Pernikahan Dengan Tuan Kenzo

Pernikahan Dengan Tuan Kenzo
Bab 36


__ADS_3

Bram mengikuti Aurora dari belakang, ia mencari cara untuk bisa membawa Aurora kehadapan tuannya.


Kalau begitu lebih baik aku sapa saja dia, aku yakin dia pasti mau ikut denganku.


"Hai Aurora." Aurora merasa ada yang panggil namanya lalu ia berbalik kebelakang.


"Bram, ngapain lo ngikutin gue,"


"Aku hanya ingin menyampaikan sesuatu pada mu."


"Apa maksud mu?"


"Tuan Kenzo ingin bertemu dengan mu,"


"What! benarkah dia ingin menemui ku." Aurora sangat bahagia mendengar Kenzo ingin menemuinya, tanpa pikir panjang ia langsung ikut bersama Bram.


"Gue tau pasti Bram rindu sama gue kan, sepertinya dia ingin terpuaskan." Bram tak menjawab ocehan Aurora, ia merasa risih dengan nya.


"Loh Bram, kok elo bawa gue kesini sih, kan ini bukan pintu utama."


"Saya juga tidak tahu, saya hanya menjalankan perintah saja."


Kemudian Bram memarkirkan mobilnya di sebuah parkiran yang gelap dengan minim pencahayaan membuat Aurora bergidik ngeri.


"Sebenarnya kita mau kemana?"


"Nanti juga kau akan tahu."


"Apa Kenzo ingin menemui ku di tempat gelap seperti ini."


"Ya sepertinya begitu." Lalu Bram membawa Aurora ke tempat ruang bawah tanah dan ia pun menyuruh Aurora untuk duduk di sebuah kursi yang sudah lapuk.


"Lo serius bawa gue ke ruangan kumuh seperti ini, tapi kenapa aku seperti mencium bau darah."


"Kau diam saja disini, aku akan memanggil tuan Kenzo dulu Kau ingin bertemu dengannya kan."


"Iya cepetan, gue takut." Bram pun pergi meninggalkan Aurora yang sedang sendirian di tempat gelap dan juga kumuh, ia menemui Kenzo di ruang utamanya.


"Tuan Aurora sudah menunggu disana."


"Bagus, aku akan segera kesana."


"Baik tuan."


Siap siap saja kau Aurora, aku tak akan mengampuni mu, kau sudah mencelakai istriku dan juga bayiku.


Tap..tap..tap..


Suara sepatu yang terdengar menuju ke arah Aurora, seketika Aurora senang dengan kedatangan mantan kekasihnya itu.

__ADS_1


Kenzo dengan tatapan dinginnya dan juga rahangnya yang mengeras ia sudah tak tahan menahan emosinya.


"Sayang."


Plak plak plak Kenzo menamparnya dengan sangat keras.


"Apa maksud mu Ken, tiba tiba kau menamparku seperti ini, katanya kau ingin menemui ku tapi kenapa kau malah menamparku." Kenzo bukannya menjawab tapi ia malah menampar sekali lagi dengan tamparan yang sangat keras membuat hidung Aurora mengeluarkan darah segar.


"Ah,, sssst sakit, apa yang kau lakukan." Aurora mulai geram dengan perlakuan Kenzo.


"Kau tahu apa kesalahan yang membuatku membenci mu."


"Apa hah, aku tak pernah punya salah padamu. Apa kau gila hah."


"Haha rupanya kau tak ingin mengakui kesalahan mu, memang paling pantas kau tak perlu hidup di dunia ini."


"Apa maksud mu hah."


Kenzo pun menyuruh Bram untuk menunjukan video cctv nya pada Aurora.


"Kau sudah mencelakai istri ku, kau tahu sekarang istri ku sedang dirawat."


"Aku tak peduli Ken, kau jahat kau malah membelanya."


"Jelas karena dia istriku dan dia sedang mengandung benihku, aku sangat membenci perlakuan mu."


"Em jadi dia sedang mengandung, apakah di keguguran sepertinya sangat bagus jika istri dan bayi mu mati."


"Le lepas ini sa sakit."


"Kau sangat pantas untuk menerimanya Aurora, kau harus mati di tanganku sekarang juga."


"Tidak, apa maksud mu."


Lalu Kenzo mengambil pisau kecil yang diberikan oleh Bram.


"Bram tolong ikat dia, aku ingin mengulitinya."


