
Mereka bertiga sangat bahagia setelah pulang dari dokter, Ainda pun langsung memberitahu suaminya bahwa mereka akan memiliki cucu.
"Benarkah." Ujar tuan Albert.
"Iya pah, kita mau punya cucu yang lucu. Mama sudah ga sabar menunggu kehadirannya."
"Wah apakah mama sangat bahagia?"
"Tentu saja pah, tapi mama hanya bahagia karena bayi yang ada di kandungannya bukan karena Alena." Tuan Albert tersenyum menggelengkan kepalanya, Ainda masih tidak ingin mengakuinya bahwa ia sudah menerima Alena sebagai menantunya.
"Terima kasih ya sayang sudah memberiku keturunan, aku sangat menginginkan keturunan dari mu,"
"Iya mas, aku juga bahagia dengan bayi yang ada di kandungan ku, semoga sehat selalu sampai lahiran nanti," Kata Alena.
"Apa kamu ingin sesuatu."
"Maksudnya mas."
"Biasanya kan ibu hamil selalu menginginkan sesuatu, misalnya ingin makan apa gitu,"
"Mas tau dari mana kalau ibu hamil menginginkan sesuatu."
"Ya kan mas udah bicara sama dokter sayang, mas harus manjain kamu jadi mulai sekarang mas akan lebih perhatian padamu dan juga bayi kita.
"Terima kasih mas, tapi aku memang tidak menginginkan sesuatu, aku hanya ingin tidur karena perutku masih mual."
"Kalau begitu kamu tinggal minum obat yang dikasih dari dokter sayang, kan ada obat pereda mualnya."
"Enggak mas, aku sudah minum barusan tapi malah makin mual,"
"Hem ya sudah deh terserah kamu, sekarang istirahat saja, mas mau kembali ke kantor lagi karena pekerjaan mas masih banyak, cup." Setelah mengecup kening Alena, Kenzo pun pamit untuk pergi namun Alena malah menahan tangan suaminya.
"Ada apa sayang, apa kau merindukan ku."
"Tidak mas, bukan itu." Alena pun duduk sambil menunduk ia takut untuk berbicara pada suaminya.
"Sayang ada apa? kenapa wajah mu ditekuk seperti itu," Alena menarik nafasnya dalam dalam untuk menjelaskan isi hatinya pada Kenzo.
"Mas aku tak ingin kamu dekat dekat dengan mantan mu,"
"Apa maksud mu sayang?"
"Tadi pagi mantan mu menelpon ku, dia bilang sedang di kantor bersama mu." Kenzo malah tersenyum mendengar penjelasan istrinya.
"Jadi kamu cemburu," Dengan cepat Alena menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Tidak mas."
"Bilang saja iya, aku tak akan pernah tergoda olehnya lagi sayang jadi kamu jangan khawatir soal Aurora, kamu lah yang ada di hati aku bukan orang lain."
"Tapi Aurora cantik dan sexy mas, aku takut kamu tergoda olehnya."
"Tidak sayang, bagiku kamu lah yang lebih cantik dan sexy apalagi tanpa sehelai pakaian di badan mu." Ucapnya dengan tersenyum genit.
"Walaupun kamu hanya bisa gaya batu, tapi kamu membuatku melayang-layang sayang."
Alena langsung mencubit lengan suaminya.
"Mas kamu ini bicara apa sih!"
"Hehe mas minta maaf, kamu jangan pikirkan soal dia lagi ya, ingat aku hanya mencintai mu. Aku pamit dulu ya sayang."
"Iya mas hati hati dijalan."
Kemudian Kenzo kembali ke kantornya dengan mengendarai mobilnya, ia pun menelpon Bram untuk membawa Aurora ke hadapannya.
Bram pun menuruti apa yang di inginkan tuannya, ia menuju apartemen yang di tempati Aurora.
Setelah sampai disana Bram dikagetkan dengan Aurora yang menggandeng tangan pria dengan mesra.
Ini tak bisa di biarkan, aku harus mengikutinya lalu memberi bukti pada tuanku.
"Sayang hari ini kita kemana," Ujar Aurora.
"Kita makan makan di restoran, kamu pasti lapar kan."
