Pernikahan Dengan Tuan Kenzo

Pernikahan Dengan Tuan Kenzo
Bab 32


__ADS_3

Aurora sudah lama menunggu Kenzo di ruang kerjanya, namun Kenzo tak peduli pada Aurora ia tetap fokus pada layar laptopnya.


"Ken kapan sih kamu selesainya, ayok makan siang bersama ku,"


"Aku sudah bilang padamu, aku sedang sibuk,"


"Sekali ini saja Ken, sudah lama aku tak makan siang bersama mu, gimana kalau kita makan siang di tempat yang dulu."


Kenzo mulai kesal dengan Aurora yang terus mengganggunya.


"Apa kau ingin aku memanggilkan Bram."


"Untuk apa, aku hanya ingin bersama mu sayang," Lalu Aurora berjalan menuju meja kerjanya Kenzo, kemudian ia duduk di atas mejanya dan ia sengaja mengangkat roknya agar Kenzo tergoda olehnya.


"Apa apaan kamu." Tegas nya.


"Kenapa kamu kasar gitu, dulu kamu menyukaiku yang seperti ini, sebenarnya apa sih keistimewaan istri kamu yang biasa aja."


"Istriku sangat istimewa, dia tak pantas dibandingkan dengan mu yang murahan."


"Tapi kamu suka kan, dulu kamu sangat menikmati ku," Aurora dengan berani duduk di pangkuan Kenzo sambil memainkan dasinya, tanpa lama Kenzo pun mengambil ponselnya di atas meja lalu ia menelpon Bram untuk keruangan nya.


Bram yang baru masuk ke ruang kerja tuan nya, ia terkejut melihat Aurora yang berani menggoda tuannya.


"Permisi tuan, ada apa anda memanggil saya."


"Tolong bawa wanita ini keluar," Dengan sigap Bram langsung menarik Aurora yang sedang asik duduk di pangkuan tuannya.


"Apa apaan kamu hah, beraninya kamu menyentuhku," Ujar Aurora ia tak suka dengan Bram yang memaksanya.


Namun Bram tak peduli, ia terus saja menariknya membuat Aurora tak bisa melawannya.


"Ken tolong lepaskan aku, aku masih mencintaimu Kenzo," Teriaknya, akan tetapi Kenzo tak peduli ia tetap fokus pada pekerjaannya.


Setelah kepergian Aurora tiba tiba ponsel Kenzo berdering ternyata Ainda lah yang menelponnya.


"Ada apa ibu menelpon ku, tumben sekali? matikan saja lah ga penting." Kenzo pun menekan tombol merah tandanya menolak panggilan dari sang ibu, ia kembali fokus lagi pada pekerjaannya akan tetapi ponselnya terus berdering jadi ia terpaksa mengangkatnya.


"Ada apa ma menelpon ku."


"Beraninya kamu menolak telpon mama, dasar anak durhaka." Kenzo menjauhkan ponselnya dari telinga karena teriak Ainda membuat telinganya sakit.


"Memangnya ada apa sih bu."


"Ini tentang istri mu," Setelah mendengar kata istri Kenzo pun langsung membenarkan duduknya.

__ADS_1


"Ada apa dengan istri ku ma?" Ujarnya khawatir.


"Cepatlah pulang, bawa istri mu kedokter."


"Kenapa mama tidak memanggil dokter aja.'


"Kamu ini gimana sih, pokonya mama ga mau tau sekarang juga kamu harus pulang bawa istri mu ke dokter sepertinya istri mu sedang hamil." mendengar kata kata hamil membuat mata Kenzo berbinar senang.


"Baik ma, aku akan pulang sekarang." lalu Kenzo pun mematikan ponselnya dan bersiap siap untuk pulang.


Baru saja Kenzo masuk kedalam mobilnya tapi tangan nya malah ditahan oleh seseorang.


"Ken katanya kamu sibuk," Tiba tiba saja Aurora sudah ada di belakang Kenzo dan menahannya.


"Lepaskan tangan mu, aku mau pergi."


"Ken ayolah sekali ini saja, Cup." Dengan berani Aurora mengecup bibirnya dengan singkat membuat rahangnya mengeras dan jari tangannya yang mengepal.


"Sialan beraninya kau," Ia pun mendorongnya dengan kuat membuat Aurora terjatuh dan ia pura pura kesakitan.


"Jangan berani membohongi ku, jangan pernah mengganggu ku lagi. Jika kau berani menampakkan wajah mu, maka aku akan membunuh mu."


