
Alena yang sedang asyik mengobrol dengan adik iparnya, ia melihat Kenzo pergi terburu buru menggunakan jaketnya.
"Kakak mau kemana? ada istri disini bukannya di sapa malah di cuekin." Kenzo menepuk jidatnya, ia lupa bahwa ada Alena disini.
"Astaga maaf kakak lupa," kemudian Kenzo berjalan mendekati Alena lalu ia mengecup bibirnya sekilas.
"Cih sangat tidak sopan di depan adik sendiri." ujar Clara.
Alena sangat Malu dengan sikap suaminya yang selalu mengecupnya dimana saja tanpa mempedulikan orang lain yang ada di sekitarnya.
"Aku pergi dulu, aku sedang ada perlu. Kamu disini aja ya kan ada adikku yang menemani mu."
"Iya mas hati hati di jalan." Clara seperti melihat romeo dan juliet yang sangat romantis.
Setelah pamit Kenzo pun langsung mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju Mansion nya.
Setelah sampai disana ia langsung menuju ruang bawah tanah.
"Bram." panggilnya.
"Saya disini tuan."
"Kemana dia."
"Saya minta maaf tuan, saya belum menemuinya sepertinya dia ada disekitar sini, ia pasti sembunyi di sekitar sini."
Kenzo pun tersenyum sinis, sepertinya ia tahu Karin bersembunyi dimana.
"Karin keluar kamu, atau aku akan membunuh mu." Karin yang berada di tumpukan kardus ia berkeringat dingin setelah mendengar ucapan Kenzo.
"Karin." Teriaknya, "keluar kamu, atau kau akan ku pangkas dengan pisau ini."
Namun Karin masih belum keluar juga, pada akhirnya Kenzo menyuruh Bram untuk membawanya kehadapan dia.
"Lepaskan aku sialan."
"Rupanya kau disini nona, pintar sekali anda bersembunyi." ujar Bram.
"Ikat dia Bram, jangan terlepas lagi." Karin terus saja memberontak ketakutan, ia bersimpuh di kaki Kenzo memohon ampun atas perbuatan nya.
"Tuan tolong maafkan kesalahan ku, ampuni aku tuan, aku berjanji tidak akan melakukan nya lagi."
"Hahaha kenapa kau baru minta ampun sekarang, kau sangat pantas mendekam di sini, inilah akibat nya kau suka menyiksa istri ku."
"Apa maksudmu tuan, aku tak pernah menyiksa kak Alena, kami saudara."
__ADS_1
"Hahaha rupanya kau masih tak jujur padaku, aku semakin ingin membuat mu menderita disini, pulihkan lagi pikiranmu Karin, sewaktu dulu kau sering memperlakukan Alena dengan kekerasan dan inilah balasan untuk mu."
"Aku minta maaf tuan, aku memang memperlakukan ia dengan kasar tapi saya benar benar menyesal tuan, tolong ampuni saya."
"Ikat saja tangan nya Bram, jangan biarkan ia kabur lagi, kau boleh menikmatinya selagi ia masih hidup haha." ujarnya pada Bram.
"Apa maksud tuan menikmati wanita ini, saya sangat tidak berselera tuan."
"Kau di kasih enak malah menolak, sampai kapan kau mau menjomblo terus. Pergunakanlah wanita yang ada di hadapan mu Bram biar jiwa laki mu semakin gagah haha." Kenzo pun pergi meninggalkan Bram dengan ketawa renyahnya membuat Bram bergidik ngeri. Bram memang pria yang seram dan juga berbadan besar, ia juga tak kalah tampan dengan Kenzo namun ia hanya satu kekurangannya yaitu belum pernah mempunyai kekasih selama hidupnya.
Ah jadi pria bernama Bram ini belum pernah menikmati wanita, kalau begitu aku harus merayunya. Dia juga tampan malahan badan nya sangat bagus, aku sangat menyukainya.
Jiwa murahan Karin mulai keluar lagi, hanya melihat pria gagah di depannya pasti ia akan tergoda.
"Tuan tolong lepaskan ikatan ku, tangan ku sakit tuan." ujarnya.
"Diam, kau berisik sekali."
"Tuan aku rela melakukannya dengan mu, sebelum mati aku ingin memuaskan mu tuan."
Bram tak habis pikir dengan wanita di depan nya yang menyerahkan diri padanya.
Dasar wanita gila, tak tahu diri sekali!
