
Alena sudah bersiap siap untuk pergi ke super market.
"Alena mau kemana?" Tanya Ainda.
"Alena mau beli susu sama cemilan ma."
"Aduh orang hamil jangan keluyuran, biar pelayan aja yang beli."
"Tapi Alena bosen di rumah terus ma, alena pengen belanja."
"Hem ya sudah deh hati hati di jalan ya, kamu sudah izin pada suami mu kan."
"Iya ma, tenang aja Alena juga sudah izin pada Kenzo kok ma, mama tak perlu khawatir."
Alena pun pergi di antar oleh pak sopir menuju super market yang tak jauh dari rumah orang tuannya.
"Terima kasih ya pak sudah mengantarku."
"Iya nona, ini memang kewajiban saya."
Setelah sampai Alena pun langsung masuk dan membeli beberapa cemilan, sayuran dan buah buahan.
"Nona biar saya aja yang bawakan,"
"Tak usah pak, bapak tunggu saja di luar nanti kalau sudah selesai bapak kesini lagi."
"Baiklah kalau begitu nona."
Ada sepasang mata yang melihat Alena, dengan tersenyum sinis ia berjalan ke arah Alena.
"Hem wanita miskin memang pantas jadi babu." Ujar Aurora yang baru saja mendekati Alena.
"Aurora, apa maksud mu!"
"Pantas saja suami mu masih menginginkan ku, ternyata istrinya saja tidak bisa ngurus diri." Alena memang selalu berpakaian biasa saja namun ia masih terlihat cantik dan elegan sedangkan Aurora selalu berpenampilan sexy seperti wanita malam.
"Kalau suami ku menginginkan mu, kenapa dia tidak menikah dengan mu. Bukan kah kamu sexy dan cantik tapi kenapa mantan kekasih mu itu malah menikahi ku."
"Sialan beraninya kau berbicara seperti itu pada ku wanita miskin." Aurora mulai geram.
"Kalau tak mau di senggol jangan nyenggol duluan mbak, jadinya kan gak terima."
"Mulai berani ya kamu."
"Kenapa gak berani sama orang kaya kamu, aku gak takut tuh."
Plakkk tiba tiba Aurora menamparnya karena kesal pada Alena.
__ADS_1
"Asal kau tahu Alena, Kenzo itu hanya milikku, dia cinta pertama ku, kau tak berhak berada di kehidupan nya karena kau tak selevel dengan dia."
"Lalu ngapain kamu pergi jika kamu mencintaiku, jadi jangan salahkan aku jika Kenzo memilihku dan sudah menikahi ku." Setelah berdebat dengan Aurora, Alena pun membalikkan badan untuk menuju kasir karena sudah selesai belanjanya.
Namun Aurora tidak terima dengan ucapan Alena, dengan lantang ia mendorong Alena membuat Alena terjatuh ke lantai.
Brukkk "Aaah." Perut Alena terasa kram.
"Rasakan, makanya kau jangan melawanku, aku akan melakukan apapun agar kau cepat pergi dari kehidupan Kenzo, bila perlu aku ingin membunuhmu." Teriaknya, membuat semua orang yang ada disana melihat pertikaian Alena dan Aurora.
"Ah perutku sakit,"
"Hahaha mampus."
Karena pak sopir lama menunggu Alena, ia pun kembali menemui Alena namun seketika pak sopir terkejut melihat Alena yang terduduk di lantai dengan memegang perutnya.
"Nona anda kenapa?"
"Pak tolong aku, perut ku sakit aaah." Alena terus meringis menahan kram diperutnya.
"Baik nona, kalau gitu kita ke rumah sakit sekarang," Pak sopir pun meminta izin untuk menggendongnya lalu membawanya masuk kedalam mobil.
"Cepetan pak, perut ku sakit."
"Baik nona."
"Pak aku gak kuat."
"Sebentar lagi sampai nona, sabar ya."
Pak sopir memarkirkan mobilnya di area rumah sakit, akan tetapi Alena sudah tidak sadarkan diri.