Kemudian Kenzo masuk lalu tancap gas meninggalkan Aurora yang masih berpura pura kesakitan.


"Sialan kau Kenzo arghhh, beraninya dia menolakku, ini semua gara gara wanita miskin itu." Teriaknya.


Kenzo melihat ada ibunya yang sedang memijit Alena sedangkan Alena tertidur dengan lemas.


"Alena sayang, kamu kenapa."


"Malah bertanya, cepat bawa dia ke dokter."


"Baiklah ma, aku akan membawanya."


"Mama akan ikut bersama mu," Kenzo pun menganggukkan kepalanya menandakan ia menyetujuinya.


"Ayo sayang kita kedokter, biar aku yang menggendong mu ke mobil."


"Tapi mas, nanti kamu keberatan," Ujar Alena dengan suara lemahnya.


Tanpa menunggu jawaban Alena, ia pun langsung menggendongnya begitu juga dengan Ainda yang mengikutinya dari belakang menuju mobilnya.


"Ingat ya Alena saya begini bukan karena peduli pada mu, tapi saya hanya peduli pada bayi yang kau kandung, ingat itu."


"Iya ma," Alena pun tersenyum dengan ucapan ibu mertuanya yang sedari pagi menemaninya.

__ADS_1


"Memangnya mama tahu dari mana Alena hamil."


"Ya ini perkiraan mama saja, semoga saja benar kalau Alena hamil. Mama pasti bahagia memiliki cucu yang lucu."


"Tentu saja ma, aku akan memberi mu cucu yang banyak hehe aku hebat kan ma bisa membuat Alena hamil."


"Cih dasar kamu ini,"


Kenzo tertawa dengan bahagianya, berbeda dengan Alena yang malu mendengar ucapan suaminya tapi ia tak bisa menyangkalnya karena ia benar benar lemas dari pagi muntah terus.


Setelah sampai di rumah sakit Alena pun di bawa menuju ke ruangan dokter kandungan, Kenzo pun sempat menolak karena dokter kandungan nya laki laki jadi ia meminta dokter yang perempuan untuk memeriksa Alena. Ainda pun hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan tingkah anak sulungnya itu.


"Gimana dok, apa benar menantu ku hamil."


"Hasil dari tespack nya menantu ibu memang positif hamil jadi lebih jelasnya saya akan melakukan USG." Ainda dan juga Kenzo sangat senang mendengar kabar bahagia ini begitu juga dengan Alena.


"Silahkan bajunya di buka sedikit ya bu, saya akan melakukan nya sekarang." Kenzo pun langsung menahan tangan Alena.


"Mas apa apaan kamu ini,"


"Enak aja buka baju di sini, aku tak mau kay memperlihatkan perut mu pada orang lain." Ainda pun menepuk jidatnya mendengar ucapan Kenzo.


"Maaf pak melakukan USG memang harus di permukaan kulit agar bapak bisa melihat buah hati bapak."


"Haduh Kenzo kamu ini gimana sih, lagian gak apa apa lah cuma buka baju sedikit doang, dokternya juga cewek kan." Ucap sang ibu.


Dokter Nita tersenyum geli dengan tingkah ibu dan anak yang terus saja berdebat, begitu pun Alena merasa malu dengan suaminya yang tak tahu tentang kehamilan, untuk melakukan USG saja harus jadi masalah.


"Baiklah silahkan buka baju mu sayang, aku minta maaf karena aku tidak mengerti dengan USG." Ucapnya pada Alena.


Dokter Nita pun menggeleng gelengkan kepalanya dengan sikap suami pasien.


"Nah ibu Alena sudah jelas sedang mengandung, disini terlihat ibu Alena sedang mengandung 5 minggu, selamat ya bapak dan ibu akan punya calon bayi yang lucu."


"Bagaimana dengan jenis kelaminnya dok,"


"Maaf pak kalau soal jenis kelamin belum bisa terlihat, nanti istri bapak bisa melakukan USG kembali di usia 20 minggu ya."


"Oh begitu, baik dok."


Alhamdulilah akhirnya aku hamil, semoga adanya bayi ini hubunganku dengan suami makin erat.


Tak cuma Alena dan Kenzo yang bahagia, tapi Ainda juga sangat bahagia dengan kehadiran calon bayi yang ada diperut menantunya.


Apakah ibu mertuanya akan menerimanya, atau hanya akan menerima bayinya saja?

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2