***
"Pagi ma, pah, sarapannya sudah siap nih."
"Wah apakah ini kamu yang memasak Alena." tanya tuan Albert.
"Iya pah, karena aku terbiasa memasak jadi aku ingin memasak untuk papah dan mama."
"Cih kau memang pantas jadi pembantu di sini bukan jadi istri Kenzo, harusnya kau sadar diri Alena." ujar Ainda dengan ketusnya.
Alena tak mempedulikan ucapan ibu mertuanya, ia tahu memang susah untuk menaklukkan hati ibu mertuanya, ia harus benar benar kuat dengan hinaan nya.
"Ini untuk mama, aku memasak udang lagi. Dan ini untuk papah sayur sup kesukaan papah, Alena mau panggilkan Kenzo dulu."
Kemudian Alena menaiki tangga menuju kamarnya.
"Enak ya ma masakan menantu kita."
"Hem biasa aja pah."
"Tapi kok mama nambah lagi makan nya, pastinya enak dong ya."
__ADS_1
"Apaan sih pah, cuma makanan gini di bilang enak lebih enak makan di restoran. Udah ah mama udah kenyang." Ainda terpaksa tidak menghabiskan makanan nya karena ia malu tertangkap basah oleh suaminya, tuan Albert tersenyum geli dengan tingkah istrinya yang menurutnya lucu.
"Mas sudah selesai, ayok makan dulu mas." ujarnya pada Kenzo yang sedang memakaikan dasi.
"Sini biar aku pakaikan mas." Alena pun memakaikan dasinya pada Kenzo, ia sangat gugup karena Kenzo menatapnya.
"Mas jangan tatap aku seperti itu dong."
"Kenapa?"
"Aku malu mas."
"Kenapa kamu masih malu, padahal aku sering melakukan dengan mu sambil telanjang tapi kamu malah bilang malu padahal aku hanya menatap mu." Alena jadi salah tingkah sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Mas apa apaan sih." Alena mencubit nya dengan keras membuat Kenzo menjerit namun ia bukan menjerit kesakitan tapi ia malah menjerit menggodanya.
"Mas ih."
"Begitu kan sayang cara menjerit mu semalam haha." Kenzo menirukan suara jeritan Alena.
"Mas kamu tuh ya, bisa diam gak sih."
"Hehe aku becanda kom sayang, ya sudah ayok sarapan. Nanti kamu kesiangan kan harus ke toko bunga." Sebenarnya Kenzo sudah melarang Alena untuk bekerja namun ia selalu beralasan ingin bertemu dengan sahabatnya yang bernama Sindy jadi Kenzo pun terpaksa mengiyakan keinginan Alena.
"Pah, kok mama gak ada." ujar Alena yang tak melihat ibu mertuanya di meja makan.
"Mama sudah kenyang kak, mama sampe tiga kali nambah loh kak, masakan kakak sangat enak. Aku juga sangat menyukainya."
"Terimakasih Clara, kakak pasti akan memasak tiap hari untuk kamu."
"Wah beneran kak."
"Iya dong."
Kenzo pun sarapan dengan nikmat, sebelumnya ia tak pernah sarapan di rumah tapi semenjak Alena yang memasak ia selalu memakannya, ia juga selalu membawa bekal dari rumah untuk makan siang di kantor.
"Alena apa kamu masih bekerja di toko bunga itu?"
"Iya pah."
"Kenapa tidak berhenti saja, kan Kenzo bisa memberi mu uang yang banyak."
"Alena hanya mencari kesibukan saja pah, memang uang dari mas Kenzo lebih dari cukup kok pah, tapi Alena ingin bertemu dengan teman disana."
"Oh ya sudah kalau kamu memang menginginkan bekerja, papah tidak memaksa mu, papah hanya takut Kenzo tidak memberi uang nafkah pada mu."
__ADS_1
"Papah ini gimana sih, ya Kenzo pasti tanggung jawab lah pah, apalagi soal nafkah. Kenzo akan memenuhi semua kebutuhan Alena.
"Bagus itulah pria sejati yang harus memperlakukan istri seperti ratu, papah sangat suka dengan sikap mu Kenzo, dulu kamu selalu membantah papah, tapi setelah menikah dengan Alena sikap mu benar benar berubah. Papah sangat kagum pada Alena." Kenzo pun tersenyum, apa yang di katakan tuan Albert memang benar adanya.