
Setelah perlakuan Kenzo semalam membuat Alena takut padanya. Diam diam ia menyiapkan keperluan suaminya lalu ia berangkat pagi pagi sebelum suaminya bangun dari tidurnya.
"Nona kenapa pagi sekali."
"Ah pekerjaanku sangat banyak bi jadi aku berangkat pagi."
"Oh iya non, hati hati di jalan ya."
"Iya bi." Alena langsung menaiki ojek yang langganan nya yang sudah menunggunya.
"Mbak tumben pagi sekali sudah berangkat, ini jam 6 masih gelap mbak."
"Ah iya aku banyak kerjaan bang."
"Mbak kenapa naik ojek terus bukannya rumah mbak sangat mewah."
"Itu bukan rumah saya bang, tapi itu rumah majikan saya."
"Oh jadi mbak kerja di dua bos gitu."
"Iya bang." tak terasa mengobrol dengan bang ojek akhirnya sudah sampau juga.
"Terimakasih bang, nanti pulang jemput lagi ya."
"Siap mbak."
Namun sesampainya di toko bunga tempat nya bekerja masih tutup karena memang jam 8 baru buka tapi ini masih jam 7 pantas saja security pun belum datang.
Lebih baik aku sarapan dulu, aku belum mengisi perutku sama sekali.
"Bang pesan nasi gorengnya 1 porsi ya."
"Iya neng ditunggu ya."
Sambil menunggu pesanan nya Alena mengeluarkan ponselnya lalu ia update story nya di ig.
"Berangkat pagi pagi demi menjauhi si harimau tanpa taring" begitulah isi story nya dengan foto ia yang sedang duduk sambil menunggu nasi goreng. Banyak yang mengomentari nya di story Alena karena kecantikannya yang alami membuat banyak orang menyukainya.
"Masa ada harimau tanpa taring"
"Hai cantik"
"Manis sekali dirimu, boleh kenal ga"
"Boleh aku temenin ga"
Banyak pria yang mengomentari story nya namun tak ada satu pun yang ia balas.
__ADS_1
"Ini neng nasi goreng nya."
"Makasih bang." Alena dengan lahap menikmati nasi goreng, ia tak peduli dengan Kenzo yang mungkin akan marah padanya karena sudah berangkat lebih dulu.
"Bi Alena mana?" tanyanya pada pelayan.
"Non Alena sudah berangkat tadi pagi tuan sekitar jam 6."
"Pagi pagi sekali dia berangkat."
"Saya juga tidak tau tuan."
Rupanya dia menghindari ku, awas saja kau Alena.
Kemudian ia berangkat ke kantor tanpa sarapan dulu, biasanya jika ada Alena ia selalu sarapan bersama entah kenapa pagi ini ia gak mood.
"Bram pagi ini Alena menghindari ku."
"Memang nya kenapa tuan."
"Dia selalu mengatai ku, aku baru menemui wanita seperti dia yang berani padaku."
"Mungkin memang sikapnya seperti itu tuan."
"Kau tau kan aku tak suka dibantah."
***
"Alenaaa, tumben sekali kamu sudah disini." teriak Sindy dengan menepuk pundak Alena.
"Ya ampun Sindy bisa ga sih jangan mengagetkan ku kaya gini."
"Lagian aku terkejut lihat kamu sudah ada disini."
"Biasa aja kali Sin."
"Ya udah yuk masuk." mereka berdua pun masuk dengan bergandengan tangan, kemudian merangkai bunga untuk pesanan yang akan di kirim.
"Ngomong ngomong kemarin kamu di jemput sama majikan mu ya."
Iya Sin, kebenaran saja perusahaannya lewat sini."
"Oh gitu, ko majikan mu tampan ya, kalau aku kerja disana pasti sangat betah."
"Ada ada aja kamu Sin, majikan ku lumayan galak tiap hari suka marah marah makannya aku kerja kesini lagi biar ga bertemu dengan dia terus."
"Oh iya Alena, denger denger adik tiri mu sedang mengandung." rumah Sindy dan orang tua Alena sangat berdekatan jadi Sindy tau kemarin mendengar cekcok di rumah orang tuanya Alena, ia sempat mengintip dan mendengarkan pembicaraan mereka tentang kehamilan Karin.
__ADS_1
"Apa maksud mu, Karin belum menikah."
"Tapi aku mendengar dia hamil, katanya sih di hamilin sama kakek tua."
Apa mungkin iya benar kalau Karin sedang mengandung karena waktu itu aku melihat Karin jalan sama bapak tua.
"Biarkan saja lah, aku tak peduli lagi dengan keluarga ku yang sudah jahat sama aku."
"Iya bener Alena kamu harus tegas kaya gini jangan kaya dulu gampang di tindas."
Rendi yang baru saja datang langsung menimpali ucapan mereka berdua.
"Tolong rangkai bunga mawar putih, buat tamu yang baru saja datang."
"Siap pak Rendi."
"Oh iya Alena kamu yang buatin rangkaian nya karena mereka ingin rangkaian bunga buatan kamu."
Alena bingung kenapa harus dia yang merangkai sedangkan disini ada Sindy dan karyawan lainnya.
"Tapi pak kenapa harus aku."
"Saya juga tidak tau mungkin orang itu mengenal mu Alena." kemudian Rendi memasuki ruangan nya.
"Eh Alena sepertinya orang kaya yang memesan bunga itu, coba kamu lihat ke depan." Alena pun penasaran ia melihatnya ke depan sana membuatnya seketika terkejut dengan kedatangan dua orang pria yang berbaju serba hitam.
Tuan Kenzo dan Bram ngapain dia kesini.
"Pagi tuan, tunggu sebentar ya rangkaian bunga nya sebentar lagi selesai." Kenzo tersenyum sinis pada Alena, membuat Alena takut dan salah tingkah.
"Alena siapa dia."
"Di dia majikan ku Sin."
Sialan dia tak mengakui ku sebagai suaminya, awas saja kau Alena.
"Ah rupanya majikan mu, selamat pagi pak saya temannya Alena." ujar Sindy pada Kenzo dan juga Bram namun di antara mereka tak ada yang menjawabnya membuat Sindy salah tingkah dibuatnya.
"Ah saya permisi dulu." Sindy menarik tangan Alena kebelakang.
"Alena majikan mu sangat dingin, sepertinya mereka manusia sombong."
"Ya begitulah Sin."
Mampus aku, pasti nanti dia akan menghukum ku lagi, Semoga saja tidak.
Tanpa mengucapkan apapun, Kenzo dan Bram langsung pergi setelah menerima bunga yang sudah di pesan nya.
__ADS_1
"Bram nanti pulang aku akan menghukumnya, dia selalu membuatku marah." Bram tak menjawabnya ia fokus mengemudi, ia tau apa yang di maksud tuannya.