Alena sudah di bawa keruang perawatan, dokter sudah menanganinya dengan baik.
Kenzo yang masih bekerja ia mendapatkan telpon dari bawahannya, membuatnya terburu buru ingin segera menemui Alena, apa lagi Alena sedang mengandung benihnya.
"Siapa lagi yang sudah membahayakan istri ku."
Sebelum pergi Kenzo pun sudah memerintahkan Bram untuk memeriksa cctv yang ada di super market itu.
"Sayang kamu tidak apa apa." Ujar Ainda.
"Maafkan aku ma, aku gak nurut sama mama."
"Kamu jangan menyalahkan diri sendiri Alena, ini musibah tapi untung saja bayi mu selamat, kamu harus istirahat sampai sembuh."
"Iya ma, maafkan Alena sudah ceroboh." Kenzo pun datang dengan nafas ngos ngos an.
__ADS_1
"Sayang kamu kenapa? aku mengkhawatirkan mu."
"Aku tak apa apa mas, perut ku hanya kram saja."
"Siapa yang sudah membuat mu seperti ini." Alena tak ingin jujur karena ia takut akan marah besar pada Aurora.
"Aku jatuh sendiri mas, maafkan aku karena ceroboh."
"Lain kali kamu hanya boleh ikut dengan ku, aku tak ingin kejadian ini terulang kembali."
"Maafkan aku mas."
"Ya sudah kamu istirahat semoga cepat sembuh ya sayang, kamu ingin makan apa? aku akan keluar sebentar, apa kamu ingin cemilan."
"Apa saja mas."
"Baiklah, cup mas pergi dulu sebentar ya."
Sebelum pergi Kenzo sudah menyewa perawat untuk menjaga Alena, ia juga tak ingin membiarkan istrinya sendiri.
Kemudian Kenzo pergi ke parkiran lalu ia menelpon Bram ada yang ingin di sampaikan pada Bram.
"Bram cepat kau cari siapa pelaku yang membuat istriku kesakitan, tolong kau periksa cctv yang ada di rumah sakit itu."
"Baik tuan akan saya laksanakan."
"Jangan lama Bram, aku ingin segera memberi pelajaran pada orang yang sudah mencelakai istri ku, aku tak akan memberi ampun padanya."
"Ya tuan saya pergi sekarang." Lalu Kenzo pun mematikan ponselnya, sebelum ia kembali ke ruang rawat, ia tidak lupa untuk membelikan Alena makanan. Ia juga mampir ke super market untuk membeli buah buahan.
Bram sudah memeriksa cctv yang ada di tempat kejadian, ia terkejut melihat siapa pelakunya.
Ini akan membuat tuan marah besar, sepertinya kali ini Aurora tak akan selamat.
Kemudian Bram memberikan bukti dan mengirimnya pada Kenzo.
Kenzo yang sedang asyik memilihkan buah untuk sang istri, ia pun mengambil ponselnya untuk melihat pesan dari Bram. Buah yang ia pegang seketika hancur dalam genggaman nya, Kenzo benar benar marah pada pelaku yang sudah mencelakai istrinya.
"Aurora beraninya kau mencelakai istri ku, lihat saja untuk kali ini kau tak akan selamat." Kenzo berteriak marah membuat semua orang yang ada di supermarket ketakutan dengan teriakannya. Kemudian ia pun memberikan beberapa uang pada kasir untuk membayar buahnya.
"Tuan tunggu, sepertinya uang anda kelebihan."
"Ambil saja untuk mu." Ujarnya lalu ia pun pergi menuju mobilnya.
Kenzo pun mengirimkan pesan pada Bram untuk menangkap Aurora dan membawanya ke tempat ruang bawah tanah.
Kenzo benar benar marah dengan Aurora yang sudah mencelakai istrinya, walaupun Aurora mantan kekasihnya tapi ia sudah tak mencintainya lagi setelah ia tahu bahwa Aurora bukan wanita yang baik.
__ADS_1