
"Mulai hari ini kau harus diam menjadi nyonya dirumah ini."
"Apa maksud mu tuan." Alena bingung dengan perubahan sikapnya yang tiba tiba menjadi baik memperlakukannya seperti ratu.
"Kau istri ku, jadi kau tak boleh melakukan apapun tanpa izin ku."
Sejak kapan ia menganggap ku istri? apa dia amnesia.
"Ya tuan, aku menurut saja apa kata ku."
"Dan mulai hari ini kau harus melayaniku saja, ini black card untuk mu " Kenzo menyodorkannya pada Alena.
"Kau bisa menggunakan kartu itu sepuasnya."
"Bagaimana kalau aku menghabiskan uang yang ada di kartu ini."
"Itu tidak mungkin karena itu kartu tanpa batas."
Benarkah ini aku bisa menggunakan nya sepuasnya, kalau begitu aku busa mentraktir Sindy.
"Nanti malam aku akan mengajakku ke rumah orang tua ku, aku ingin kau lebih mengenal orang tua ku."
"Baik tuan."
"Sekarang aku ada perlu di kantor ku, jadi aku akan pergi dulu."
"Tapi bolehkah aku maun kerumah Sindy tuan, sudah lama aku tak bertemu dengan orang tua Sindy."
"Baiklah kalau begitu, aku akan mengantarmu ke sana."
"Tapi bagaimana dengan kartu ini, bolehkah aku mentraktir Sindy makan."
"Tentu saja." Alena melompat lompat dengan girang setelah mendengar ucapan Kenzo, Kenzo pun tersenyum manis pada Alena rasanya ia bahagia juga melihat Alena tersenyum.
"Ayo kita berangkat sekarang, klien ku sudah menunggu." Dengan perasaan yang bahagia tiba tiba Alena menggandeng tangan Kenzo dengan erat sampai menuju mobilnya. Ada perasaan bahagia yang tak bisa di artikan di hatinya.
"Tuan terimakasih ya."
"Hem."
Alena menunjukkan jalan kerumah Sindy pada Bram.
"Nona kenapa aku kenal jalan ini, sepertinya ini menuju rumah orang tua mu nona." Kenzo menatap Alena dengan penuh tanya.
"Ya karena rumah Sindy berdekatan dengan orang tua ku."
"Aku tak ingin kau bertemu dengan ayah mu, apalagi kau masuk kerumahnya."
__ADS_1
"Aku tidak akan tuan, aku hanya akan kerumah Sindy."
"Bagus kau menurut pada ku."
Akhirnya sampai di rumah Sindy, seketika Alena menatap rumah yang pernah ditinggalinya, rumah kenangan bersama ibu dan ayahnya. Namun sekarang semua itu tinggal kenangan karena ayahnya sudah berubah tak seperti dulu yang sangat menyayanginya.
"Alenaaaa." panggil Sindy yang melihat Alena turun dari mobilnya.
"Aku pergi dulu, ingat kata kata ku Alena."
"Baik tuan, terimakasih sudah mengantarku." Setelah kepergian Kenzo, Alena langsung memeluk Sindy padahal ia sering bertemu dengan Sindy setiap hari tapi rasanya ia sangat rindu dengan suasana rumah Sindy.
"Ibu ada Alena loh." Teriak Sindy memanggil ibunya.
"Alena, ya allah na akhirnya kamu datang kesini juga." ujar ibu Retno.
"Iya bu, Alena ingin mengunjungi ibu karena sudah lama Alena tidak kesini."
"Sekarang kau sangat cantik sekali Alena apakah suami mu sangat baik."
"Tentu saja bu."
"Kalau begitu ayo masuk dulu, duduklah. Ibu akan membuatkan juice untuk mu."
"Terimakasih bu." Alena seperti menemukan lagi kasih sayang ibunya, ibu Retno ini memang sahabat ibunya dari kecil, ia sangat baik pada Alena dan juga sudah menganggap Alena seperti anak kandungnya sendiri.
