai di tempat kerja Alena, kemudian Alena mengulurkan tangannya pada Kenzo untuk pamit bekerja. Alena mengecup tangannya membuat Kenzo terkagum dengan sikap Alena.
"Hati hati di jalan mas."
"Iya, kamu juga ya sayang. Nanti aku akan menjemput mu lagi, tolong hubungi aku."
"Tapi aku belum punya nomor mu mas."
"Astaga iya aku lupa, bisa bisanya aku melupakan soal ini." Kemudian Kenzo memberikan kartu namanya di sana yang sudah ada nomor telpon nya.
"Terimakasih mas."
Bisa bisanya aku melupakan soal ini, selama ini aku tak pernah menghubunginya. Pria macam apa aku ini sampai nomor telpon istri pun aku tak punya.
Kemudian Kenzo mengendarai mobilnya kembali, mulai hari ini ia mengendarainya sendiri tanpa Bram. Sekarang Bram di suruh menjaga Karin yang berada di ruang bawah tanah.
"Alena,,," Panggil Sindy dari jauh.
"Ya Sindy."
"Bagaimana hari libur mu Alena?"
"Sangat menyenangkan."
"Oh iya, bukannya Karin bekerja di rumah mu ya."
"Iya tapi aku ga tahu dia kemana, karena aku tak bertemu dengannya sudah tiga hari, kata suami ku dia pergi dari rumah."
"Cie suami apa suami hehe,"
"Ih apa sih kamu ini."
Mereka pun masuk kedalam, lalu menyiapkan bunga yang akan di rangkai. Setiap hari selalu banyak pesanan. Memang gaji Alena tak seberapa karena hanya bekerja di toko bungan kecil yang karyawan nya hanya 4 orang saja.
__ADS_1
"Oh iya Sin gimana kabar bu Mirna ya?"
"Dia baik baik aja kok, kemarin juga dia berangkat arisan sama ibu ibu sosialita."
"Masa sih?"
"Kalau kamu ga percaya tinggal datang saja kesana, sebenarnya aku kasian sama ayah mu itu yang bekerja sampai malam hanya untuk wanita jahat kaya ibu tiri mu itu."
Sindy yang rumah nya dekat dengan orang tua alena, ia selalu tahu dengan ke adaan nya. Apalagi bu Mirna yang selalu menuntut pak Bagas untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang harus mewah padahal keadaan nya hanya punya rumah kecil dan kendaraan pun hanya satu mobil itu juga dapat dari kredit, karena memang pak Bagas punya perusahaan tapi sekarang perusahaan nya semakin kecil mungkin karena kehabisan dana.
"Sin nanti sore antar ke rumah orang tua ku ya, aku mau menanyakan keadaan Karin ."
"Baiklah."
***
Kenzo masih fokus dengan pekerjaan nya yang ada di sampingnya, tanpa bantuan Bram jadi ia mengerjakan nya sendirian. Kenzo tak mempercayai orang lain selain Bram, ia paling tidak percaya pada orang lain yang harus menggantikan nya.
"Akhirnya selesai," Lalu Kenzo mengeluarkan ponselnya dari saku, ia berharap ada nomor baru yang menghubunginya, karena ia sudah memberikannya pada Alena.
"Kemana dia, kenapa tak menghubungi ku?"
Lalu Kenzo membuka instagramnya ia penasaran dengan Alena, kemudian ia mengetik nama Alena di pencarian nya. Banyak sekali yang bernama Alena, sampai ia pusing melihatnya. Lalu ia mengetik lagi nama Alena Cassandra dan akhirnya ia menemukan Alena di instagramnya, ia pun melihat lihat story'Alena yang banyak sekali foto foto Alena di toko bungan bersama sahabatnya.
Ia pun berkomentar disana dengan kata kata "lstri ku yang cantik".
"Semoga ia membalas komentar ku." Tak lama kemudian Kenzo mendapatkan balasan dari Alena namun bukan balasan yang romantis tapi Alena malah memakinya.
