
"Ga ada yang perlu nenek ceritakan tentang kamu axa. apapun yang terjadi kamu tetap cucu kami, suatu hari nanti kamu akan tau sendiri" hanya itu jawaban dari nenek marni. nol..nol besar ga da hasilnya.
cuaca mulai terang ketika ku tinggalkan rumah nenek marni mungkin ini sudah pukul 09:00 anak-anak kecil mulai berlarian di jalan, petani bercaping mulai pun mulai terlihat di kebun teh milik nenek marni.
keluarga Ibuku memang pewaris kebun teh ini. namun tetap saja aku dan adik-adikku merasakan hidup pahit, mungkin kopi tanpa gula lebih nikmat untuk di seruput dari pada hidup ku dan adik-adikku.
"kirim dia ke kakakmu, aku ga mau hidupku dan anak-anak kita jadi sial.lihat Ibumu apa yang Ibu dapat dari mengurusnya? sakit....sakit yang parah, aku ga mau kalo harus senasib dengan Ibumu" lagi...lagi...dan lagi ku dengar keluhan tanteku tentang aku....air mata yang kutahan sudah tak terbendung lagi. kulangkahkan kakiku ke dapur tempat teraman ....setidaknya itu menurutku....
"sabar non axa, tantemu itu tidak berpendidikan, dia bicara seenaknya sendiri, sifatnya jelek, kuno" ku rasakan tangan bik mar mengelus kepalaku yang tertunduk karna beratnya air mata...
"bik....apa benar aku anak haram? apa semua yang di katakan tante itu benar bik?"
__ADS_1
"hanya orang bodoh yang bicara seperti itu non, ga ada anak haram di dunia ini non.tenanglah ada Allah bersamamu non" aiih bahasa bik mar sangat enak sekali di hati.
siang ini rumah sangat sepi...sepiii sekali, aku harus mencari rahasiaku sendiri..batinku, ruang kerja omku....ya ruang kerja itu....pasti ada rahasia di sana. pertama tama aku harus bicara dengan bik mar, dia harus mau dan wajib membantuku.
"bik....bibiiiii....bantu aku bik, jaga pintu ruang kerja om. aku akan mencari sesuatu"
"Jangan non....jangan, nanti om non bakal meledak....bibi mohon non"
"jaga sini bik...kalo ada yang datang beri kode apa kek ....ya bi...please bi"
kuedarkan pandanganku ke seluruh ruangan itu... banyak fotoku dan nenek di sana. dan ada foto laki-laki yang tak pernah aku lihat sepanjang hidupku...aaakh apa perduliku. ku buka semua laci hasilnya Nol...zero....astagfirullah....di mana lagi harus aku cari rahasia itu. Peluhku berseluncur aman di sekujur tubuhku padahal ac ruangan tidak mati. Inilah rasanya jadi pencuri amatir. Rak buku....ya rak buku di film-film rak buku jadi tempat rahasia teraman.
__ADS_1
Baru saja aku memegang satu buku terdengar suara siulan bik mar...aku tahu aku dalam bahaya...jik om tau pasti akan ada ledakan. apalagi jika tante lidya yang memergokiku bisa di tuduh macam - macam aku.
"hayo bik....kit ke dapur"
"dapet apa non?"
"zong bik.....oh ya tadi siapa yang pulang bik?"
"mang harun non....maaf non bibi udah ketakutan"
"ah bibi....ya sudahlah bik....besok lagi kita usaha" kutinggalkan bibik dengan sejuta pertanyaan di otak bibi....biarin deh bibi mar sibuk dengan fikirannya sendiri...salah bibi lah....hampir saja aku berhasil
__ADS_1