"Ia sayang, kamu selalu mengerti kemauan aku."
Mereka pun telah sampai di tempat tujuan begitu juga dengan Bram, sebelumnya Bram sudah memberitahu Kenzo dan ia juga diperintahkan untuk mengikutinya.
Bram memantau nya dari jauh, ia juga menyalakan ponselnya yang sedang video call dengan tuannya.
"Wanita murahan, tapi kenapa dia berani mengganggu istri ku." Ujar Kenzo yang melihat Aurora sedang bermesraan sambil makan bersama seorang pria lewat video callnya.
***
Ainda membuatkan susu ibu hamil untuk Alena, begitu juga dengan buah yang sudah di kupas olehnya lalu ia membawanya ke kamar Alena.
Tok tok tok "Alena ini mama, mama masuk ya."
"Iya ma," Ujarnya dari dalam.
__ADS_1
"Ini mama bawakan susu dan buah buat kamu, eh maksud mama buat cucu mama, habiskan ya biar cucu mama sehat." Alena hanya bisa tersenyum dengan tingkah ibu mertuanya.
"Terima kasih ma,"
"Minum sekarang susunya nanti ke buru dingin."
"Iya ma," Alena pun menuruti apa kata Ainda, Ainda sangat senang karena Alena tak pernah membantahnya.
"Ya sudah kalau gitu mama mau kembali kesana, kamu istirahat saja. Mama tak ingin cucu mama kenapa napa."
"Iya ma, sebelumnya terima kasih ya ma."
Setelah kepergian ibu mertuanya, Alena membaringkan tubuhnya kembali.
Panggilan masuk di ponsel Alena, tertera nama ayah di ponselnya. Namun Alena sangat malas untuk mengangkatnya jadi ia membiarkan saja akan tetapi ponselnya terus berdering membuat Alena penasaran dengan apa yanh akan di sampaikan oleh ayahnya, lalu Alena pun menekan tombol hijau. Baru saja menempelkan ponselnya ketelinga, Alena sudah mendengar teriakan ibu tirinya.
"Hei Alena anak durhaka, beraninya kamu mematikan telpon ku hah."
"Emang nya ada apa ibu menelpon ku, kalau tak ada yang ibu bicarakan lebih baik matikan saja telpon nya."
"Sudah berani ya kamu membantah orang tua, kamu tahu kan anak saya Karin masuk rumah sakit gara gara kamu dan suami mu itu."
"Apa maksud ibu menyalahkan ku, itu salah dia sendiri."
"Pokonya ibu gak mau tahu, kamu harus ganti rugi biaya rumah sakit dan juga perawatan Karin."
"Sudah ku duga ibu pasti menginginkan uang, maaf sekarang aku tak ingin dimanfaatkan oleh kalian lagi. Jadi jangan mengharapkan uanh dari ku."
"Heh dasar wanita sialan kau Alena, beraninya kau sekarang melawan ku hah, aku akan mendatangi rumah mu dan aku akan minta tanggung jawab pada kamu dan suami mu itu."
"Terserah ibu saja."
Kemudian Alena menutup telpon nya, lalu ia merebahkan kembali badannya.
"Gimana ma, apa Alena mau memberi uang pada kita." Ujar Karin yang masih dalam perawatan.
"Mama juga tidak tahu, sekarang dia berani melawan mama. Kamu tahu kan biaya rumah sakit tidak sedikit, masa mama harus ngutang lagi ke bank."
"Maafkan Karin ma, ini karena kecerobohan Karin. Mama tak perlu meminta uang pada Alena, aku akan bekerja setelah sembuh."
"Tidak bisa Karin, mama ingin dia tetap tanggung jawab. Kamu ini gimana sih malah kalah sama dia,"
"Sudahlah mah Karin bisa ganti uang mama kok,"
"Pokoknya mama akan menagih uang pada Alena, mama akan datang kerumahnya."
__ADS_1
"Jangan ma."
Karin tak ingin ibunya terlibat dengan Kenzo karena ia tahu bahwa Kenzo pria yang kejam, Karin terus saja mencari alasan agar ibu nya tak datang kesana. Akan tetapi Mirna sangat keras kepala, ia akan tetap datang dan meminta uang pada Alena.