"Apa maksud mu, aku bukan istri mu, jangan ngaku ngaku jadi suami ku" Kenzo mengerutkan dahinya, matanya melotot setelah membaca balasan dari Alena.
"Sin lihat deh ini ada pria yang menganggap ku istrinya."
"Marahin saja lah, orang ga jelas begitu, di memang siapa sih nama akunnya."
"Alvaro."
"Berarti itu bukan suami mu kan,"
"Iya lah memang bukan ini."
Pantas saja Alena memakinya karena ia tak mengenal nama Alvaro, padahal Alvaro itu nama belakan Kenzo.
"Sin ini masih siang tapi pesanan sudah beres, bisa kan kalau kita pergi ke rumah orang tua ku."
__ADS_1
"Bisa aja, pak Rendi gak bakalan marah kok." Alena pun setuju dengan ucapan Sindy, ia pun mencoba menghubungi Kenzo lewat pesan nya.
"Mas aku mau kerumah Sindy sebentar ya, karena pekerjaan ku sudah selesai jadi aku mau mampir ke rumah Sindy, nanti pulangnya aku naik gojek aja ya mas." Begitu lah isi pesan nya.
Kenzi pun langsung membaca pesan dari Alena.
"Alena barusan kau memaki ku tapi sekarang kamu seperti melupakan makian mu itu, apa kamu amnesia Alena, dasar wanita ini." ucapnya dalam hati.
"Ya hati hati di jalan sayangku."
Alena tersenyum dengan balasan suaminya itu membuat Sindy bertanya tanya.
"Ada apa senyum senyum."
"Ah tidak apa apa Sin, ya sudah ayok kita pergi sekarang." Ujar Alena.
"Ayok."
Mereka berdua pun pergi dengan taxi menuju rumah Sindy, Alena ingin mengunjungi rumah orang tuanya karena ia penasaran kenapa Sindy pergi dari Mansion nya.
Setelah sampai Alena dan Sindy pun menuju rumah orang tuanya, Alena melihat bu Mirna yang sedang duduk santai dengan rokok di tangan nya.
"Tuh kamu liat sendirikan ibu tiri mu itu tidak sakit."
"Iya Sin, mungkin saja ia sudah sembuh."
Tok tok tok "Assalamualaikum bu, ini Alena." Mirna pun buru buru mengganti bajunya setelah ia tahu yang datang itu Alena, ia juga menghapus make up nya dan mengganti dengan make up yang tipis serta bibir di buat kering agar Alena tak mencurigainya.
"Waalaikumsalam, eh Alena sayang silahkan masuk."
Alena pun bingung dengan penampilan ibunya yang sudah merubah penampilan nya secepat kilat, padahal tadi ia melihat ibunya yang memakai dress dan make up tebal serta bibirnya yang merah merona akan tetapi sekarang terlihat pias seperti mayat hidup, Mirna memang paling pintar menggunakan make up nya.
Jadi benar selama ini ibu membohongi ku, benar apa kata Sindy bahwa ibu tidak sakir.
"Ibu Alena kesini mau menanyakan ke adaan Karin, apa Karin pulang kesini?"
"Apa maksud mu Alena, bukannya Karin berada di mansion mu.Ia sudaj seminggu tidak pulang kesini, nomor telpon nya pun tida aktif." Mirna mulai geram.
"Kemana Karin, kau apa kan Karin hah, apa kau telah membunuhnya." bentaknya.
"Apa maksud ibu, aku tak tahu Karin dimana makanya aku kesini untuk bertanya pada ibu."
"Asal kau tahu Alena, Karin tak penah pulang kesini. Saya pun sudah menelpon nya karena saya benar benar butuh uang tapi nomor telpon Karin tidak aktif, apa yang sudah kau lakukan pada anak saya Alena, tolong jawab!" Bentaknya lagi.
__ADS_1
Alena juga bingung kenapa Karin tiba tiba menghilang begitu saja, Alena sangat sedih ia berniat databg untuk menanyakan kabar saudaranya tapi ia malah di bentak bentak oleh ibu tirinya.