Dengan cepat Bram mengikat tangan dan kakinya Aurora membuat Aurora berteriak memohon pada Bram.


"Lepaskan tangan ku sialan."


Bram mengikat tangan dan kaki Aurora dengan kencang membuat Aurora kesakitan.


"Tolong lepaskan aku Ken."


"Tidak akan." Kemudian Kenzo mencengkram dagunya lalu ia mengeluarkan pisau dan di taro di pipi Aurora membuatnya ketakutan.


"Kau tahu ini namanya pisau, sekarang aku akan menguliti mu dengan pisau ini."

__ADS_1


"Aku tidak.mau Ken, tolong lepaskan aku." Aurora mulai menangis mohon pada Kenzo.


"Tak ada permohonan maaf bagi mu, kau harus merasakan ini.


Srekkkk Kenzo melukai tangan aurira dengan pisaunya.


"Ah tolong hentikan Ken, aku minta maaf."


"Tidak bisa."


Srekkk Kenzo kembali melukai kaki aurora.


"Sakit aw."


"Ini tak sebanding dengan sakitnya istri ku, ini tak seberapa dengan engkau yang sudah melukai istriku."


"Kau tega melukai ku Ken, kau dulu sangat mencintaiku, apa istimewanya dia hiks hiks." Aurora tak menyangka dengan sikap Kenzo yang jahat padanya.


"Ini karena ulah mu, ini karena perbuatan mu, dan ini karena istriku. Aku tak bisa memaafkan mu, kau harusnya bersyukur karena aku belum membunuh mu." Kemudian Kenzo pergi meninggalkan Aurora yang masih berteriak kesakitan.


"Bram jaga dia jangan sampai kabur, urusanku belum selesai dengannya, aku akan menemui istri ku dulu."


"Baik tuan."


Aurora tertidur dilantai yang kotor dengan tangan dan kaki di ikat begitu juga dengan darah yang mengalir di tangannya dan kakinya, Bram pun mengobatinya dengan memberi perban dan ia diperintahkan oleh tuannya, Kenzo tak ingin Aurora mati dulu sebelum ia selesai dengan balas dendamnya. Berkali kali Aurora memohon pada Bram akan tetapi Bram tak menghiraukan nya, ia hanya bertugas dengan apa yang di perintahkan tuannya.


"Sayang, aku datang." Ujar Kenzo yang baru saja datang.


"Kamu ini kemana saja, istri mu sedang sakit malah di tinggal." Ujar sang ibu yang kesal padanya.


"Maaf ma aku banyak kerjaan jadi aku terpaksa meninggalkan istriku."


"Kau ini bagaimana sih, kau kan bos nya tapi kenapa susah sekali meninggalkan pekerjaanmu, kau kan punya asisten lalu apa gunanya dia."


"Maaf ma, lain kali aku tak akan seperti ini lagi."


"Iya mama gak suka liat kamu membiarkan Alena seperti ini, apalagi Alena sedang mengandung, untung saja Alena tinggal bersama mama bagaimana kalau dia tinggal bersama mu."


"Sudah mas mas Kenzo selalu jagain aku kok ma, dia juga udah izin sama aku, aku gak apa apa ma." Sambung Alena.


"Lain kali ga bisa begitu Alena, mau sesibuk apa dia kamu jangan membiarkannya pergi apalagi kamu sedang sakit dan mengandung."


"Iya ma Alena mengerti." Alena sangat senang dengan sikap ibu mertuanya yang semakin hari semakin perhatian padanya, sebenarnya ia tak mempermasalahkan Kenzo karena ia sudah di jaga oleh perawat jadi ia tak masalah Kenzo sibuk dengan pekerjaannya. Tapi ternyata ibu mertuanya sangat khawatir padanya, ia baru tahu sikap ibu mertuanya yang sangat menyayanginya padahal dulu ia sempat mengeluh dengan sikap ibu mertuanya.


"Ya sudah ibu mau kembali ke rumah dulu, kamu jagain istrimu jangan tinggalkan dia lama lama, kasian kan."


"Iya ma iya akan Kenzo lakukan."


"Kalau gitu mama pamit ya, cepet sembuh ya Alena, besok mama kesini lagi. Malam ini kamu di temenin suami mu ya."

__ADS_1


"Iya ma terima kasih sebelumnya, hati hati dijalan ya ma."


Semakin hari Ainda semakin nyaman dengan menantunya yang sangat menghormatinya tak seperti anaknya.


__ADS_2