"Ada apa sih Karin teriak teriak gitu, berisik tau."
"Ma dirumah Bu Retno ada Alena, penampilan dia sekarang sangat berbeda. Karin benar benar ngiri."
"Kamu serius Karin, kalau begitu ayo lakukan aksi mu untuk melancarkan rencana mu."
"Baik ma, nanti aku akan menemuinya."
Alena yang berada di rumah Sindy pun rasanya ia ingin datang ke rumah orang tuanya, tapi ia sadar dengan kata kata Kenzo, ia tak ingin membantahnya.
Karin menuju kerumah Sindy dengan wajah yang menyedihkan untuk dikasihani Alena.
"Kak Alena."
"Karin."
"Kak aku rindu kakak, kakak kemana aja kenapa gak datang kerumah Karin."
"Maaf kakak sedang ada perlu pada Sindy." ujarnya.
"Ibu sedang sakit kak, kakak harus menemui ibu ku. Kasian dia."
__ADS_1
Alena merasa iba dengan penampilan Karin yang berantakan.
"Heh Karin kemarin ibu mu masih sehat kok, kamu bohong ya." Sambung Sindy.
"Aku serius Sin, aku gak bohong sumpah."
Alena pun merasa khawatir dengan apa yang diberitahu oleh Karin, walaupun Mirna ibu tiri yang jahat tapi Alena tetap menyayanginya.
"Kalau begitu kakak ingin melihat ibu."
Yes akhirnya si bodoh ini menurut juga, gampang banget sih di bohongi.
"Hati hati Alena jangan mau di bohongi dia." kata Sindy.
"Tenang saja Sin, aku bisa jaga diri kok. Aku mau kerumah orang tua ku dulu ya."
Lalu Alena pun pergi menuju rumah orang tuanya, ia melihat rumah yang kotor dan berantakan. Dulu ia yang selalu membersihkan rumah ini tapi sekarang rumah ini sudah seperti gudang.
"Ibu ada dikamarnya kak." Alena melihat Mirna yang terbaring lemah dengan bibir yang pias.
"Ibu sakit apa Karin, kenapa kau tak membawanya kerumah sakit."
"Maaf kak tapi kami gak punya uang."
"Alena kau kah itu." ujar Mirna dengan suara yang dilembutkan.
"Iya bu, ibu apa kabarnya."
"Ibu ga enak badan Alena, maafkan ibu ya selama ini sudah jahat sama kamu."
"Alena sudah memaafkan ibu dari dulu bu, ibu ke rumah sakit ya biar di beri perawatan disana."
"Tak perlu Alena, ibu juga sering berobat jalan kok nanti juga sembuh."
"Tapi Alena ga tega lihat ibu begini."
"Ibu tak apa apa Alena." Dari belakan Karin tersenyum bahagia karena rencana nya akan berhasil.
"Alena ibu minta tolong pada mu, tolong beri pekerjaan untuk Karin. Bisakah dia tinggal bersama mu disana biarkan Karin jadi pelayan yang penting Karin dapat penghasilan." Alena diam berfikir ia harus menjawab apa karena ia tak bisa memberi keputusan.
"Alena akan tanya kan dulu pada tuan Kenzo maksudnya suami Alena, Alena akan minta izin dulu padanya."
"Alena kenapa kau harus meminta izin, dia adik mu. Kau lihat keadaan kita sekarang harusnya kau bisa membawa Karin tanpa meminta izin suami mu. Kami harus bisa mengambil hati suami mu biar Karin juga bisa di terima olehnya."
Mirna mencoba meyakinkan Alena agar dia mau membawa Karin sekarang juga.
"Baiklah bu kalau gitu Alena akan membawa Karin dan dia akan tinggal disana."
__ADS_1
Akhirnya si bodoh ini menyetujui juga, lihat saja Alena setelah aku tinggal disana. Aku akan membuat suami mu jatuh cinta pada ku, dan aku akan menendang mu keluar, aku lah akan jadi nyonya di sana.