Pernikahan Dengan Tuan Kenzo

Pernikahan Dengan Tuan Kenzo
Sikap aslinya yang kejam.


__ADS_3

Kenzo hari ini sangat memanjakan istrinya dari urusan makan pun Kenzo yang menyuapinya, ia tidak masuk kantor di karenakan cintanya sedang tumbuh jadi tidak ingin di ganggu.


"Mas kenapa tidak kekantor?"


"Aku mengambil cuti hari ini."


"Tapi kenapa."


"Ingin memanjakan mu seperti ini."


"Tapi aku gak apa apa mas, aku bisa sendiri."


"Sudahlah jangan membantah."


Tok tok tok "Permisi kak, aku membawakan buah untuk mu." Ujar Karin yang datang ke kamar Alena.


Wanita sialan beraninya dia datang ke kamar ku.


"Terimakasih Karin, apa kau sudah makan."


"Sudah kak, kakak cepat sembuh ya."


"Iya." ujarnya, Alena melihat pakaian Karin dari atas ke bawah sangat memperlihatkan lekuk tubuhnya, membuat Alena ingin menegurnya tapi ia tidak enak pada Karin.


Kenapa Karin pakaiannya seperti ini, apa dia memang mau menggoda suamiku. Tapi mana mungkin ia begitu.


"Kalau sudah selesai cepat kembali." tegas Kenzo.


"Iya tuan."


Bagi Kenzo ia tak tergoda dengan lekuk tubuh Karin, bagaimana pun ia sudah terpuaskan oleh istrinya, melihat Karin seperti itu rasanya ia sangat jijik padahal dulu ia menyukai wanita berpakaian **** tapi sekarang pandangannya berbeda, rupanya ia sangat menyukai tubuh Alena yang biasa biasa saja namun dalam nya sangat menggoda.


Tetap saja aku hanya menginginkan istri ku dia lebih menggoda.


Karin pun pamit untuk kembali ke kamarnya.


Sial rupanya si bodoh Alena sangat dimanjakan oleh suaminya, ini tidak bisa di biarkan. Aku harus mencari cara agar Alena secepatnya pergi dari sini, dia tao boleh bahagia melebihi aku.


"Mas kamu kenapa, sepertinya kamu tak menyukai adik ku mas."


"Tentu saja aku tak suka pada adik mu itu, dialah yang sudah membuat mu kehilangan kesucian mu."

__ADS_1


"Maafkan adikku ya mas, jangan usir dia."


"Hem."


Sebenarnya Alena memang tak menyukai adik tirinya itu, karena mereka sering menyakiti Alena apalagi dengan ibu tirinya yang selalu memperlakukannya dengan kasar kadang ia tak makan sehari jika ia melakukan kesalahan walaupun sepele, dari situlah Alena mulai mandiri dan mencari pekerjaan untuk biaya sekolahnya, Akan tetapi sekarang Alena membawa Karin kerumahnya karena ia tak tega melihat ibu tiri yang terbaring lemah.


"Sayang aku akan ke ruang kerja dulu, kamu tidak apa apa kan ditinggal sebentar."


"Tak apa apa mas, jangan pikirkan aku, aku bisa sendiri kok."


"Hem ya baiklah, kamu istirahat saja ya."


Alena pun menganggukkan kepalanya.


Lalu Kenzo berjalan menuju ruang kerjanya, walaupun ia tidak kekantor hari ini tapi ia tetap saja mengerjakan nya dari rumah, perusahaan tidak akan maju jikan tanpa dia.


Karin berjalan mengendap endap, melihat kanan kiri untuk memastikan tak ada pelayan yang melihatnya.


Karin melihat Kenzo sedang fokus dengan layar laptopnya, kemudian ia pelan pelan menuju mata Kenzo.


"Kamu siapa."


Karin tak menjawabnya ia tersenyum senang karenanya.


Kenzo pun langsung menghadapnya, ia kira Alena yang melakukan ini tapi ia ingat Alena sedang sakit mana mungkin datang ke ruang kerjanya.


"Sialan beraninya kau masuk ke ruangan ku."


"Tuan aku hanya ingin menemani mu di sini." ujar Karin tanpa ada rasa malu.


"Pergi kau dari sini sebelum aku membunuh mu."


Namun tiba tiba Bram masuk, ia kaget melihat Karin yang menggoda tuannya.


"Tuan." ujar Bram.


"Bawa wanita sialan ini keluar Bram, bawa dia ketempat ruang bawah tanah jangan sampai Alena tahu tentang ini."


Akan tetapi Karin hanya tersenyum, ia tak peduli Kenzo akan melakukan apapun padanya. Ia tidak tahu saja Kenzo adalah mantan mafia terkejam.


"Mari nona." Bram menarik tangan Karin dengan paksa, ia juga tak lupa memberi tahu pelayan lain untuk berjaga di depan kamar Alena agar ia tak mengetahuinya.

__ADS_1


Bruk,, Bram mendorongnya dengan kasar sampai Karin terjatuh kelantai dengan suasana yang gelap membuatnya merasa takut.


"Apa maksud mu kau membawa ku kesini hah." Teriak Karin.


"Inilah balasan untuk mu jika kau membantah tuan mu."


"Ta tapi kenapa bau darah, apa yang akan kalian lakukan pada ku." Karin terus saja memberontak ingin keluar dari ruang gelap itu.


Akan tetapi Bram mengikatnya, ia tidak akan bisa memberontak lagi.


"Lepas kan aku sialan."


Karin mulai ketakutan melihat Kenzo datang dengan membawa tali sabuknya.


"Buka bajunya Bram."


"Baik tuan."


Ia pun membuka paksa bajunya dengan merobeknya tanpa menyisakan satupun pakaian di badannya.


"Kalau kalian ingin memperkosa ku jangan di tempat ini, aku siap melayani kalian asal jangan di tempat kumuh ini." Kenzo tersenyum sinis dengan ucapan nya.


"Aku tak terpesona dengan badan mu itu, kau membuat ku jijik maka rasakan lah hukuman dari ku."


Plakkkk plakkk plakkk Kenzo melukai tubuh Karin dengan sabuk pinggangnya.


"Auh sakit."


"Ini belum apa apa untuk mu Karin, kau pantas mendapatkan ini." kemudian Kenzo meminta pisau pada Bram lalu ia melukai kulitnya dengan perlahan.


"Sakit tuan, ampuni aku."


"Haha kau bilang sakit, ini sangat nikmat sayang. Inikah yang kau mau dariku."


Karin mulai ketakutan ia sudah tak tahan dengan siksaan dari Kenzo.


"Sialan belum apa apa kau malah pingsan cih."


"Bram panggil pengawalmu dua orang untuk menjaga wanita murahan ini disini, terserah kalian mau melakukan apa dengan nya dan ingat jangan sampai Alena tahu tentang ini."


"Baik tuan, akan saya lakukan." Kemudian Kenzo meninggalkan ruang bawah tanah, sebelum ia kembali ke Mansionnya, ia mencuci tangan nya terlebih dahulu untuk menghilangkan jejak Karin di tangan nya. Sebenarnya ia ingin melenyapkan Karin sekarang juga namun ia lebih suka membuatnya menderita terlebih dahulu, siapa pun yang berani padanya maka ia tak akan mengampuni perbuatannya baik pria maupun wanita ia akan membunuhnya dengan sesuka hati.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2